Mohon tunggu...
M. Nabil Dhiyaulhaq Dzkrulloh
M. Nabil Dhiyaulhaq Dzkrulloh Mohon Tunggu... keterangan

bio

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Atasi Permasalahan Petani Jamur dengan "Bangker Pintar" UMY

1 Juli 2019   13:28 Diperbarui: 1 Juli 2019   13:41 0 1 0 Mohon Tunggu...
Atasi Permasalahan Petani Jamur dengan "Bangker Pintar" UMY
dokpri

Kabupaten Sleman merupakan salah satu sentra produksi jamur tiram di Indonesia. Akhir-akhir ini beberapa petani mengeluhkan tingginya tingkat kegagalan usahatani, salah satunya kelompok Budidaya Jamur Gamol, Balecatur, Sleman. Tingkat kontaminasi media jamur tiram pada Kelompok Budidaya Jamur Gamol mencapai 50% dan produktivitasnya hanya setengah dari produktivitas normal. 

Penyebab kegagalan usaha tani jamur tiram kelompok adalah penggunaan alat pasteurisasi media jamur tiram yang kurang efektif sehingga media jamur tiram tidak matang. Alat yang digunakan terdiri dari ruang pasteurisasi yang tidak rapat dan tungku kayu sederhana. Kelompok budidaya Jamur Gamol terpaksa menggunakan alat tersebut, karena alat pasteurisasi yang standard harganya mencapai ratusan juta rupiah sehingga alat tersebut tidak terjangkau bagi kelompok.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapat Teknologi (PKM-T) menciptakan alat pasteurisasi inovatif yang terjangkau dan efektif. Keempat mahasiswa tersebut yaitu Afrio Darmawan (mahasiswa Agribisnis), M. Nabil Dhiyaulhaq Dzikrulloh (mahasiswa Teknik Mesin), Maki Lukmanul Hakim (mahsiswa Agroteknologi) dan Marbudi (mahasiswa Agribisnis). Alat tersebut dinamai "Bangker Pintar". Bangker pintar merupakan alat pasteurisasi berbentuk silinder berdiameter 1,2 meter berbahan besi setebal 4mm.

Proses pembuatan bangker pintar dilakukan selama 3 minggu. Alat tersebut secara resmi dihibahkan untuk Kelompok Budidaya Jamur Gamol pada Selasa, 18 Juni 2019. Dengan menggunakan bangker pintar biaya pasteurisasi yang sebelumnya  Rp 300.000 dapat diperkecil menjadi hanya Rp 110.000. Disamping itu diproyeksikan hasil yang diperoleh semula hanya 160 kg dapat meningkat menjadi 332,5 kg. Dengan demikian diproyeksikan keuntunganya meningkat dari Rp 607.500/musim tanam menjadi 2.695.000/musim tanam. Pak Suparman selaku ketua kelompok masyarakat merasa senang karena setelah adanya alat tersebut biaya pasteurisasi semakin rendah dan resiko kegagalan semakin kecil sehingga keuntungan yang diperoleh semakin besar.