Mohon tunggu...
Muhammad Sultan
Muhammad Sultan Mohon Tunggu... Biasakan menulis

Selalu bersyukur

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Menjadi Guru Mesin "Huruf Vokal"

3 Mei 2021   01:07 Diperbarui: 4 Mei 2021   10:15 131 4 0 Mohon Tunggu...

Setiap tanggal 2 Mei diperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan mengingatkan kembali kelahiran tokoh pelopor pendidikan Indonesia yakni Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Peringatan Hardiknas sebagai wujud penghargaan terhadap jasa dan perjuangan tenaga pendidik (guru dan dosen, selanjutnya disebut guru) dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia (baca- Kompas.com).

Kehadiran guru tidak dapat dipisahkan dari tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan, sesuai amanat UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia (baca-PPG Kemdikbud). Guru perlu memiliki sejumlah persyaratan tertentu untuk mencapai tujuan tersebut. Seorang guru profesional harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan oleh satuan pendidikan tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Profesionalisme dan tanggung jawab guru dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, sudah tidak perlu diragukan lagi. Zaman boleh berubah, tetapi komitmen dan konsistensi guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tidak pernah padam. Tetap menjadi terdepan dalam menciptakan generasi bangsa yang unggul dan berkepribadian. Seorang presiden, politisi, ASN, TNI, Polri, diplomat, pewarta, sastrawan, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya merupakan karya nyata pengabdian guru dalam memajukan pendidikan nasional.

Apakah seorang guru yang telah mengabdikan dirinya sebelum era teknologi informasi, mengalami kesulitan dalam mencetak generasi penerus bangsa saat ini? Tidak pada sebagian guru, tetapi sebagian lainnya mungkin mengalami kesulitan. Era teknologi dan keterbukaan informasi telah "memaksa" dan mengantarkan sebagian guru mampu menjadi pendidik sukses. Akan tetapi, sebagian lainnya mungkin menjadikan teknologi informasi sebagai sebuah momok dan akhirnya guru tersebut menjadi mesin pencetak generasi yang seadanya.

Ketersediaan internet yang mampu menjangkau seluruh pelosok daerah, telah membawa sejumlah perubahan positif dalam dunia pendidikan. Banyak guru yang sukses mengupdate materi ajar dan metode mengajarnya. Pada beberapa kasus, peserta didik justru lebih cepat update teknologi informasi dibandingkan gurunya. Akibatnya, tidak sedikit pula guru yang "slow respon information" menjadi fasilitator pasif dalam setiap diskusi baik di ruang kelas maupun pada forum diskusi lainnya.  

Mengapa masih saja ada guru yang menjadi alergi terhadap teknologi informasi? Mungkin guru seperti ini masih menganggap era teknologi informasi memiliki sejumlah dampak negatif bagi generasi bangsa, sehingga masih mempertahankan bahan ajar dan metode mengajar yang selama ini dilakukannya. Memang, sejumlah anak didiknya telah sukses di bidangnya melalui kemampuan sang guru dalam mengajar. Akan tetapi, bukankah ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengalami perubahan dan berkembang begitu cepatnya? Olehnya itu, seorang guru harus mampu menjadi pendidik profesional dan informatif.

Apakah guru yang gagap teknologi informasi difungsikan saja sebagai guru "serep"? atau jika perlu disarankan pensiun dini? Munculnya pertanyaan ini karena ada kegelisahan akan nasib pendidikan nasional saat ini dan masa depan generasi bangsa. Tidak mungkin seorang guru akan dijadikan serep atau bahkan pensiun dini dari profesinya.

Guru memiliki kewajiban untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat UU (baca- https://ppg.kemdikbud.go.id), sehingga seorang guru tidak mungkin mencederai predikat kemuliaan profesinya hanya karena kegagapan teknologi informasi. Oleh karena itu, guru harus melek teknologi informasi. Pertanyaannya, bagaimana menjadi seorang guru masa kini? Guru harus selalu hadir terdepan, berfungsi sebagai mesin kekinian untuk mencetak generasi unggul. Tentunya, dibutuhkan seorang guru yang memiliki sikap dan ciri kekinian. Penulis akan mengulas sebuah konsep guru masa kini yang dinamakan Mesin A, I, U, E, O. Sebuah pendekatan dalam mencetak seorang guru yang unggul dan kekinian.

Hampir semua kebutuhan seseorang saat ini dapat terpenuhi oleh kehadiran teknologi informasi, tidak terkecuali seorang guru yang ingin tampil dengan gaya mengajar masa kini pun telah difasilitasi oleh teknologi informasi. Cukup dengan menginput kata kunci di mesin pencarian, semua otomatis tersedia. Bukan lagi zamannya seorang guru untuk mengatakan bahwa hasil pemikirannya adalah yang menjadi satu-satunya sumber referensi yang benar, dan pemikiran orang lain dianggapnya salah. Guru kekinian harus mampu meminimalkan dan segera menghilangkan egoisme keilmuannya.   

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di semua aspek kehidupan yang berlangsung saat ini, begitu cepat mengalami perubahan dan berkembang hampir setiap detik. Seseorang yang gagap teknologi informasi, maka akan mengalami ketertinggalan atau ditinggalkan oleh kemajuan iptek. Seorang guru dituntut bekerja secara maksimal, sungguh-sungguh, terukur, dan dapat dinilai berdasarkan parameter kinerjanya. Olehnya itu, seorang guru kekinian harus memiliki kemampuan bersinergi dengan memanfaatkan semua komponen iptek di sekitarnya.

Bagaimana menghadirkan seorang guru masa kini yang tidak egois dan dapat bersinergi? Pertama, seorang guru harus adaptif. Saat ini, semua perkembangan iptek dapat diakses hanya dengan satu perangkat teknologi dalam genggaman. Contohnya, materi pelajaran, hasil riset, dan pemikiran terbaru para ilmuan di bidang tertentu, semuanya dapat diperoleh secara cepat oleh siapapun, cukup dengan satu sentuhan jari. Seorang guru yang adaptif teknologi informasi, dapat menghilangkan egoisme guru tentang sesuatu hal yang selama ini dipertahankannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x