Mohon tunggu...
Muhammad Reza Santirta
Muhammad Reza Santirta Mohon Tunggu... Penulis

Menulis adalah seni

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Muhasabah Diri di Balik Lockdown Virus Corona

25 Maret 2020   12:08 Diperbarui: 25 Maret 2020   12:25 217 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Muhasabah Diri di Balik Lockdown Virus Corona
Ilustrasi Lockdown|https://m.detik.com/news/

Tausiah dari Ustadz A.A. Gym tempo lalu membuat kita sadar bahwa kita tidak boleh takut dengan merebaknya virus Corona secara berlebihan. Sebab, mereka juga termasuk makhluk Allah yang dikirim kepada umat manusia untuk muhasabah diri.

Makhluk mikro bernama virus Covid-19 ini membuat kita harus lebih banyak berdiam diri untuk beribadah dan melakukan hal positif. Meskipun begitu, kita tetap harus melawan virus tersebut dengan tidak bepergian jika tidak ada manfaatnya.

Tulisan ini bukan untuk menggurui ataupun tausiyah. Hanya perenungan dan pengingat dari penulis yang tertarik dengan isu-isu kekinian.

Bahaya yang ditimbulkan makhluk seukuran 150 nanometer itu sampai membuat akses keluar rumah dibatasi atau lockdown. Kecuali jika ada hal penting yang sangat mendesak termasuk pemeriksaan kesehatan.

Fenomena ini sudah pernah diingatkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam persis hadits ini:
"Apabila kalian mendengar wabah Tha'un melanda suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu." (HR. Bukhari Muslim).

Menjadi peringatan bagi kita semua untuk tidak mendekati virus itu jika ingin selamat. Kita tentu ngeri jika virus ini bisa menyebabkan kematian. Sama seperti SARS (2002) dan MERS (2012) yang bisa menjangkiti jantung, paru-paru, dan tenggorokan. Untuk menghindarinya, kita harus memperbanyak berdiam diri di dalam rumah dan menjaga kesehatan tubuh.

Tentu saja kegiatan positif yang harus dilakukan dalam mengisi waktu di dalam rumah. Baik beribadah, berdoa, bercengkerama bersama keluarga, juga introspeksi diri. Banyak hal yang harus dipelajari dibalik merebaknya virus Covid-19 atau Wuhan Disease.

Kita seringkali merasa enteng dengan urusan kecil bahkan lawan yang kecil. Contohnya virus, yang diklaim peluang sembuhnya 94% lebih besar karena bisa hilang dengan sendirinya. Namun yang harus diingat, kita tentu tak bisa melawan virus ini karena kuatnya efek yang ditimbulkan apalagi belum ada obatnya persis kembarannya yaitu virus SARS dan MERS pada tahun 2002 dan 2012 silam.

Kekuatan virus itu tidak mampu dilawan hanya karena tidak terlihat. Bahayanya bahkan lebih dahsyat daripada Tsunami, gempa bumi, banjir, maupun perang fisik karena beda pandangan politik.

Virus ini juga mengajak kita belajar untuk bersatu melawan setiap perbedaan dan persaingan. Sebagai makhluk Tuhan yang tak kasat mata, virus ini 'mengajarkan' kita akan persatuan dan kesatuan dengan menjaga kebersihan, rajin olahraga, dan menyelematkan mereka dengan tidak berkontak fisik.

Berbeda dengan bencana yang terlihat seperti bencana alam hingga perang. Kejadian itu membuat kita mampu waspada karena mengetahui kejadiannya secara kasat mata. Kita bisa berkontak dan bersatu untuk menolong.

Namun, persatuan melawan virus Corona ini malah dilakukan dengan upaya sebaliknya yaitu menjauhkan diri dari orang lain. Dikhawatirkan, manusia satu dengan lainnya bisa membawa virus. Tidak terlihat gejalanya namun puncaknya akan terasa seperti suhu melebihi normal hingga sesak nafas hebat yang memicu kematian.

Muhasabah diri, itulah frase yang bermakna menyadari diri dari setiap kesalahan dan memperbaikinya saat berada di dalam rumah. Rumahku surgaku, itulah pepatah yang menggambarkan kenyamanan rumah sehingga cocok menjadi sarana introspeksi diri.

Jangan sampai munculnya virus ini membuat kita semakin sombong dan melawan takdir Tuhan. Yang harus dilakukan adalah perbanyak berdoa dan berusaha melakukan kebaikan. Jauhkan diri dari hal-hal buruk termasuk ke luar rumah yang potensi dampak virusnya sangat besar.

Setelah menyadari kesalahan dan mampu merubah diri barulah mencapai kebahagiaan. Upaya merubah diri dilakukan dengan beribadah dan menyambung silaturahmi bersama orang tua. Dengan ini, kita bisa belajar berbuat hal positif sehingga bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

Hal itu juga mengingatkan kita akan sebuah hadits, manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Termasuk ketika harus berdiam diri, kita sebenarnya memberi manfaat sebagai upaya menyelamatkan umat manusia dalam bentuk berdiam diri di dalam rumah.

Kita tentu tidak ingin manusia lain menjadi sakit. Jika satu orang merasakan kerugian maka kita pun akan merasakannya. Begitu juga dengan dampak penyakit yang ditimbulkan.

Kita juga harus berikhtiar dengan menjaga kesehatan tubuh dan menghindari lingkungan yang terdampak virus Corona. Juga, kita dapat mencuci tangan setiap 30 menit sekali secara rutin dan tidak sering memegang wajah.

Waktu merebaknya virus ini bisa sangat lama ataupun cepat tergantung ikhtiar kita. Ikhtiar yang semaksimal mungkin dapat mendongkrak jumlah kasus orang positif virus Corona. Jika terus menurun, tentu kita bisa mendapat kebahagiaan karena berhasil menyelamatkan mausia lainnya.

VIDEO PILIHAN