Mujizat U
Mujizat U Wira Swasta Berdikari

Pemerhati Aktip Sekitar Yang Berusaha Obyektip Dan Gemar Serta Sudi Belajar Dari Massa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Etnis Keturunan Tionghoa Bergolak!

2 Juni 2018   05:49 Diperbarui: 2 Juni 2018   08:06 200 2 1
Etnis Keturunan Tionghoa Bergolak!
Sumber: miseenplaceasia.com


Bagai petir yang menggelegar di siang bolong, pada hari rabu, tanggal 23 mei 2018 sekelompok orang yang mengklaim "tokoh etnis Tionghoa" yang menamakan dirinya sebagai FORUM ASPIRASI RAKYAT (FORMAT) telah mendeklarasi untuk mendukung Gerakan #2019GantiPresiden di Kopi Oey Candra Nayayan, Gajah Mada, Jakarta Barat.

Para tokoh entis tionghoa yang hadir, terdiri dari Lieus Sungkharisma, Agnes Marcellina Tjin, Eko Sriyanto, Zeng Wei Jian, Yap Hong Gie, Indra, Alie Soetrisno, Martin dan beberapa tokoh etnis Tionghoa lainnya.

Pada deklarasi itu, pimpinan dan massa FORMAT dengan kompak mengenakan kaus bersablon: # 2014 Aku yang Memulai, Aku yang Mengakhiri #2019GantiPresiden #.

Pada saat deklarasi tersebut di katakan oleh Lieus Sungkharisma, bahwasanya : "Kita-kita ini memang 2014 adalah jurusan Pak Jokowi. Kita sepakat bahwa rasanya Pak Jokowi cukup satu periode saja. Jadi kita sama-sama teman-teman ini semua dan mungkin nanti kedepan kita akan terus berlanjut mendukung Gerakan #2019GantiPresiden.

Karena Gerakan 2019 Ganti Presiden itu betul-betul menginsipirasi kita sebagai masyarakat Thionghoa untuk minta Pak Jokowi kamsia (terima kasih) deh, cukup sampai 2019 saja," katanya.

Bagai tersengat petir yang menggelegar di siang bolong itu, muncul reaksi keras dari organisasi etnis tionghoa lainnya yang sangat gusar kepada klaim sefihak yang "meng-atas namakan etnis Tionghoa" itu. Berbagai Forum masyarakat Tionghoa lainnya segera melakukan langkah tandingan untuk melawan klaim sefihak yang di lakukan oleh FORMAT. 

Pada hari sabtu, 27 mei 2018, FORUM TIONGHOA LINTAS AGAMA melakukan sikap tidak setuju oleh pernyataan yang di lakukan FORMAT di Sumarecon Mall Serpong.

Dan pada hari dan tanggal yang sama, yakni sabtu, 27 mei 2018. FORUM TIONGHOA NUSANTARA (FORTIN) di Hotel Erian Menteng. Bereaksi dengan melakukan pernyataan sikap tidak setuju kepada pernyataan sikap yang di lakukan oleh FORMAT. 

Ali Sutra Koordinator Forum Tionghoa Nusantara (FORTIN) menyatakan bahwa tidak semua orang Tionghoa di Indonesia mendukung gerakan #2019GantiPresiden.

Klaim yang menyebut semua orang Tionghoa di Indonesia mendukung gerakan #2019GantiPresiden adalah klaim sepihak.

"Apa yang dinyatakan oleh Forum Aspirasi Rakyat itu mengklaim semua orang Tionghoa, itu tidak benar," tegas Ali Sutra

"Preferensi atau sikap politik  orang Tionghoa itu berbeda-beda. Tidak ada satu pun tokoh, apalagi mengaku tokoh atau organisasi yang bisa mengatasnamakan seluruh masyarakat Tionghoa" ujarnya lagi. 

Ali lebih lanjut menjelaskan: "kekecewaan segelintir orang jangan dijadikan dasar untuk membangun opini mengatas namakan suku tertentu, karena tidak elok dan juga berpotensi merusak keharmonisan antar suku, bahkan dalam etnis Tionghoa itu sendiri".

Terkait tagar #2019GantiPresiden ia tidak melarang atau menyetujui karena hal tersebut merupakan hak konstitusional masing-masing warga negara.

Fortin meminta masyarakat Indonesia secara umum dan masyarakat Tionghoa secara khusus, tidak terpengaruh atas pernyataan Forum Aspirasi Rakyat.

Ia mengajak masyarakat Indonesia pada umumnya dan etnis Tionghoa secara khusus untuk menyalurkan hak pilih yang dijamin oleh Undang-undang serta memilih pemimpin yang dipercaya dapat memberikan dampak perubahan baik dan berkelanjutan bagi bangsa Indonesia.

Reaksi berikutnya terdengar nyaring yang dilakukan oleh FORUM MASYARAKAT TIONGHOA KALBAR PEDULI, yakni pada hari minggu, tanggal 28 mei 2018 di Hotel Ozone Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. 

Selaku juru bicara Forum Masyarakat Tionghoa Kalbar Peduli, Riyan Agatha mengatakan: "Kami merasa keberatan atas pernyataan Lieus Sungkharisma, sebagai koordinator Forum Aspirasi Rakyat untuk mengatas namakan masyarakat Tionghoa". ujarnya. 

"Kami tidak pernah memberikan mandat kepada Forum Aspirasi Rakyat atau organisasi lainnya untuk mengatas namakan masyarakat Tionghoa dalam mengeluarkan pernyataan politik terkait gerakan #2019GantiPresiden. Hal tersebut merupakan hak masing-masing masyarakat Tionghoa sebagai bagian dari warga negara Indonesia.", ungkap Riyan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, Forum Masyarakat Tionghoa Kalbar Peduli meminta agar masyarakat Indonesia secara umum dan khususnya masyarakat Tionghoa Kalbar secara khusus, dapat bersatu padu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai landasan hidup dalam berbangsa dan bernegara, tutur pria asal Siantan Pontianak Kalbar ini

"Kami senantiasa mendukung pemerintahan yang sah sesuai dengan keputusan sistem demokrasi Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk Pemilihan Presiden. Mari kita bersatu jangan sampai terpecah belah saudara ku se bangsa se Tanah Air," ujar Riyan.

Riak-riak dipermukaan tentang "perbedaan sikap dan pendapat" etnis keturunan tionghoa kepada "kepemimpinan nasional" sedikit banyak telah menunjukan bahwa perbedaan sikap dan pendapat etnis keturunan tionghoa di bawah permukaan tentunya, tidak akan jauh berbeda.

Gambaran ini, sesungguhnya sangat menggembirakan. Karena etnis keturunan tionghoa telah pro aktip "peduli" di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang berarti "rasa memiliki" kepada NKRI sudah melekat kuat. Disinyalir selama ini, mereka terkesan "acuh" dan seperti "tidak peduli" kepada dinamika serta dialektika perpolitikan nasional.

Aktualisasi diri dari saudara keturunan tionghoa kepada soal-soal masyarakat dan kemasyarakatan selayaknya diterima serta disambut dengan rasa gembira oleh kita sekalian.

Bangsa dan Negara ini, milik kita, rumah kita bersama. Mari kita bergandengan tangan, ringan sama di jinjing, berat sama dipikul. Serta duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Mari kita bekerja sama mengabdi kepada bangsa dan negara sesuai kemampuan serta profesi masing-masing untuk memajukan kesejahteraan umum. 

Berbeda pendapat dan berbeda sikap merupakan hal yang lumrah, serta sah di alam demokrasi. Asal jangan saling memaksakan kehendak hingga saling berkelahi antar kita. Mari kita rawat dan kita jaga persatuan serta kesatuan dengan energi semangat "Bhineka Tunggal Ika".

     ***** Vox Populi Vox Dei *****