Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kenapa Tuhan Mengirim Kucing ke Rumah?

20 Mei 2020   06:44 Diperbarui: 21 Mei 2020   06:34 68 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Tuhan Mengirim Kucing  ke Rumah?
Dia bukan kucing peliharaan saya, tapi tidak segan nongkrong disana. (Dokpri.)

Di depan pintu rumah, sering ada seekor kucing yang numpang tidur atau sekedar berjemur. Tidak setiap hari, tetapi bukan hanya sekali. Terkadang, si jantan dengan corak kuning belang-belang atau si betina kelabu bermata hampir biru.

Namanya juga kucing kampung, mereka pikir setiap rumah adalah rumahnya juga. Saya jadi bertanya, "kenapa mereka tidak membangun sarang layaknya hewan lain?".

Sebelum menulis artikel ini, pikiran saya dihantui banyak pertanyaan tentang apa peran kucing di dunia ini? Karena, si kucing terkadang membuat saya kesal tetapi juga terkadang menggemaskan.

Jika saya mengusir seekor kucing yang "bertandang" ke rumah maka esok lusanya kembali lagi. Numpang berak dan mencuri makan malah, terlintas untuk memukulnya tetapi agama melarangnya. Jika si kucing datang sebagai tamu, lalu kenapa dia membuat saya kesal.

Tidak jarang si kucing, yang belum akrab pun, mendekat dan menggosokan badannya ke kaki dengan manja. Antara kelaparan dan ingin diajak bermain, memang sulit dibedakan. Yang pasti, si kucing seakan bagian dari keluarga karena saya harus menganggarkan waktu, tenaga dan makanan untuk mereka. Huh.

***

Jika si kucing tercipta untuk menemani manusia, apa letak keistimewaannya. Prestise? Bukan juga karena kucing kampung harganya jelas murah. Atau mengusir tikus? Belum tentu juga karena tidak semua kucing pintar berburu tikus. Bahkan ada kucing yang ogah makan daging tikus. Manja.

Jika si kucing jadi sumber kebahagiaan, di rumah saya malah menyusahkan. Apalagi si kucing di rumah saya tidak sengaja dipelihara tetapi datang sendiri dan melakukan "kreatifitas" hidupnya di sekitaran rumah.

Tetapi, saya juga kadang berpikir apa jadinya jika tidak ada kucing di rumah? Apakah mumi kucing para Firaun bisa ditemukan? Atau, Tom and Jerry tidak akan pernah tercipta untuk menghadirkan ceria di rumah kita.

Jika kucing tidak diciptakan untuk menemani manusia, mungkin Abu Hurairah _perawi hadist di zaman Rosululloh_ itu tidak akan ada karena beliau tidak akan diberi julukan "Bapa Kucing".

***

Kucing, bagi saya, adalah simbol peradaban. Ketika keluarga dalam suatu masyarakat sudah "menghargai" kucing maka itu ciri manusia-manusia yang menghargai ritme alam. Manusia penyuka atau setidaknya tidak benci kucing, merasakan jika hidup tidak hanya untuk dirinya tetapi untuk seiisi alam.

Kucing adalah pengingat jika alam tidak hanya terdiri manusia. Apalagi di perkotaan, hampir tidak ada hewan liar sebagai pengingat jika keberlangsungan alam raya juga sebagai hal penting. Si kucing, menyadarkan itu.

VIDEO PILIHAN