Mohon tunggu...
Reza Ashari
Reza Ashari Mohon Tunggu... Pribadi

“Read a thousand books, and your words will flow like a river" (Lisa See) asharireza29@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Keterkaitan antara Infrastruktur Hijau dan Kesehatan Masyarakat

3 Juni 2020   14:45 Diperbarui: 3 Juni 2020   14:37 15 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Keterkaitan antara Infrastruktur Hijau dan Kesehatan Masyarakat
Sumber : Tony Matthews, 2015

Pemanasan global menjadi isu lingkungan yang termasuk SDGs (sustainable Development Goals).  Dampak pemanasan global ini dapat berpengaruh besar terhadap kelangsungan kehidupan di muka bumi serta ekosistem.

Dalam 100 tahun terakhir suhu rata-rata global permukaaan bumi mengalami peningkatan sebesar  0.74 0.18 C (1.33 0.32 F). Sumber utama dari terjadinya pemanasan global adalah efek rumah kaca dan polutan dari gas emisi CO2. Selain itu, pemanasan global dapat meningkatkan pencairan es sehingga level air laut menjadi naik, penyakit saluran pernapasan menjadi meningkat akibat dari tinggi nya polutan serta dapat menyebabkan kerusakan hutan.

Untuk itu, setiap negara perlu merancang perencanaan infrastruktur hijau untuk mengurangi terjadinya pemanasan global pada suatu kota atau negara. Menurut Tony Mattews, infrastruktur hijau mengacu pada fitur lingkungan dan jaringan strategis dalam melakukan rancangan terhadap pemanfaatan lingkungan untuk mencapai keuntungan secara sosial dan ekonomi.

Contoh dalam infrastruktur ini adalah penanaman pohon di sepanjang jalan, dinding-dinding yang ditanamai tanaman, dan permukaan permeabel. Selain itu, manfaat dari infrastruktur hijau ini adalah mengurangi suhu panas, bangunan ramah lingkungan dan meningkatkan manajemen pertukaran udara. Kemudian Tony Matthews,2015 membuat konsep infrastruktur hijau dalam mengurangi terjadinya perubahan cuaca.

Perencanaan kota hijau ini dapat mereduksi terjadinya perubahan cuaca dan kerusakan ekosistem. Pada tahun 2018, menurut Stephen Leahy dalam National Geographic menyatakan bahwa lebih dari 75 persen area permukaan bumi mengalami kerusakan. Pada tahun 2050, kerusakan ini akan meluas menjadi 95 persen bila tren kerusakan hutan terus naik.

Menurut zuniga teran,et all,2018,ada 5 kunci dalam peningkatan efektifitas perencanaan kota hijau yaitu standarisasi desain/model, perhitungan sosio-ekonomi, keuangan, dasar hukumdan inovasi.

Di Indonesia, perencanaan kota hijau ini sudah disusun oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas). Berdasarkan data pada Kementerian PUPR, baru 13 dari 174 kota di Indonesia yang mengikuti program kota hijau dan mempunyai ruang terbuka hijau 30 persen atau lebih.

Faktor yang menjadi rendahnya rendahnya ruang terbuka hijau ini ada 3 yaitu minimnya lahan yang dimiliki pemerintah setempat untuk dikembangkan RTH, pemerintah tak memiliki dana untuk menambah ruang terbuka dan pembelian lahan untuk dirubah menjadi ruang terbuka hijau menjadi tidak gampang. Permasalahan dana ini menjadi hal yang lumrah, mengingat kemampuan keuangan di setiap daerah di Indonesia tidak sama. Menurut Hutts dan Hahn (2015), infrastruktur kota hijau ini berkaitan dengan peningkatan kualitas kesehatan dan  jasa ekosistem (ecosystem services). Konsep teori ini digambarkan sebagai berikut

kesehatan-dan-green-5ed7536ed541df23f24e1433.jpg
kesehatan-dan-green-5ed7536ed541df23f24e1433.jpg

Sumber: hutts dan Hahn (2015)

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa jasa ekosistem dan kesehatan berperan penting dalam infrastruktur kota hijau dan mengurangi terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh perubahan cuaca (climate change). Menurut WHO, ada beberapa penyakit yang disebabkan oleh perubahan cuaca ini seperti TB, HIV/AIDS, malaria, DBD, dan kolera. Untuk mengatasi ini,maka pemerintah harus membuat kebijakan prioritas dan alokasi anggaran untuk penanganan lingkungan hijau sehingga dapat mengurangi pembiayaan dari sektor kesehatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN