Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | orang biasa |

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kemanakah Muara Manuver Politik NasDem?

2 November 2019   20:34 Diperbarui: 2 November 2019   21:07 177 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kemanakah Muara Manuver Politik NasDem?
KOMPAS.com

Pasca helatan Pemilu 2019, saat pemenang Pilpres sudah ditentukan dan perolehan suara partai politik sudah disahkan, NasDem menjadi perbincangan. Secara politik, nilai tawar dan grade NasDem lebih tinggi karena tambahan suara yang sangat signifikan.

Dari ranking 8 pada Pemilu 2014, merangsek naik ke ranking 5 pada Pemilu 2019 lalu. Menyalip perolehan suara Partai Demokrat, PKS, dan PAN. Posisinya sebagai salah satu partai koalisi pendukung Jokowi-Maruf semakin menguatkan dan memantaskan NasDem sebagai salah saru partai besar yang semakin diperhitungkan.

Partai besutan Surya Paloh itu menjadi perbincangan ketika dianggap melakukan manuver politik yang cukup kencang. Dimulai dari sebelum penentuan jatah menteri, pertemuan dengan partai koalisi tanpa PDI-P, soal Jaksa Agung, lalu hubungan Surya Paloh dengan Megawati yang diduga mulai tak harmonis lagi. Sempat terdengar kabar kalau NasDem akan keluar dari koalisi, tapi urung terjadi dan akhirnya mendapatkan tiga jatah menteri.

Terutama lagi, ketika NasDem mulai rajin melakukan pertemuan-pertemuan dengan tokoh atau partai yang (cenderung) dianggap oposisi, termasuk dengan Anies Baswedan, Partai Gerindra yang akhirnya merapat ke koalisi, dan beberapa waktu lalu dengan Partai PKS yang memilih konsisten menjadi oposisi. Rencananya, NasDem juga akan bertemu dengan PAN dan Demokrat.

Safari adalah bentuk dari silaturrahmi, tapi akan memberikan makna yang berbeda ketika itu dilakukan oleh tokoh-tokoh partai politik tertentu, terutama yang perolehan suaranya cukup signifikan. Itu rumus sederhana, tak perlu banyak mencerna. Rakyat sebagai penikmat secara otomatis akan berkata, "Pasti ada sesuatu!". Itu wajar.

Meski saat ini masih anteng di koalisi, tapi banyak pihak menduga, bahwa posisi NasDem sedang berada di persimpangan jalan sehingga mulai melirik kemungkinan untuk membuka kran komunikasi dengan pihak-pihak yang sebelumnya dipersepsikan sebagai lawan.

Indikasi itu ada, terutama melalui pertemuan-pertemuan, termasuk pertemuan Surya Paloh dengan Anies Baswedan yang tampak sebagai "dukungan" untuk Pilkada DKI Jakarta dan mungkin saja penjajakan untuk kontestasi Pilpres 2024 meski hal itu masih terlampau jauh dipikirkan.

Rupanya, suara keras Bestari terkait keinginannya untuk "mengangkut" Risma ke Jakarta hanyalah manuver politik untuk mengetahui riak politik masyarakat terhadap Anies Baswedan. Semacam manuver politik untuk mengangkat seseorang sebagai lawan Anies, tapi tujuan sebenarnya adalah untuk mengetahui tingkat dukungan dan suara masyarakat terhadap Anies.

Terbukti, setelah ramai isu Risma, Surya Paloh melakukan pertemuan dengan Anies Baswedan. Mungkin, hasil "investigasi" yang dilakukan NasDem menunjukkan, bahwa Anies Baswedan masih layak didukung dan masih mendapatkan banyak suara di kalangan masyarakat. Laik dipertahankan.

Tapi harus diakui juga, bahwa NasDem adalah partai yang cerdik dalam memilih kader, terutama untuk mendongkrak suara partai. Beberapa tokoh penting, termasuk artis, berhasil dirayu. Kemarahan Megawati, konon, terjadi karena NasDem mulai "iseng" mengganggu kerja Risma melalui manuver kader-kadernya padahal Risma, menurut saya pribadi, hanyalah "alat" untuk mengetahui seberapa Anies Baswedan didukung oleh masyarakat Jakarta.

Lalu kemana sebenarmya muara manuver politik NasDem? Banyak yang melihatnya hanya sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tawar. Namun, seperti adigium lama, jangan melawan arus jika belum bisa menembus. Secara pragmatis, NasDem tetap konsisten di koalisi. Tapi melihat beberapa manuver yg dilakukannya, mungkin saja ia sedang membangun kekuatan untuk bisa menembus.

Entah diperuntukkan bagi proyeksi politik jangka pendek sekelas "Pilkada paling potensial" seperti Jakarta, misalnya, atau mungkin saja terkait prospek politik jangka panjang di tahun 2024. Mungkin saja. Menarik untuk kita baca, analisa, dan menunggu hasilnya.

Salam

Mustafa Afif, Kuli Besi Tua

VIDEO PILIHAN