Mohon tunggu...
Muslimah Peradaban
Muslimah Peradaban Mohon Tunggu... Analisis

Pengamat dan Penganalisis isu dari sudut pandang Islam.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tawuran Antar Pelajar Masih Marak, Bisakah Diatasi?

10 Mei 2019   15:30 Diperbarui: 10 Mei 2019   15:44 487 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh : Amila Shaliha

Pemuda adalah pewaris bangsa, katanya. Pelajar adalah elemen terdidik dalam masyarakat tempat menaruh harapan akan kemajuan, seharusnya. Namun mirisnya, saat ini pemuda sekaligus pelajar, menunjukkan fenomena yang berbeda dari yang diharapkan. Salah satunya adalah tawuran yang hingga saat ini masih saja berulang terjadi, khususnya di kota dan kabupaten Bogor.

Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky, menjelaskan bahwa tawuran ini sudah seperti tren tentang anggapan tolak ukur kejantanan remaja laki-laki. "Tawuran ini semacam menjadi tren, kejantanan atau bagaimana, kalau tidak tawuran bukan laki-laki. Bahkan untuk mencari sekolah dari awal mereka milih yang terkenal dengan tawurannya itu. Misalnya mau sekolah, wah sekolah ini hebat, nanti SMP yang berantem-berantem nanti masuk tingkat SMA juga itu juga sama milih sekolah seperti itu," paparnya.

Kasus tawuran pelajar masih terus terjadi di Kabupaten dan Kota Bogor dalam dua tahun terakhir ini. Polisi Daerah Jawa Barat mencatat sejak tahun 2017 hingga 2018, sebanyak 7 perkara tawuran yang ditangani di dua daerah tersebut. Kanit 4 Subdit Reserse Kriminal Umum Polda Jabar, Rustan Junaedi dalam seminar 'Mencari Akar Permasalahan Tawuran Pelajar dan Upaya Mengatasinya' yang diadakan oleh Universitas Pakuan mengatakan sebanyak 7 kasus itu tiga kasus terjadi di Kabupaten dan empat kasus di Kota Bogor.

"Untuk penyebabnya rata-rata disebabkan karena balas dendam dan saling ejek antar pelajar yang terlibat tawuran," kata Junaedi. Dalam paparannya, Junaedi menjelaskan ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya tawuran di kalangan pelajar yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern merupakan hal-hal yang menyebabkan remaja bertingkah tertentu yang datang dari dirinya sendiri seperti gangguan emosional dan tumbuhnya jiwa premanisme. Kemudian faktor ekstern adalah semua perangsang dan pengaruh yang menimbulkan tingkah laku tertentu pada anak-anak remaja atau perilaku menyimpang pada anak yang menyebabkan remaja terlibat tawuran. "Faktor ekstern diantaranya karena kurangnya pengertian atau perhatian orang tua tentang pendidikan, kurangnya pendidikan agama dan akibat pergaulan," kata Junaedi. 


Jika boleh kita simpulkan dari informasi di atas, penyebab tawuran antar pelajar masih saja terjadi, di antaranya adalah pergaulan, keluarga, minimnya pendidikan agama, dan identitas diri yang salah.

Mayoritas pemuda (pelajar khususnya) saat ini seperti kebingungan bagaimana jati dirinya harus dibentuk. Bukan hanya itu, tersesat pula arah hidupnya. Seperti kekurangan referensi mengenai bagaimana kehidupan seharusnya dijalani. Mari kita tilik, jalan hidup seperti apa yang telah berhasil membawa Rasul dan para sahabat serta pemuda-pemuda di masa setelahnya menjadi pemimpin dan mampu mengarahkan ummat pada kebangkitan. Bukan kemunduran, bahkan menjadi sebab utamanya.

Ketika seseorang menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya, aqidah Islam tertancap kuat dalam dirinya, tidak hanya menyelesaikan berbagai persoalan hidup dengan Islam, tapi juga meniadakan penilaian manusia atas dirinya. Baginya, ridha Allah SWT adalah sebaik-baiknya. Apalah arti dinilai maskulin, jika takwa tidak menghiasi diri. Apalah arti kehebatan berkelahi, jika melawan hawa nafsu untuk melanggar aturan Ilahi saja tidak mampu.

Perubahan pada diri seperti ini tidak akan terwujud jika tidak adanya pula perubahan mendasar pada aspek pendukung lainnya. Keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang tidak melebur pada kehidupan anaknya, harus digantikan dengan kelekatan antar anggota keluarga sehingga penanaman nilai-nilai kebaikan dapat dimaksimalkan. Hasilnya, anak tidak masuk ke dalam pergaulan yang salah.

Pendidikan ala sekuler yang hanya mementingkan keunggulan kognitif di sekolah, sementara mengesampingkan pendidikan agama hanya di masjid-masjid, harus digantikan dengan pendidikan berbasis Islam. Di mana hasilnya adalah individu berkarakter kuat, karakter Islam, berpola pikir dan tingkah laku Islami. Semoga kita bisa segera menerapkan sistem tata aturan yang paripurna menyelesaikan segala persoalan kehidupan.

VIDEO PILIHAN