Mohon tunggu...
Muqaddim Karim
Muqaddim Karim Mohon Tunggu... Direktur Kaukus Politik dan Demokrasi

Menuju manusia yang manusia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Memaknai Iman dan Ilmu sebagai Petunjuk dan Penerang

14 Juni 2020   10:44 Diperbarui: 14 Juni 2020   10:54 52 3 0 Mohon Tunggu...

Muqaddim Karim

JAKARTA -Yang pertama harus disepakati adalah kenyataan bahwa agama Islam merupakan agama yang toleran. Ini ditandai dengan sikap-sikap positif yang diperlihatkan oleh kaum Muslim terhadap perbedaan yang ada termasuk dalam memandang ilmu pengetahuan. Sikap positif ini memperjelas kesejatian ummat Muslim bahwa ia memiliki hubungan organik dengan limu pengetahuan dan mampu menjelaskan kedudukan ilmu pengetahuan itu dalam kerangka keimanan. 

Argumentasi ini berdasarkan pada apa yang telah Islam raih dari kemampuannya berpadu secara harmonis dengan budaya lokal masyarakat suatu daerah serta kemampuannya merangkul ilmu pengetahuan yang bukan saja berasal dari dunia Islam melainkan juga warisan keilmuan yang berasal dari berbagai peradaban non Islam.

Kemampuan beradaptasi yang dimiliki ummat Islam (Muslim) itu merupakan turunan dari semangat keterbukaannya sebagai ummat penengah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al_Baqarah ayat 143 "Dan demikianlah Kami jadikan kamu sekalian umat penengah, agar supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia, sebagaimana Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu....".

Semangat keterbukaan itu kemudian mendorong ummat Islam klasik sehingga mampu memimpin dunia intelektual sekurang-kurangnya empat abad lamanya atau tiga kali lipat lebih lama dari umur negara Indonesia saat ini yang berdiri belum genap satu abad. 

Catatan manis sejarah ummat Muslim ini pula yang menjadi pondasi abad modern yang sedang berlangsung dan kita warisi sampai saat ini. Meskipun abad modern itu sendiri tumbuh dan menyebar dari barat (Eropa). Namun, Eropa tetap harus berterima kasih atas kontribusi Islam yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengenalkannya kembali setelah pernah ditolak dan bahkan dilawannya.

Perlawanan Barat terhadap ilmu pengetahuan dimulai pada saat ilmuwan muslim bernama Ibnu Rusyd memperkenalkannya ke pada masyarakat Barat. Ibnu Rusyd datang membawa ilmu pengetahuan itu yang menggabungkan antara rasionalisme Aristoteles dengan ajaran Al-Qur'an tentang penggunaan akal. 

Semantara pada waktu bersamaan Kristen Ortodoks (Eropa) berada dalam masa-masa sengit dalam memusuhi ilmu pengetahuan. Bahkan golongan yang mengikuti ilmu pengetahuan yang dibawa oleh Islam itu dianggap telah berhasil diracuni oleh ajaran Islam. Seorang ahli sejarah ilmu pengetetahuan, A.D White mencatat bahwa mereka yang menerima ilmu pengetahuan yang dibawah oleh Islam ke Eropa itu dituduh sebagai "Muhammadanisme" dan "Averroisme".

Akibatnya banyak ilmuwan Eropa yang menerima keilmuan yang dibawa Islam itu menjadi anti agama. Dari situlah konsep sekularisme muncul sebagai model intelektualisme Barat, di mana antara keimanan dan keilmuan dipisahkan dan mempunyai bidang masing-masing. 

Berbeda dengan peradaban Islam, ilmu pengetahuan justru dijadikan sebagai alat dalam upaya memahami Sunnatullah, memperkokoh keimanan serta memperkuat paham monoteisme atau tauhid. Seperti misalnya Al-Ghazali, biar pun menolak metafisika namun mendukung sepenuhnya logika Aristoteles (al-manthiq al-Aristhi) dan penggunaannya dalam kajian agama. 

Pun Ibnu Taymiyah menolak metafisika maupun logika Aristoteles, namun ia memandang bahwa ilmu-ilmu empirik (al-ulum al-tajribiyah atau al-ulum al-mujarrabah) seperti, al-thibb al-mahdl, yaitu ilmu kedokteran murni yang tidak mengandung unsur-unsur mitologi dan kepercayaan palsu lainnya merupakan benar dan absah, bahkan sama nilai manfaatnya dengan al-fiqh al-mahdl, yaitu Ilmu Fiqih murni, yang juga tidak tercampur dengan unsur-unsur bid'ah.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x