Mohon tunggu...
Muhammad Jabbar
Muhammad Jabbar Mohon Tunggu... Hidup santuy

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di UIN SMH Banten

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Ahli Ibdah tapi Zakatnya Tidak Diterima

30 Mei 2020   22:12 Diperbarui: 30 Mei 2020   22:17 27 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ahli Ibdah tapi Zakatnya Tidak Diterima
pixabay.com

Kisah Tsa'labah

Tsa'labah seorang sahabat Rasulullah yang dahulunya adalah seorang yang sangat miskin namu alim, sampai-sampai dia dikatakan dia memiliki kening yang seperti lutut unta, karena banyak bersudud dalam ibadahnya. Hingga suatu saat Rasulullah mendo'akannya agar menjadi orang yang kaya, namun tiba pada saat membayar zakat, tetapi zakat yang dikeluarkan oleh Tsa'labah di tolak oleh Rasulullah dan amalnyapun tidak diterima oleh Allah SWT.
Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah : 75-76

Artinya:"dan diantara mereka yang telah berikrar kepada Allah;"sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan besedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang sholeh"; Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian daripada karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan memanglah mereka orag-orang yang selalu membelakangi. (O.S. At-Taubah : 75-76).

Diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahli, tentang sebab turunnya ayat ini, bahwa pada mulanya Tsa'labah bin Hathib Al-Anshari senantiasa selalu pergi kemesjid pada saat siang dan malam. Bahawa pada awalnya Tsa'labah bin Hathib Al-Anshari selalu datang kemasjid Rasulullah SAW pada siang dan malam hari. Tsa'labah sangat sering sujud dalam ibadahnya sehingga keningnya seperti lutut unta. Tsa'labah pada saat itu ialah orang yang sangat miskin.

Suatu ketika Tsa'labah dan Rasulullah beserta para sahabat selelasi melaksanakan sholat berjama'ah , tanpa berdo'a Tsa'labah setelah sholatnya langsung pergi meninggalkan masjid. Maka Nabi bertanya kepadanya "kenapakah engkau melakukkan perbuatan orang munafik yaitu dengan tergesa-gesa keluar?" Tsa'labah menjawab " ya Rasulullah, aku keluar karena aku dan istriku hanya memiliki satu kain saja, yaitu pada tubuhku ini. Aku sholat dengan kain ini, sedangkan istriku telanjang di rumah, kemudian aku kembali kepadanya, lalu aku menukar kain ini, barulah dia mengenakannya lalu sholat dengannya. Maka do'akanlah aku kepada Allah agar aku dikaruniai harta". Lalu Nabi SAW berkata "Hai Tsa'labah, sedikit yang kamu syukuri adalah lebih baik dari pada banyak yang tak kuat kamu menanggungnya". Setelah itu Tsa'labah datang kembali kepada Rasulullah dan berkata kembali "Ya Rasululullah, berdo'alah kepada Allah agar aku dikaruniai harta". Rasulullah menjawab "Tidaklah kamu mendapatkan teladan yang baik pada Rasulallah?, Demi Allah yang diriku ada dalam kekuasaan-Nya, sekiranya aku menghendaki gunung-gunung berjalan bersamaku menjadi emas dan perak, maka gunung-gunung itupun akan berubah jadi emas dan perak".

Di waktu yang lain Tsa'labah datang kembali kepada Rasulallah dan berkata "Ya Rasulallah berdo'alah agar Allah mengaruniai harta kepadaku. Demi Allah yang telah mengutus Engkau benar-benar seorang Nabi, sesungguhnya jika Allah SWT mengaruniakan harta kepada ku, pastilah aku akan memberikan hak kepada setiap orang yang yang berhak menerimanya". Maka dengan itu Rasulallah berdo'a "Ya Allah karunikanlah harta kepada Tsa'labah". Maka doa'nya pastilah dikabulkan oleh Allah SWT.
Diriwayat lain dikatakan bahwa Rasulallah setelah mendoakan Tsa'labah, lalu nabi SAW memberikan seekor kambing betina kepada Tsa'labah dan menyuruhnya mengawinkan dengan kambing jantan milik seseorang, maka Tsa'labah pun memelihara kambing lalu dia mengurus kambingnya itu hingga ternaknya itu berkembang biak dan menjadi banyak. Sehingga Madinah pun sesak karena penuh dengan ternaknya itu, Tsa'labah pun pergi dari kota itu dan tinggal suatu  lembah disana, sementara itu kambing ternaknya itu bertambah banyak berkebang biak bagaikan berkembang biaknya ulat. Dan saat itu Tsa'labah masih sempat sholat dzuhur Bersama Rasulallah beserta para sahabat lainnya, sedangkan sholat yang lainnya ia lakukkan ditengah-tengah ternaknya itu.
Kambing-kambingnya itu pun semakin bertambah banyak sehingga karenanya Tsa'labah semakin jauh dari kota Madinah dan kini hanya bisa menghadiri sholat juma'at saja. Kemudin ternaknya itu bertambah dan semakin banyak saja dan Tsa'labah pun semakin jauh pula. Dan akhirnya, dia tidak lagi menghadiri sholat juma'at ataupun sholat lainnya. Apabila tiba sholat jum'at, dia keluar dan menemui orang-orang dan menanyakan berita-berita kepada mereka. Dan kini Tsa'labah benar-benar telah jauh dari Rasulallah.
Lalu pada suatu hari Rasulallah menanyakan Tsa'labah, beliau berkata "Aku sudah jarang melihat Tsa'labah, dimana dia dan apa saja yang dikerjakan nya?". Lalu orang-orang yang mengetahu menjawab "Ya Rasulallah, dia memelihara kambing yang begitu banyak sehingga tidak termuat oleh satu lembah". Mendengar hal itu lalu Rasulallah berkata "Celakalah Tsa'labah!". Dan Allah SWT pun menurukan ayat-ayat tentang zakat, lalu Rasullah menegaskan dua orang laki-laki untuk memungut zakat.  Orang-orang pada saat itu menyambut kedua orang itu dengan zakat mereka masing-masing. Dan akhirnya kedua petugas zakat itu ketempat Tsa'labah, lalu meminta zakat kepadanya dan membacakan surat dari Rasulallah, yang isinya apa-apa aja yang wajib dikeluarkan. Tetapi Tsa'labah tidak mau memberikan zakatnya, dia mengatakan "Ini tidak lain adalah jizyah (pajak), atau sejenisnya, pergilah kalian sehingga aku akan mempertibangkan dan memikirkan dengan benar-benar". Kedua petugas zakat itu kembali Nabi SAW, beliau berkata kepada mereka sebelum mereka sempat berbicara kepada-Nya "oh celakalah Tsa'labah oh celakalah Tsa'labah". Setelah Allah menurunkan ayat Al-Qur'an surat At-Taubah : 75-75,

Artinya:"dan diantara mereka yang telah berikrar kepada Allah;"sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan besedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang sholeh"; Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian daripada karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan memanglah mereka orag-orang yang selalu membelakangi. (O.S. At-Taubah : 75-76).

Sementara itu di sisi Rasulallah ada seorang laki-laki dari kerabat Tsa'labah, dia mendengar perkataan Rasulallah dan firman Allah yang disampaikan oleh Rasulallah, lalu kerabat rasulallah itu berkata dan mendatangi Tsa'labah dan berkata "Celakalah kamu hei Tsa'labah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat mengenai engkau". Setelah mendengar dari kerabatnya, maka Tsa'labah pun pergi mendatangi Nabi SAW dengan menyerahkan zakat kepada beliau. Namun Nabi SAW berkata: "sesungguhnya Allah melarang aku menerima zakat darimu". Mendengar penolakan itu, kemudian Tsa'labah menaburkan tanah katas kepalanya, tetapi Nabi SAW bahkan mengatakan, "beginilah perbuatanmu sesungguhnya aku telah menyuruhmu, tetapi kamu tidak mematuhi aku". Maka pergilah Tsa'labah dengan zakat yang ditolak oleh Rasulallah SAW.
Dan berjalannya waktu samapai tiba waktu wafatnya Rasulallah SAW, dan kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq Ra. Kemudian datanglah Tsa'labah membawa zakatnya kepada Sayyidina Abu Bakar Ra dan berkata "Terimalah zakatku". Namun Sayyidina Abu Bakar menolak seraya berkata "Rasulallah SAW tak sudi menerima zakat itu darimu, haruskah aku menerimanya, padahal Allah tidak menerimanya?". Kemudian samapailah dimasa kekhalifahan Sayyidinia Umar bin Khatab Ra, dan Tsa'labah datang membawa zakatnya itu kepada Sayyidina Umar Ra dan berkata "Terimalah zakatku", dan Sayyidinia Umar pun menjawab "kedua pendahuluku tidak sudi menerima zakat itu darimu, haruskah aku menerimanya, padahal Allah tidak menerimanya?". Selanjutnya tibalah masa kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan Ra, dan Tsa'labah pun datang kepadanya dengan membawa zakatnya dan berkata "Terimalah zakatku", maka Sayyidina Utsman menjawab pula "Para pendahuluku tak sudi menerima zakat darimu. Haruskan aku menerimanya, padahal Allah tidak menerimanya?".
Tsa'labah akhirnya meninggal dunia pada masa kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan Ra, semua hukuman ini adalah akibat kekikiran, mencintai harta, dan tak mau berzakat. Dan juga oleh karena menyalahi janji itu merupakan sebab kemunafikan, maka melahani jani itupun di anggap sepertiga nifak (seperti munafik), sebagaimana diisyaratkan bahwa, tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu : apabila berbicara, dia berbohong. Apabila berjanji, ia menginkari. Dan apabila dipercaya, ia berkhiyanat. (H.R Ibnu kamal Basya dan Hayyatul Kulub).

Sumber : Ceramah Agama

VIDEO PILIHAN