Mohon tunggu...
Ibra Alfaroug
Ibra Alfaroug Mohon Tunggu... Penulis amatir yang lagi belajar menulis

Buruh Tani di Tanah Milik Sendiri

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Jelang 22 Mei 2019, Cerdas dan Jangan Terpancing

21 Mei 2019   08:17 Diperbarui: 21 Mei 2019   10:51 0 11 1 Mohon Tunggu...
Jelang 22 Mei 2019, Cerdas dan Jangan Terpancing
ilustrated by; pixabay.coma

Rabu, 22 Mei 2019 moment yang mendebarkan dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) atau Tim Kemenengan Nasional (TKN), Pendek kata bagi Paslon 01 dan 02 beserta kroni-kroninya. Dimana pengumuman KPU, siapakah yang akan duduk kursi no satu Negara ini. Jokowi-Maaruf Amin atau Prabowo-Sandi.

Berbagai drama telah ditampilkan, dengan rentetan cerita yang memanaskan tensi wajah perpolitikan Nasional. Pernyaataan Tujuh Kontener, Jenderal Kardus, Suara Tercoblos Pra pemilu, KKPS yang diracun, Setan Gundul, People Power, bahkan Gerakan Kedaulatan rakyat. Inilah sekelumit cerita yang dimainkan para aktor politik seperti cerita drama kolosal. So!, kalau drama kolosal pasti jelas endingnya, tapi kalau drama politik tanah air, wallahua alam.

Lucunya dinamika persilatan politik bangsa. Banyak yang mengaku bahkan mengklaim kebenaran sendiri, kemenangan sendiri dan merendahkan mekanisme yang telah diatur dalam aturan perundang-undangan. Bergaya Negarawan tapi tidak paham akan makna tersebut atau paham tapi tidak mau paham. Mengaku atas nama rakyat, tapi turun kelapangan tidak pernah dilaksanakan. Hanya ketika mau dan maunya

Tarik ulur pernayataan menghiasi bibir yang berlipstik yang bergaris merah para sang elit. Lain yang diucapkan lain pula yang dilakukan. Kemarin, kini mungkin esok hari selalu bersifat dinamis dan tidak akan bersifat konsisten. Yang penting tujuan, persetan dengan yang lainnya.

Sebagai contoh pernyataan salah satu elit bangsa, yang kemarin menyatakan akan adanya gerakan People Power telah berganti menjadi Gerakan Kedaulatan Rakyat. Dan pernyataan seorang Paslon yang menyatakan akan turun kelapangan untuk berunjuk rasa pada hari pengumuman hasil pilpres 2019. Prihal ini tidak terlepas jika adanya kecurangan pemilu, ujarnya.

Perubahan pernyataan ini memberikan pemahaman bagi masyarakat awam seperti saya kok bisa!, Kok tidak konsisten dengan pernyataan sendiri.

Menurut teori fenomenologiku ada beberapa hal yang membuat perubahan pernyataan tersebut:

Pertama, Pernyataan berubah karena istilah yang digunakan kurang berjiwa kalau bahasa anak sekarang kurang mengigit. Tidak menarik simpati masa, apalagi kalau disanding-sandingkan dengan gerakan reformasi tahun 1998.

Kedua, Pernyataan berubah ketika tujuan yang dibawah bukan tujuan sebenarnya, berbeda dari yang tersirat di hati. Tapi, kepentingan pribadi dan golongan. Kepentingan pribadi dan golongan telah berhasil lolos di senayan tidak dipersoalkan. Sing penting pilpres yang dipermasalahkan.

Ketiga, Pernyataan ini telah membawa korban kedalam rana hukum. Seakan akan memberikan angin yang kurang sedap jika dilanjutkan. Alih-alih  bermanfaat, keburukan jelas ada di depan mata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2