Budi Hartono
Budi Hartono

Lahir dari keluarga sederhana. Menjalani masa kecil di Jakarta, bersekolah di Yogya dan kuliah sampai akhirnya tinggal di Bandung. Mengagumi Bapak (alm) yang sanggup melihat masa depan yang lebih baik...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Reuni 212, Panggung Para Habib

7 Desember 2018   16:43 Diperbarui: 7 Desember 2018   17:17 72 0 0
Reuni 212, Panggung Para Habib
para habib di reuni 212 (Front TV)

Banyak keajaiban ketika Reuni 212 berlangsung 2 Desember lalu. Sebagian besar sudah dibahas di berbagai media, bahkan menjadi topik diskusi panas di ILC TVOne.

Bagi saya, kejadian Reuni 212 memang layak menjadi pembahasan serius di banyak tempat, di banyak komunitas, di banyak pemerhati sosial dan politik. Tapi tulisan ini tidak membahas hal-hal itu semua. Saya menulis sesuatu yang bisa jadi belum dicermati dalam banyak pembahasan yang telah ada.

Ada berapa banyak pembicara di Reuni 212? Banyak. Saya tidak sempat menghitung semuanya. Dari banyak pembicara itu, yang menarik bagi saya adalah kuatnya dominasi para habib dalam panggung Reuni 212. Kalau pun bukan habib, paling tidak ulama berdarah Arab. Itu yang saya cermati.

Sebut saja Ustadz Haikal yang sudah jelas berdasar Arab. Lalu ada juga Habib Hanif dengan pindatonya yang lantang. Disusul juga oleh Habib Bahar yang sedang tersandung masalah. Puncaknya, tentu saja Habib Rizieq yang memberikan pidatonya dari seberang lautan nun jauh di Arab sana.

Ada apa dengan para habib ini? Mengapa begitu banyak habib berkumpul dalam momen yang dimotori oleh para ulama dalam garis FPI? Apakah ulama-ulama lain tidak mengambil bagian dalam panggung Reuni 212? Memang ada Tengku Zulkarnain dalam momen itu.

Kalo dulu ada Aa Gym, Reuni 212 terakhir Aa Gym tidak hadir karena bentrok dengan agenda internal pesantrennya. Sementara ulama dari kalangan non habib lainya adalah Ustadz Bachtiar Nasir dan Al Khattat. Meskipun banyak ulama selain habib, aura para habib tampak lebih mendominasi panggung Reuni 212.

Akankah ini pertanda para habib mulai masuk dalam ranah politik yang lebih dalam? Bisa jadi demikian. Para habib hadir memberikan warna lain dari suasana politik Indonesia melalui Reuni 212. Tidak tanggung-tanggung, pimpinan de facto dari semua ini adalah Habib Rizieq yang memberikan komando secara langsung dari tempat nun jauh di sana, yang komandonya sampai dengan seketika karena bantuan teknologi...

Apakah ini pertanda baik atau buruk? Tergantung sisi mana kita melihatnya...Dalam alam demokrasi, semua kemungkinan bisa saja terjadi sepanjang publik mengijinkannya.

Bagaimana menurut Anda?