Mohon tunggu...
Kesehatan Pilihan

Nabilah Nurul Islami

14 Agustus 2018   19:48 Diperbarui: 14 Agustus 2018   20:09 170 0 0 Mohon Tunggu...

Isu Kedokteran-Benarkah Membaca di Tempat Redup Merusak Penglihatan?

Selama ini, sering kita temui pendapat bahwa membaca di tempat dengan pencahayaan yang tidak memadai sangat berbahaya karena dapat merusak mata. Banyak masyarakat mengeluhkan, kurangnya pencahayaan memperburuk penglihatan mereka. Sebuah penelitian Dr. Donald C. Fletcher, M.D. telah membuktikan adanya pengurangan ketajaman penglihatan yang cukup signifikan dengan berkurangnya intensitas cahaya di suatu ruangan. Penelitian ini dilakukan dengan menguji dua puluh orang subjek berpenglihatan normal untuk membaca Snellen's letter chart yang berjarak satu meter di ruangan dengan pencahayaan normal dan redup. Hasilnya, pengurangan intensitas cahaya sebesar empat persen saja terbukti sudah cukup untuk memengaruhi pengurangan ketajaman penglihatan.1

Meskipun begitu, tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa membaca di tempat redup dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata. Membaca di tempat dengan pencahayaan buruk memang dapat membuat mata lebih cepat lelah. Ketika intensitas cahaya yang masuk ke mata rendah, pupil mata akan membesar dan lebih sulit untuk memfokuskan penglihatan. Otot-otot mata perlu berkontraksi untuk memfokuskan penglihatan dan akhirnya membuat mata menjadi lelah. Saat hal ini terjadi, biasanya akan timbul serangkaian gejala seperti konjungtivis, yaitu iritasi mata yang ditandai mata berair dan konjungtiva berwarna merah, kepala terasa sakit, penglihatan ganda, menurunnya ketajaman penglihatan, mata terasa berat dan sulit dibuka, penglihatan kabur, sulit fokus, muncul kilatan cahaya saat menutup mata, mata terasa panas dan kering, serta kotoran mata bertambah. Gejala-gejala ini dikenal dengan gejala astenopia atau gejala mata lelah. Banyak masyarakat awam yang salah mengartikan kumpulan gejala astenopia ini sebagai tanda kerusakan permanen pada mata. Padahal, kelelahan pada mata akibat kurangnya pencahayaan ini bersifat reversible atau dapat pulih kembali hanya dengan memberikan waktu yang cukup untuk mata beristirahat.2

Terdapat sumber literasi yang menyebutkan kontraksi otot mata akibat membaca di ruangan dengan cahaya redup dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Akan tetapi, pernyataan tersebut tidak di dukung dengan bukti berupa data hasil penelitian yang jelas sehingga perlu dipertanyakan validitasnya. Ditambah lagi, peneliti yang menulis literasi tersebut bukan merupakan seorang ahli dalam bidang medis.3 Penelitian pengaruh membaca pada ruangan dengan kondisi pencahayaan yang bervariasi terhadap subjek emetropi atau bermata normal dan miopi atau rabun jauh juga pernah dilakukan untuk mengukur panjang sumbu aksial mata dan mengetahui pengaruh membaca pada kondisi ruangan redup terhadap gangguan kesehatan mata. Subjek, baik yang bermata normal, maupun yang menderita rabun jauh, diminta membaca selama 15 menit dalam ruangan yang kondisi pencahayaannya pun bervariasi. Hasilnya, terbukti bahwa tidak terdapat perbedaan panjang sumbu aksial mata setelah menguji variabel perbedaan kondisi pencahayaan ruangan. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca dalam ruangan yang redup tidak memperbesar kemungkinan seseorang menderita penyakit miopi atau rabun jauh. 4

Jadi, opini masyarakat terkait membaca di tempat dengan pencahayaan kurang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata, seperti miopi adalah mitos yang hingga saat ini belum dapat dibuktikan kebenarannya. Opini ini berkembang berkenaan dengan munculnya gejala astenopia setelah membaca di tempat redup yang disalahartikan sebagai kerusakan permanen pada mata. Akan tetapi, faktanya membaca di tempat redup dapat membuat mata tidak nyaman akibat gejala astenopia yang telah dijelaskan sebelumnya. Meskipun gejala ini dapat pulih kembali setelah mata cukup beristirahat, akan lebih baik untuk mencegah terjadinya kelelahan pada mata. Oleh karena itu, dianjurkan untuk membaca di tempat yang memiliki pencahayaan memadai agar penglihatan lebih mudah fokus, penurunan ketajaman penglihatan tidak terjadi, mata lebih nyaman dan tidak cepat lelah.1

REFERENSI

 

  1. Renninger LW, Hamilton D, Fletcher DC. Effect of Decreased Lighting on Visual Acuity in Normal Subjects. ARVO Annual Meeting Abstract [Internet]. 2013 Juni [cited: 2018 Aug 8]; 54(1): 2752. Available from: https://iovs.arvojournals.org/article.aspx?articleid=2147473&resultClick=1
  2. Nugroho HDE. Pengaruh Intensitas Penerangan Terhadap Kelelahan Mata pada Tenaga Kerja di Laboratorium PT.Polypet Karyapersada Cilegon [skripsi]. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret; 2009.
  3. Rahmayanti D, Artha A. Analisis Bahaya Fisik: Hubungan Tingkat Pencahayaan dan Keluhan Mata Pekerja pada Area Perkantoran Health, Safety, and Environmental (HSE) PT. Pertamina RU VI Balongan. Jurnal Optimasi Sistem Industri [Internet]. 2015 Apr [cited: 2018 Aug 8]; 14 (1): 71-98. Avilable from: http://repo.unand.ac.id/4589/1/Analisis%20Bahaya%20Fisik-%20Hubungan%20Tingkat%20Pencahayaan%20dan%20Keluhan%20Mata%20Pekerja%20pada%20Area%20Perkantoran%20Health%2C%20Safety%2C%20and%20Environmental%20%28HSE%29%20PT.%20Pertamina%20RU%20VI%20Balongan.pdf
  4. Gwiazda J, Chu E. The effect of light intensity and accommodation on short-term axial length changes in myopes and emmetropes. ARVO Annual Meeting Abstract [Internet]. 2013 Jun [cited: 2018 Aug 8]; 54 (1): 5699. Available from: https://iovs.arvojournals.org/article.aspx?articleid=2150673&resultClick=1  

 

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x