Mohon tunggu...
Muhlis Setiawan
Muhlis Setiawan Mohon Tunggu... Fisabilillah

Mahasiswa Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, IAIN Palangka Raya,2019

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Tumbuh Generasi Muda Milenial Cinta Pertanian Indonesia

23 Juni 2021   11:31 Diperbarui: 23 Juni 2021   11:59 27 1 0 Mohon Tunggu...

Pada jaman sekarang pertanian di kalangan anak muda saat ini mulai menurun. Pada saat yang sama, mereka memiliki sedikit pengetahuan tentang pertanian. Bisa dibayangkan betapa buruknya pertanian 50 hingga 100 tahun mendatang tanpa dukungan SDM yang handal dan berdedikasi yang mencintai dunia pertanian. 

Generasi muda di desa mengerumuni, menjadi urban, dan meninggalkan status desa dan petani. Anak-anak petani lebih memilih bekerja di kota, yang menyebabkan kantong-kantong kosong pertanian potensial dan mengurangi potensi generasi muda di pedesaan. Sebab selain keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang potensi pertanian, pandangan bahwa petani masih dianggap sebagai pekerjaan kelas dua sudah mendarah daging.

Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat besar dalam hal ketersediaan lahan, kesesuaian iklim, tenaga kerja (kelimpahan), diversifikasi komoditas dan kekayaan hayati. Indonesia memiliki lahan yang luas yang dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian berkelanjutan. Hal ini dimanfaatkan negara lain, seperti Malaysia, untuk memperluas lahan pertaniannya di pulau-pulau seperti Sumatera dan Kalimantan menjadi komoditas perkebunan. Karena iklim tropis, Indonesia dapat mengembangkan berbagai tanaman. 

Selain itu, daerah pegunungan cocok untuk pertumbuhan tanaman subtropis. Ada banyak jenis hasil pertanian, seperti perkebunan, makanan, rempah-rempah dan obat-obatan, energi tanaman, hortikultura (sayuran, buah-buahan, tumbuhan) dan serat alam. Indonesia juga merupakan salah satu pemasok utama minyak sawit, kakao, teh, kopi, karet alam dan rempah-rempah di dunia. Sayangnya, potensi tersebut sudah tidak sesuai lagi untuk pengembangan generasi muda.

Saya percaya bahwa bumi ini tidak diciptakan untuk suatu zaman. Ketika sebuah generasi mencapai usia tua, akan muncul generasi baru untuk menggantikannya. Ungkapan filosofis sering mengingatkan kita bahwa "bumi dan alam semesta tidak diwariskan dari nenek moyang kita, tetapi diserahkan kepada keturunan kita." Kuncinya, generasi muda dan anak cucu kita juga berhak menikmati tanah yang subur, udara yang segar, dan air yang jernih, serta memiliki kewajiban untuk mengelolanya dengan baik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x