Mohon tunggu...
Muhammad Yusuf Ansori
Muhammad Yusuf Ansori Mohon Tunggu... Mari berkontribusi untuk negeri.

Bertani, Beternak, Menulis dan Menggambar Menjadi Keseharian

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Konflik, Dipelihara Demi Kepentingan Politik?

28 September 2019   19:57 Diperbarui: 28 September 2019   20:58 0 1 0 Mohon Tunggu...
Konflik, Dipelihara Demi Kepentingan Politik?
Ilustrasi: Ansor

Bersitegang, tidak  hanya beradu mulut tetapi juga beradu otot. Demi apa? Entahlah.

Ibu kota hingga Papua masih memunculkan berita yang tidak sedap dipandang mata. Konsentrasi pikiran banyak yang tertuju ke sana hingga Ambon dalam bencana pun tidak terpikirkan.

Di media sosial, ramai diperbincangkan setiap detail kejadian pertengkaran antara aparat keamanan dengan para demonstran. Disertai komentar, berita berseliweran entah darimana sumbernya.

Emak-emak memenuhi linimasa dengan curhatannya menyayangkan kondisi yang ada. Akun-akun tidak bernama, memerankan diri sebagai pembawa pesan. Sayangnya, pesan-pesan itu malah membuat kesan yang tidak berkenan.

Berita bukan sebagai bentuk penyampaian informasi yang netral tetapi banyak yang berisi ajakan dan ejekan. Terjadi pemukulan di sana, terjadi penembakan di sini dan masih banyak lagi. Rata-rata menyampaikan pertikaian, dan tentu saja bukan ajakan perdamaian.

Konflik, memang asyik untuk diulik. Seperti menonton tinju atau perkelahian di gelanggang, orang yang bersitegang malah dibuat semakin tegang.  Korban berjatuhan masih ada yang menganggapnya hiburan, mengisi waktu luang dibalik membosankannya acara TV yang tayang.

Nonton sinetron di TV, jalan ceritanya mudah ditebak. Nonton pertikaian di pesan berantai, uh bisa sambil santai. Bahkan, sepertinya banyak yang berharap ceritanya "jangan cepat selesai".

Kalau anak kecil main game di dunia maya, asyik lah karena bisa membawanya pada dunia imajinasi. Kalau orang tua main 'game' di dunia nyata sepertinya punya keasyikan tersendiri. Ya, membuat konflik kok jadi hobi?

Kalau konflik bukan sebagai bentuk kesenangan, kenapa itu senantiasa berulang? Bahkan, musiman. Kayak buah-buahan!

Konflik sengaja diciptakan. Dibuatlah arena sebagai tempat yang cocok agar mencolok. Seperti sabung ayam, pertarungan digelar di tempat terbuka. Karena, kalau di tempat tertutup, siapa yang mau menonton?

Dimana Sisi Humanis Kita?

Namun, masih adakah sisi humanis dalam diri kita. Melihat manusia saling memangsa bukannya dilerai malah dibuat ramai.

Atas nama kebenaran, kita siarkan tayangan kekerasan. Atas nama kebebasan berekspresi, foto-foto dan video para korban kekerasan kita jadikan alasan untuk menyudutkan pemerintah. Ketidaksukaan kita pada satu pihak, seakan terwakili oleh situasi yang hilang kendali.

Mereka para korban kekerasan, sepertinya tidak pesan kalau musibah yang menimpanya dijadikan alat pembenaran. Satu korban yang telah jatuh, bukannya diredam agar berhenti sampai disitu malah dipancing lagi agar semakin bertambah.

"Lihatlah, dia adalah korban kebiadaban maka kita harus meminta pertanggung jawaban!". Begitulah kira-kira bunyi sebuah tuntutan. Tetapi yang terjadi adalah ketika satu korban kembali meminta korban dan terus meminta korban.

Singa betina berburu, si jantan sekedar menunggu(Gambar: land.blogspot.co.id)
Singa betina berburu, si jantan sekedar menunggu(Gambar: land.blogspot.co.id)
Sekilas, kita seperti sekawanan singa jantan di padang savana Afrika. Singa jantan suka asyik menonton para singa betina berburu mangsa. Ketika si mangsa sudah lemah tak berdaya, maka singa jantan malah paling pertama menikmati hasil buruannya.
Kita "menikmati" tontonan kekerasan...Kita "menikmati" adegan demi adegan...

***

Kadang saya terpikirkan untuk hidup di Korea Utara. Tanpa internet, tanpa hubungan dengan dunia internasional, kehidupan komunal yang tidak bisa dipengaruhi "orang-orang nakal". Tapi, kan kita hidup di Indonesia dimana semua "bisa seenaknya bicara".

(Diolah dari berbagai sumber)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x