Must Apep
Must Apep Sang Pencari a.k.a Pengangguran. Berusaha mengakrabi besi tua.

Orang biasa-biasa saja. Sebagaimana kebanyakan manusia pada umumnya.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kali Ini, Kita Mesti Angkat Topi untuk Mahfud MD

10 Agustus 2018   11:58 Diperbarui: 10 Agustus 2018   12:50 1566 12 10
Kali Ini, Kita Mesti Angkat Topi untuk Mahfud MD
Tribunnews.com

Pasca Jokowi mengumumkan nama Cawapresnya, banyak mata tercengang ketika nama KH. Ma'ruf Amin diumumkan sebagai pendamping yang akan menemaninya bertarung pada Pilpres 2019 nanti. Banyak orang kaget ketika Kiai Sepuh --yang menjadi Rais Aam NU sekaligus Ketua MUI itu, dipastikan menjadi Cawapres dari kubu petahana. 

Tak dinyana, tak diduga. Setidaknya bagi rakyat kecil seperti saya. Detik-detik akhir yang menegangkan, mungkin meniscayakan kejutan-kejutan. Sah-sah saja, toh, memang sisi dramatisasi itulah yang, mungkin, paling menarik dari politik.

Ada yang bahagia, adapula yang kecewa. Ada yang menganggapnya langkah cerdas, ada pula mengatakan itu permainan culas. Banyak orang tidak percaya, bahwa Jokowi yang kemana-mana selalu mengatakan "kerja" kini memilih sosok yang kurang menjadi representasi dari kerja keras, semangat, dan energik. Banyak analisa sebelumnya yang menyatakan, bahwa yang paling dibutuhkan Jokowi adalah seorang teknokrat dan profesional berpengalaman, benarkah tidak ada pilihan lain, kemudian?

Akhirnya, kita kembali tersadarkan dengan satu hal, bahwa segala macam persyaratan menjadi tidak penting kecuali kepentingan: menjaga, mendongkrak suara dan menang. Maka pertimbangan politik menjadi lebih dominan. Jokowi dan orang-orang yang paling dekat dengannya mengambil cara itu. Sah-sah saja, sebab ini adalah urusan politik, maka yang paling pas untuk dijadikan pertimbangan adalah pertimbangan politik. Ngono toh?

Otomatis, munculnya nama Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin sekaligus menenggelamkan nama Prof. Dr. Mahfud MD, yang sebelumnya paling santer diberitakan sebagai Cawapres pilihan. Mahfud MD, untuk yang kedua kalinya, kembali gagal menjadi Cawapres. Terganjal dengan pola yang hampir sama meski untuk saat ini, ukuran rasa kecewanya barangkali jauh lebih besar.

Secara kemanusiaan, dengan mempergunakan ukuran kelaziman manusia kebanyakan, barangkali Mahfud MD adalah orang yang paling berhak untuk kecewa dan sakit hati. Ia yang sudah dijanjikan dan diperintah untuk mempersiapkan, ternyata tidak menjadi pilihan. Ia yang sudah mengurus berbagai surat keperluan dan menyerahkan CV, ternyata di-PHP. Ia yang sudah memberikan keterangan dan berbicara "soal keterpilihan serta takdir sejarah", rupanya pada detik-detik akhir semuanya terjarah. Ia yang sudah mengukur dan menjahit baju, ternyata dibuat malu.

Bisakah kita membayangkan, ketika calon pendamping sudah oke menuju pelaminan. Menyuruh mempersiapkan persyaratan, kelengkapan. Baju sudah diukur, dan sudah membuat pernyataan meyakinkan, bahwa "saya calon suaminya, dan Beliau calon mertua saya", tapi tiba-tiba, di depan banyak orang ketika diumumkan, rupanya bukan nama kita yang disebutkan? Tentu kita merasa lalu, dan harga diri kita akan terganggu. Sungguh kenyataan hidup yang begitu pahit. Terlebih bagi orang Madura, etnis ramah yang menjunjung tinggi rasa malu dan harga diri. Madura dikenal sebagai etnis yang mempunyai self-esteem yang tinggi. Apapun akan dilakukan untuk mempertahankan harga diri. Malu banget, Bro.

Mahfud MD patah hati. Berkali-kali.

Banyak analisa yang kemudian bertebaran, bahwa sebenarnya Jokowi dan orang-orang dekatnya sudah cocok dengan Mahfud MD. Tapi karena tekanan dan kepentingan dari pihak tertentu, akhirnya disepakati nama yang berbeda; yang dianggap jalan tengah dan titik aman bagi Jokowi. 

Ada yang bilang, mungkin karena Mahfud MD adalah salah satu loyalis Gus Dur yang sukanya "berhimpun", bukan "bergerak" jadi ditakutkan akan ada riak dari pihak yang selama ini paling ngebet menjadi dan mengajukan Cawapres dengan membawa-bawa masa kultural, meski selama ini mereka lebih cenderung elitis-struktural. Mungkin karena itulah Mahfud MD tidak diakui ke-NU-annya: sesuatu yang sebenarnya lucu dan ahistoris. Katanya. Ini katanya, ya. Bahkan kemudian muncul istilah "Amar Ma'ruf Nahi Mahfud". Ini juga katanya lho.

Tapi rupanya, Mahfud MD tampil beda. Ia mengenyampingkan semua asumsi dan analisa banyak kalangan. Berbagai statement yang muncul pasca penetapan Cawapres Jokowi, justru menunjukkan sikap kenegarawanan dan penerimaan yang luar biasa. Kita melihat itu dari yang tampak, tidak mau tahu soal yang disembunyikan sebab manusia tak bisa membacanya. 

Dengan sikap gentle, Mahfud MD memberikan statement, bahwa inilah yang terbaik bagi bangsa. Tentu saja ia kaget, sebagaimana penjelasannya, tapi kemudian ia menyadari, bahwa memang beginilah realitas politik. Dalam politik, itu biasa saja, katanya. Ia tidak berbicara kepentingan an sich, tapi sekaligus keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Sikap kenegarawanan itu tampil dengan cuitan di twitternya, bahwa yang terpenting NKRI ini terawat dengan baik. Keberlangsungan NKRI jauh lebih penting daripada sekedar nama Mahfud MD dan Ma'ruf Amin. Ini luar biasa. Dalam kisah cinta yang melodrama, ini akan menjadi scene paling dramatis yang sangat menyedihkan ketika melihat yang dicintai bersanding dengan orang lain, tapi masih sempat berucap, "hidup terus berlanjut. kita harus merawat dan menjaganya. Aku bahagia, jika engkau bahagia. Aku menerima. Aku akan mencintaimu, dengan cara yang berbeda". Lalu diiringi dengan soundtrack mematikan. Alamak.

Maka, kali ini, kita harus angkat topi untuk Prof. Dr. Mahfud MD yang telah mengajarkan bagaimana sikap seorang negarawan itu. Apa yang ada dalam hati, tak ada yang tahu, tapi kewajiban kita adalah menampakkan yang baik, optimisme, serta terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa. Seberapa pun sakitnya, tahan. Jangan dikeluarkan di depan banyak orang. 

Bisa saja Mahfud MD menjadi kompor karena ketidak-terpilihannya, tapi kemudian ia lebih menjadi manusia, pada sisi yang berbeda. Bisa juga Mahfud MD baper menghadapi kenyataan yang pahit, tapi ia memlih untuk meredakan. Sekali lagi, kita harus angkat topi untuk sikap yang dipilih oleh Mahfud MD ini. Sebab itulah, banyak yang kemudian bersimpati, tak henti-henti. Salut!

Pada akhirnya, menurut saya, Mahfud MD tidak akan kemana-mana. Ia tidak akan "lompat pagar" sebagaimana sebelumnya. Dalam cuitannya, ada indikasi ia akan terus bersama, dekat dengan orang-orang Istana. Mahfud MD memahami posisi Jokowi, dan memahami betul bahwa pertimbangan politis menghendaki demikian. Tak bisa tidak. Ini soal kepentingan dan tekanan, sepertinya. Ini sepertinya, ya.

Apa yang dilakukan Jokowi, sah-sah saja. Politik itu dinamis, dramatis, dan tentu saja juga sadis, bagi sebagian orang yang merasakannya. Jokowi realistis, bahwa ia ingin menang. Kemenangan itu akan semakin berat ketika koalisi gaduh, apalagi tak utuh. 

Jokowi memang cerdas ketika memutuskan itu, tapi bagi yang paham akan menjadi cacat politik karena hilangnya "kemerdekaan" dalam dirinya. Sekaligus menjadi preseden dan contoh yang buruk, bahwa ada sebagian pihak yang jelas menunjukkan rasa bahagianya ketika sejawatnya sedang menanggung malu luar biasa.

Tapi bagi saya, sebagaimana banyak yang lain, bahwa Mahfud MD lebih cocok dan layak jika pertimbangannya bukan faktor politis. Soal kemampuan, pengalaman, bersih, tegas, dan kemajuan. Bukan karena saya adalah orang Madura, tapi kehadiran Mahfud MD saya yakini akan memberikan nuansa yang berbeda. Mungkin, ia bisa melakukan itu dengan posisi yang berbeda, nantinya. Kita tunggu saja.

Sekali lagi, kita mesti angkat topi untuk Mahfud MD, kali ini. Salut!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2