Mohon tunggu...
Mutia AH
Mutia AH Mohon Tunggu... Penyuka fiksi

Fiksi adalah petualangan tanpa batas. Menulis fiksi bukan berarti mendramatisir kehidupan, tetapi mencari hikmah dari setiap kejadian.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Hamil dan Menyusui Bukan Halangan Menjalankan Ibadah Puasa (Hukum dan Tips Aman)

8 April 2020   06:20 Diperbarui: 8 April 2020   06:50 24 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hamil dan Menyusui Bukan Halangan Menjalankan Ibadah Puasa (Hukum dan Tips Aman)
Sumber gambar Pixabay

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa." QS. Al-Baqarah 183

Pada dasarnya hukum puasa adalah wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah yang sudah baligh, berakal, tidak sakit, tidak dalam perjalanan. Lantas bagaimana bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui, berbahaya kah buat janin?

Bagi wanita yang tidak haid dan nifas sudah tentu wajib dengan ketentuan menggantinya (khodo) di bulan lainnya.

Apa itu puasa?

Puasa artinya menahan. Menurut istilah berarti menahan dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenamnya Matahari, dengan disertai niat dan syarat rukun tertentu.

Makan dan minum adalah salah satu yang membatalkan puasa. Itu artinya kurang lebih selama dua belas jam tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Terlepas dari hukum wajib puasa, Ibu hamil dan menyusui kerap mengalami dilema saat ingin menjalankan ibadah puasa. Apa lagi kehamilan pertama atau menyusui anak pertama.

Ingin puasa, tetapi takut janin atau anaknya kenapa-kenapa?

Bagi saya pribadi saat hamil dan bertemu dengan bulan puasa, bukannya khawatir justru merasa senang. Sebab itu berarti saya bisa puasa satu bulan penuh. Karena tidak bertemu dengan tamu bulanan (haid) yang mewajibkan batal puasa.

Namun bagaimana jika tidak mampu?

Jangan dipaksakan, sebab Islam memberi keringanan. Boleh tidak berpuasa bagi ibu hamil dan menyusui.

Menurut ilmu Fiqih madzhab Imam Syafii, hukum wanita hamil atau menyusui dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Wanita Hamil dan menyusui kemudian, tidak berpuasa karena khawatir janin atau anaknya kenapa-kenapa maka ia wajib mengkhodo dan membayar fidyah.

2. Wanita hamil dan menyusui kemudian tidak berpuasa karena dirinya tidak mampu/tidak kuat berpuasa, maka ia boleh tidak berpuasa. Namun wajib mengkhodo/menggantinya di luar bulan Ramadhan saja.

Jadi perhatikan alasan kenapa tidak berpuasanya, untuk menentukan apakah wanita tersebut cukup khodo saja, atau harus khodo dan membayar fidyah.

Apa itu Fidyah?

Fidyah menurut bahasa artinya menebus.  Sedangkan menurut istilah Fidyah artinya sejumlah harta benda dengan jumlah kadar tentu yang dikeluarkan sebagai ganti ibadah yang ditinggalkan.

Besarnya fidyah ini adalah satu Mud yang setara dengan takaran satu kali makan (nasi dan lauk). Ulama berbeda pendapat mengenai satu Mud. Di sini saya kembali mengambil dari Madzhab Imam Syafii, bahwa besarnya satu Mud adalah seukuran telapak tangan dewasa saat menengadahkan doa atau 6 ons atau 675 gr.

Cara memberi fidyah ini juga bisa dalam bentuk uang, dengan standar layak satu kali makan, berupa nasi dan lauk. Biasanya Ulama setempat yang menentukan standar tersebut di sesuaikan dengan harga beras dan lauk sesuai jamannya. Sebab berat takaran ini bisa berbeda di setiap daerah, tetapi tetap berpatokan pada pengertian satu Mud.

dokpri
dokpri
Bagaimana menurut kesehatan jika ibu hamil dan menyusui berpuasa?

Setiap wanita mempunyai kondisi berbeda-beda saat hamil dan menyusui. Penting bagi para wanita untuk memperhatikan kondisi diri dan bayinya ketika ingin menjalankan puasa.

Secara umum, puasa tidaklah membahayakan janin saat hamil dan menyusui. Pada dasarnya puasa atau pun penurunan asupan kalori tidaklah mempengaruhi jumlah produksi asi. Maka dari itu perhatikan asupan makanan dengan tetap menjaga gizi seimbang saat berpuasa.

Bagaimana agar puasa tetap lancar tetapi hamil dan menyusui tetap nyaman?

Ada beberapa tips menjalankan puasa saat hamil dan menyusui, yaitu sebagai berikut:

1. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat komplek dan serat saat sahur dan berbuka, seperti gandum utuh, sayuran dan buah kering.

2. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis, sebab membuat kadar gula naik dan turun dengan cepat, hal ini akan membuat kepala menjadi pusing.

3. Mencukupi kebutuhan air. Bisa dilakukan dengan pola 2,4,2 yaitu 2 gelas saat berbuka, 4 gelas saat malam hari dan 2 gelas saat makan sayur.

4. Penuhi kebutuhan protein dengan banyak mengkonsumsi kacang-kacangan, telur, ikan, dan daging matang.

5. Hindari pekerjaan yang menguras tenaga, seperti mengangkat berat, jalan jauh dll.

6. Hindari pikiran stres, saat hamil. Bukan saat puasa saja, tetapi memang ibu hamil tidak boleh stres karena akan mempengaruhi kesehatan janin.

7. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak dan makanan instan.

8. Berikan tubuh porsi istirahat yang cukup dan jalankan puasa dengan tenang tanpa tekanan.

9. Perhatikan kondisi tubuh saat berpuasa, jika pusing, demam, muntah-muntah dan keluar keringat dingin sehingga badan lemas berlebihan, ada baiknya membatalkan puasa terlebih dahulu.

10. Perhatikan pula bagi yang sedang disusui, jika mengalami, demam, mencret ada baiknya puasanya dibatalkan.

11. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau bidan demi kebaikan dan kenyamanan sebelum menjalankan puasa.

Bagaimanapun hanya diri kita yang paling paham kondisi tubuh kita sendiri, maka perhatikan kondisi dan jaga kesehatan agar ibadah puasa tetap aman, nyaman tanpa kemudharatan.

Bekasi, 8 April 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x