Mohon tunggu...
Mutiara Khadijah
Mutiara Khadijah Mohon Tunggu... Writer -

Psikologi | Foundily Indonesia | Blood for Life Chapter Bandung | Mentality Health Indonesia | Beswan #29 | #SadarIndonesia

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Mendefinisikan "Cinta" Secara Ilmiah (Artikel #Request)

11 Maret 2015   23:08 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:47 382
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Artikel saya kali ini adalah bentuk tebusan atas janji saya pada teman.

Mengartikan cinta secara ilmiah.

[caption id="attachment_402123" align="aligncenter" width="500" caption="Is It Really Love? Maybe. (sumber :menshealth.hu)"][/caption]

Mungkin sudah lama sekali saya menjanjikan itu dan lupa. Sekarang, saat saya ditagih, saya justru terfiksasi. Buka macam-macam buku Psikologi yang ada; mulai dari Psikologi Sosial sampai Intimate Relationships, bahkan baru saja buka referensi baru The Meaning of Love. Tapi, kenyataannya adalah saya tidak bisa berhasil menemukan penjelasan yang begitu ilmiah tentang definisi cinta.

So, what do you all define love?

Apakah ketika Anda tidak bisa tidur, malas makan, tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya terokupasi pada pikiran soal dia? Atau ketika Anda merasakan dia adalah kepingan puzzle yang paling pas untuk melengkapi hidup Anda? Apa yang sebenarnya Anda rasakan saat mengatakan ‘I love you’ pada orang yang Anda sayang?

It will depend.

Menurut Irvine Singer, “Love is not a single or uniform condition”. Banyak hal yang membuat definisi cinta itu berbeda bagi setiap manusia di bumi ini. Bahkan bagi orang yang memiliki gangguan abnormalitas kejiwaan sekali pun. Setiap spesies di bumi ini memiliki penghayatan yang berbeda-beda soal cinta. Bagi orang Yunani di awal peradaban, cinta itu bentuk ketertarikan dan ‘kegilaan’ atau madness yang tidak harus selamanya bermuara pada pernikahan. Beda lagi dengan orang Indonesia yang sangat mensakralkan pernikahan sebagai bentuk pelabuhan cinta. Dan bagi Anda yang sudah baca novel kontroversial 50 Shades of Grey, cinta itu berarti kepuasan untuk mengendalikan dan dikendalikan orang lain secara seksual seperti Christian Grey pada Annastasia Stelle.

But, that is love and it happens.

Sebenarnya, ada salah satu cara untuk menemukan definisi cinta, untuk tahu apa sebenarnya perasaan yang sedang kita alami pada seseorang. Yakni dengan menguraikan elemen di dalamnya. Salah satu teori elemen cinta yang menghantarkan kita pada tipe-tipe cinta datang dari Robert Sternberg. Menurutnya, dalam sebuah cinta itu mungkin akan ada satu atau lebih dari 3 elemen ini: Intimacy, passion, dan commitment.

Saat kita merasa dekat secara emosional, merasa nyaman, mendukung dan mendapatkan dukungan perhatian darinya, itu yang namanya intimacy. Sedangkan ketika kita mengalami keterbangkitan secara seksual, butterfly in your belly, dan gairah untuk melakukan sentuhan fisik, itu yang disebut dengan passion. Dan ketika kita sudah memutuskan untuk bersama dan berhenti mencari, berarti kita sudah sampai pada komponen commitment.

Apakah cinta itu harus memiliki ketiga komponen di atas?

This is what will define your type of love.

Mari kita bahas satu persatu. Ketika ketiga komponen di atas tidak hadir, maka sederhana, tidak akan ada yang namanya cinta. Atau menurut Sternberg disebut dengan Nonlove. Sama sekali tidak ada perasaan satu sama lain.

Lalu apa yang terjadi jika kita dekat secara emosional namun passion dan komitmennya tidak ada? Yang terjadi hanyalah naksir semata. Tidak ada passion dan tidak ada komitmen di antara mereka. Biasanya perasaan jenis ini disebut liking dan hanya ditemukan pada pertemanan biasa. Jadi, hanya sebatas nyaman secara emosional saja.

Ada juga yang hanya memiliki gairah passion tinggi, namun tanpa adanya kenyamanan emosional dan komitmen. Biasanya tipikal perasaan ini tumbuh pada orang yang baru kita kenal dan menarik secara fisik. Misalnya, Anda bertemu dengan rekan kerja atau kuliah yang menarik, Anda merasakan listrik-listrik aneh dalam diri Anda begitu dekat dengannya. Itu yang namanya Infatuation.

Selanjutnya, jika Anda pernah baca atau nonton FTV soal cowok dan cewek yang terpaksa menikah karena urusan formal. Misalnya dalam film The Proposal. Tidak ada kenyamanan emosional, tidak ada passion, hanya komitmen. Ini yang disebut dengan Empty love.

Sekarang kita akan move ke level kombinasi elemen cinta yang lebih jauh.

Pernah mengalami cinlok karena ikut kepanitiaan selama berbulan-bulan atau dekat dengan teman KKN atau Anda ditugaskan bersama rekan kerja lain ke luar kota selama berbulan-bulan? Inilah yang dinamai Romantic Love. Salah satu jenis cinta yang cukup banyak jadi bahasan. Kondisi perasaan ketika passion dan intimacy tinggi, namun tanpa komitmen.

[caption id="" align="aligncenter" width="536" caption="Is It Really Love? Maybe. (sumber :menshealth.hu)"]

Is It Really Love? Maybe.
Is It Really Love? Maybe.
[/caption]

Lalu, ada juga jenis companionate love adalah jenis cinta yang cukup eternal atau abadi. Biasanya ada pada pasangan-pasangan yang sudah renta. Dimana komitmen dan kenyamanan emosional mereka masih terjaga namun passion sudah berkurang seiring waktu. Can you give the example?

Kemudian, apa jadinya jika ada dua orang yang menikah atau berkomitmen, namun hanya karena ketertarikan seksual dan fisik yang terburu-buru? Highly risk in divorce. Menurut saya, tipe Fatuous love adalah tipe yang paling rentan untuk bercerai. Cinta semu. Hanya suka di permukaan namun tidak menemukan kelengkapan emosional. Ini bahaya.

Dan yang paling terakhir adalah jenis cinta yang diidamkan mahluk manapun. Ketika ketiga elemen di atas lengkap. Komitmen oke, kenyamanan emosional ada, dan passion tetap terjaga sehingga tidak ada fantasi-fantasi liar bersama sosok lain. Jenis perasaan yang jelas butuh waktu lama untuk menemukan dan menjaganya. Meskipun tidak mustahil ada. Consummate love. Cinta paket lengkap.

Well, itulah sedikit yang saya uraikan secara ilmiah tentang cinta.

Sudah agak terbayang perasaan apa yang Anda miliki padanya? Tapi kembali lagi, sama halnya dengan life lessons lainnya, only by experiencing and swimming into it, we can define the true meaning of love. Jadi, selamat mencintai diri sendiri dan orang lain!**

Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun