Mohon tunggu...
Ibra Alfaroug
Ibra Alfaroug Mohon Tunggu... Penulis amatir yang lagi belajar menulis

Buruh Tani di Tanah Milik Sendiri

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Keindahan Bangunan, Bukan Hiasan tapi?

2 September 2019   07:26 Diperbarui: 2 September 2019   07:41 0 13 4 Mohon Tunggu...
Keindahan Bangunan, Bukan Hiasan tapi?
Ilustrated By: Pixabay.Com

Keindahaan bangunan adalah sebuah seni, hasil dari daya rasa dan pikir yang diciptakan oleh manusia dalam bentuk sebuah karya. Memiliki daya tarik yang penting dalam memikat mata setiap yang memandang. Semakin tinggi nilai seni yang dalam bangunan, mestinya daya tariknya pun semakin besar. Dalam sebuah pepatah mengatakan "sesungguhnya manusia makhluk yang indah dan menyukai sebuah keindahaan".

Berbagai bentuk mimik setiap orang akan berbeda ketika melihat sebuah kemegahan bangunan. Ekspresi terperangah, decak kagum disertai puja-puji terhadap keindahan yang dipandang. Bahkan ada senyum sinis dan sumpah serapah, jika karya yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang diharapkan dari masyarakat.

Konsekuensi ini adalah suatu kelaziman dari penerimaan masyarakat. Yang Menerima atau ditolak sebuah keniscayaan. Sikap lapang dada harus dimiliki setiap individu jika karya yang diluncurkan akan menuai pro atau kontra.

Makna keindahaan pun bermacam pula penilaiannya dalam pandangan manusia. Mungkin dimata kita telah sempurna, bisa tidak dalam pandangan orang lain. Jadi antara keindahaan, menurutku bisa juga disamakan dalam penilaian akan suatu kebenaran. Walaupun tak persis sama anatara kebenaran dan keindahaan. Dengan ukuran kenisbian atau relativ. Penilaian keindahaan merupakan ranah privasi pada setiap orang. Yang suka ada dan yang tidak juga pasti ada.

Hal ini adalah kelaziman sebagai insan yang diciptakan dengan perbedaan, baik secara jasad maupun batin. Apalagi dibenturkan dengan perbedaan dari sisi karakter, sifat, sikap, budaya termasuk dalam hal "selera". Ada yang doyan Jengkol ada juga yang tidak suka. Begitupun dengan hal-hal lain. Inilah uniknya kita yang harus digarisbawahi.

Apakah perbedaan yang ada, kita harus gontok-gontokan dan cenderung bersifat memaksa selera kita agar sehaluan? Tanpa melihat hakikat perbedaan? Tentunya juga tidak, jika sempat meluangkan waktu untuk merenung dengan menyigi makna terdalam dari suatu kata"beda".

Karena apa yang kita rasakan begitu juga apa yang dirasakan orang lain. Misal, setiap kita tidak akan suka dengan sakit, begitupun dengan orang lain. Inilah cermin persamaan yang mesti tuk dipahami. Dan upaya untuk memahami perbedaan antara kita. Dan terkadang kita cenderung memaksakan diri padahal kita sendiri juga tidak suka dipaksakan.

Olah rasa dan olah pikir mampu dijadikan titik tolak untuk saling menghormati, menghargai ditengah sebuah perbedaan pandangan. Dan bisa dijadikan sebagi pijakan tuk memunculkan sikap toleransi antar sesama ditengah keragaman yang ada.

Apakah kita harus sama dalam sudut penilaian? Terkadang bisa, jika ada suatu keganjilan jelas ada dimata. Dan cenderung konfrontasi yang bertetangan dengan nilai dan norma yang dianut diiringi dengan menciderai makna "kemanusiaan". Seperti tindakan kekerasan, prilaku merusak, kental dengan nuansa SARA, pemicu konflik dan lain sebagainya.

Termasuk keindahan pada bangunan sekalipun. Bila jelas  kemubazirannya alias tidak ada manfaatnya. Yang hanya menuai kesia-sian. Dan tanpak melihat sisi yang lebih penting di masyarakat. Baik saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Jelas harus serentak ditolak bersama-sama.

Keragaman penilaian akan selalu ada dipermukaan. Sepanjang ada kehidupan manusia. Jika yang seharusnya tidak perlu dilakukan, dipaksakan dengan kata harus ada. Ketika ada udang dibalik batu, suatu terselubung yang ditutupi oleh kepalsuan. Bunga plastic yang indah tapi tak punya jiwa dan hampa akan keharuman. Atau kebiasaan menggunting dalam lipatan. Inilah harus ditentang dalam setiap pembangunan saat ini!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3