Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sisi Kultural dan Spiritual Mencermati Alam

11 Juli 2020   22:38 Diperbarui: 12 Juli 2020   15:31 36 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sisi Kultural dan Spiritual Mencermati Alam
Burung Berkik, jarang ditemukan karena dia migrasi. Kali ini dia menampakan diri untuk dipotret. (Dokpri.)

Sekarang saya mulai memahami kenapa orang Barat begitu bersemangat mencermati alam sekitarnya. Mulai dari sungai di dekat rumah hingga samudera tak bertuan diselaminya. Pemahaman itu datang ketika saya pun mencoba mencermati alam, tentu saja tanpa harus menyeberang lautan.

Dengan berbekal teropong dan ponsel, hampir setiap hari saya memotret kejadian-kejadian di sekitar rumah. Awan yang berarak, hujan yang turun hingga burung yang beterbangan sering saya jadikan objek foto.

Ketika mencermati alam sekitar, ada perasaan tenang, senang sekaligus merasa tertantang. Ketika memperoleh satu foto maka senantiasa ada keinginan untuk 'mencari' objek foto lain. Pikiran pun didominasi dengan keingintahuan untuk mencari data-data tentang objek yang dipotret.

Ketika seekor burung berhasil dipotret, terkadang saya tidak tahu apa namanya. Karena sudah diunggah ke Instagram dan Facebook, banyak juga yang memberi tahu. Setelah tahu namanya, mudah mencari profil burung itu di Google.

Hasrat untuk 'selalu ingin tahu' ternyata tidak meredup malah semakin besar. Seperti memintal benang, awalnya pintalan itu kecil semakin lama semakin membesar. Artinya, semakin panjang benang yang dipintal. Tentu saja, benang itu tidak pernah putus maka saya terus memintal tanpa pernah berhenti.

Beberapa kali, objek foto itu "mendatangi" saya. Binatang yang jarang terlihat, malah beberapa kali berhasil saya dokumentasikan. Monyet saja mendatangi untuk sekedar ingin dipotret, padahal habitatnya jauh sekali dari rumah. Setelah beberapa kali dipotret, eh dia pulang lagi.

***

Monyet pun menampakan diri meskipun jarang sekali. (Dokpri.)
Monyet pun menampakan diri meskipun jarang sekali. (Dokpri.)
Ada sisi batin yang "mengajak" saya untuk mencermati alam. Orang tua atau pun sekolah, tidak pernah mengajarkan saya untuk senantiasa mencermati alam. 

Apa yang saya lakukan murni inisiatif pribadi. Dengan peralatan sederhana, saya mulai belajar dari internet tentang bagaimana memotret alam sekitar termasuk binatang. Semakin hari, semakin banyak hal yang saya pelajari dimana sebelumnya belum pernah terpikirkan.

Terkadang saya merasa "menyesal", kenapa ini tidak saya lakukan sejak dulu. Ketika para peneliti dan fotografer alam liar sudah menjadi "profesional", justru saya baru memulainya 1-2 tahun belakangan.

Apa yang saya "teliti" dan menjadi objek foto saya tidaklah jauh dari rumah. Jika diukur, radius dari rumah tidak sampai 500 meter. Dekat sekali, dan itu adalah tempat saya main sedari kecil.

Di sekitar rumah, banyak hal-hal yang "terlupakan". Mulai dari nama burung hingga nama tanaman, banyak yang tidak tahu. Saya lebih tahu nama-nama artis ibu kota yang jauh disana dibanding nama binatang yang sering berkunjung ke halaman.

***

Hasilnya diunggah di @pasagiphoto (Dokpri.)
Hasilnya diunggah di @pasagiphoto (Dokpri.)
Saya agak heran ketika mencermati alam sekitar tidak menjadi bagian dari budaya masyarakat. Setidaknya, begitulah kondisi di tempat saya tinggal. Padahal, saya tinggal di pedesaan dimana alam sekitar masih memiliki 'spot' untuk dieksplorasi.

Mencermati alam sekitar masih dianggap sebagai "hobi" semata. Alam masih dipandang sebagai "aset rendah nilai" sehingga ketertarikan pada alam belum menjadi keterpanggilan.

Mungkin, tidak hanya di tempat saya saja. Kebiasaan mencermati alam tidak menjadi bagian dari budaya Indonesia. Padahal, kekayaan alamnya luar biasa.

Apakah karena alam "gratis" sehingga tidak perlu perjuangan khusus untuk memahaminya. Atau, memahami alam tidak menjamin kita masuk surga?

Kalau kata Francis Hsu, orang Timur termasuk Indonesia, kurang suka mencermati alam karena sisi spiritualnya sudah "terpuaskan" oleh kerabat yang akrab. Alam yang "di luar kendali manusia" biarlah berjalan sebagaimana adanya. Manusia hanya tinggal mensyukuri keberadaannya.

Namun, saya mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa mensyukuri kalau tidak memahami peran alam bagi kehidupan ini?

Sumber: Koentjoroningrat, Pengantar Ilmu Anthropologi, 1986.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x