Mohon tunggu...
Muhammad Nabhan Fajruddin
Muhammad Nabhan Fajruddin Mohon Tunggu... Petualang Ilmu

Mahasiswa di UIN Walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menghidupkan Filosofi Jawa "Nerimo ing Pandum"

17 Maret 2021   16:54 Diperbarui: 17 Maret 2021   16:53 214 3 0 Mohon Tunggu...

Nerimo ing pandum merupakan sebuah filosofi berkehidupan dari budaya jawa yang menyerukan untuk bersyukur kepada Tuhan atas apa yang di milikinya. Filosofi ini menjadi bukti bahwa orang jawa memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi. Dalam buku  Tasawuf Jawa disebutkan bahwa orang jawa sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa sudah memiliki spiritulaitas yang tinggi, namun spiritualitas mereka kepada arwah maupun pohon-pohon yang biasa di kenal dengan animisme dan dinamisme. Sudah adanya konsep spiritualitas tersebut memudahkan para wali songo untuk memasukan ajaran-ajaran ke-Islam-an melalui budaya dan kultur sehingga Islam diterima dengan baik di Jawa.

Filosofi nerimo ing pandum berarti sikap penerimaan secara penuh pada hal yang telah berlalu, yang berlangsung sekarang, dan berbagai kemungkinan di masa depan. Bila dikaitkan dengan ajaran Islam maka anjuran untuk bersyukur kepada Tuhan dengan segala qodho qodar-Nya yang menjadi rukun Iman yang ke-6. Sinergi filosofi Jawa dan Islam merupakan sesuatu yang menegaskan bahwa nerimo ing pandum merupkan salah satu landasan hidup yang seharusnya di tanamkan pada karakter manusia pada umumnya.

Istilah atau filosofi jawa yang berarti memerima segala hal yang sudah lalu, masa sekarang, dan kemungkinan yang akan datang. Nerimo ing pandum bagi masyarakat modern sedikit terlupakan, karena hiruk pikuk kehidupan modern yang serba glamour, mewah, serta mengutamakan gengsi. Rasa legawa dan menerima berbagai keadaan yang di berikan Tuhan cenderung menjadi rasa tidak puas, keserakahan, dan hedonisme. Ketiga hal tersebut terjadi karena masyarakat modern di berbagai kalangan baik kaya maupun miskin terlalu memikirkan ke-aku-an yang menyebabkan timbulnya sikap egois sehingga cenderung tidak legawa. 

Berangkat dari ke-egois-an maka akan timbul keserakahan dan tidak pernah merasa puas, karena terus menuruti jiwa ke-aku-an yang di dasari dengan nafsu di hati mereka.  Dampak tidak tertanamnya filosofi nerimo ing pandum menyebabkan mereka tidak mensyukuri apa yang Tuhan berikan yang kemudian muncul gejolak iri dan dengki di hati mereka. Idiom  yang tepat untuk masyarakat modern ini adalah "banyak orang yang susah melihat orang yang lain senang, dan senang melihat orang lain susah." Realita yang ada adalah rasa kecemburuan sosial merajalela, banyak orang saling cemburu satu sama lain atas apa yang di milliki satu sama lain.

Masyarakat modern yang berada pun tidak puas dengan hanya mempunyai mobil satu mereka harus memiliki dua atau tiga mobil.  Para penguasa tak cukup dengan satu jabatan yang gajinya berlimpah, mereka rela memakan uang yang bukan haknya sehingga timbul korupsi. Menjadi mengherankan juga munculnya masyarakt modern menengah kebawah tidak puas juga ketika bisa membeli pakaian, makanan, sandal, sepatu, kaos kaki, makeup dan lain sebagainya yang murah dan sudah berfungsi sebagaimana fungsi barang yang diinginkan, mereka cenderung ingin membeli barang yang berlabel, bermerek, bernilai gengsi tinggi. Mereka juga rela berhutang demi mendapatkan barang brandid, bermerek, dan bernilai gengsi tinggi hanya untuk memenuhi nafsu ke-gengsi-an belaka.  Padahal ada sebuah kalimat bijak "gunakan barang berdasarkan fungsinnya, bukan berdasarkan gengsi yang tinggi."

Realitas di atas menjadi sebuah realita yang ada pada masyarakat modern yang jauh akan spiritulaitas kepada Tuhan. Realitas dan karakter yang tertanam pada msyarakat modern jauh dari filosofi istilah jawa nerimo ing pandum. Alternatif dalam menanamkan filosofi nerimo ing pandum selain dari kesadaran diri sendiri, kekuatan Iman dan spiritualitas adalah hidup sederhana sesuai porsi dan fungsinya, selain itu harus menyadari bahwa manusia pasti mati dan semua hartanya akan ditinggalkan. Ada sebuah kalimat yang mengatakan bahwa "hidup di dunia hanya transit sebentar untuk minum." Dengan berbagai alternatif di atas maka jiwa spiritualitas sebagaimana filosfi Jawa nerimo ing pandum akan menjadikan kultur tersebut akan kembali tertanam pada masyarakat modern. Dalam Islam bersyukur kepada Tuhan bagaimanapun keadaan kita, merupakan suatu hal yang harus di tanamkan sebagai wujud keimanan kepada qadha dan qadar. Kebudayaan yang baik akan tetap menjadi sebuah kebaikan dan akan menciptakan kestabilan dalam kehidupan bermasyarakat, mari kita gaungkan filosofi yang menjadi sebuah identitas budaya kita yakni nerimo ing pandum

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x