Mohon tunggu...
Muhammad Febin Agustian
Muhammad Febin Agustian Mohon Tunggu... Mahasiswa pendidikan bahasa inggris

mahasiswa pendidikan bahasa inggris fakultas bahasa dan ilmu komunikasi UNISSULA

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Peran Digital Literasi terhadap Perkembangan Islam di Era Teknologi Industri 4.0

25 Juni 2021   04:00 Diperbarui: 25 Juni 2021   04:02 70 1 0 Mohon Tunggu...

Oleh Dr. Ira Alia Maerani; Muhammad Febin Agustian
Dosen FH Unissula; Mahasiswa PBI 19, FBIK

Di era Industri .0, tiga keterampilan literasi baru perlu dipelajari. Ketiga keterampilan literasi tersebut adalah literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Tantangan untuk memperoleh keterampilan di masa depan sangat berat.

Kita memasuki era revolusi industri 4.0 Revolusi Industri 4.0 merupakan era dimana dunia industri digital telah menjadi model dan standar kehidupan saat ini. Dengan era Revolusi Industri 4.0 datang era kehancuran. Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan zaman yang bergejolak membutuhkan “pengetahuan baru” sekaligus pengetahuan lama. Sastra lama yang ada hingga saat ini berfungsi sebagai modal kehidupan manusia. Fungsi baca dan tulis adalah fungsi baca dan tulis.

Pengembangan literasi sangat penting karena literasi merupakan kemampuan pertama yang dibutuhkan setiap individu untuk hidup di masa depan. Literasi kuno mencakup kemampuan untuk memodifikasi. Pengetahuan baru, di sisi lain, termasuk melek data, paham teknologi, dan paham manusia. Literasi data mengacu pada kemampuan membaca, menganalisis, dan menarik kesimpulan yang bijaksana berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. Pengetahuan teknis mencakup kemampuan untuk memahami cara kerja mesin. Menerapkan dan menggunakan produk teknologi berbasis teknologi untuk hasil yang optimal. Literasi manusia mencakup keterampilan dalam komunikasi, kerjasama, berpikir kritis, kreativitas dan inovasi. Literasi di era Industri 4.0 menjadi topik yang perlu dibahas oleh peneliti.

Hal ini menunjukkan bahwa mengakui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan upaya memahami situasi zaman. Suka atau tidak suka, komunitas harus mengikutinya. Umat manusia harus memperbarui cara hidup dan semangatnya dengan setiap revolusi di segala bidang. Ini seperti sebuah program dalam bidang studi yang selalu berubah. Hal ini terjadi karena kurikulum bahasa Indonesia senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan saat ini yang dihadapi komunitas pendidikan dengan proses pembelajaran adalah tidak hanya menekankan konsolidasi keterampilan literasi lama, tetapi juga merangsang penguatan keterampilan baru yang menarik. Literasi diintegrasikan ke dalam pemberdayaan ilmiah dan profesional. Oleh karena itu, diperlukan arah perubahan baru dalam pelaksanaan pekerjaan pendidikan baik pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Sumber-Sumber Informasi Dalam Islam

Dalam pandangan islam setidaknya terdapat empat sumber informasi, yaitu :

  • Al Quran dan Sunnah (Hadist) Rasulullah SAW. Dalam kehidupan muslim, wahyu dan sunnah adalah basis utama dari informasi yang menjadi pandangan hidup (worldview), model berfikir dan acuan dari cara bertindak.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ      

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS Yünus (10): 57)

  • Di dalam kitab at-Tahrir wa at-Tanwir, Ibn Asyur menjelaskan bahwa, penggunaan kata ja’a adalah al-maji’ yang dimaknai secara majazi yang berarti mengumumkan (al-i’lam) dan menyampaikan (al-bulūgh). Berdasarkan hal ini, maka al-Quran dari segi informasi memiliki beberapa kandungan, yaitu mauizhah, syifa’, hudan, rahmah, dan ibrah. Fungsi pertama (mauizhah) al Quran tidak hanya ditujukan kepada orang beriman saja, tetapi juga umat manusia secara umum, namun yang bisa mendapatkan mauizhah al-Quran hanyalah orang-orang yang beriman (Ibn Asyur: 11, 200).
  • وَالۡقُرۡاٰنِ الۡحَكِيۡمِ  اِنَّكَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِيۡنَۙ  عَلٰى صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيۡمٍؕ‏  تَنۡزِيۡلَ  الۡعَزِيۡزِ الرَّحِيۡمِ
  • “Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang,” (QS Yasin (36) : 2-4)
  • Alam semesta dan lingkungan. Peredaran bumi dan matahari, pergantian siang dan malam, tetumbuhan, hewan, sungai, gunung, lautan adalah sumber informasi bagi manusia, karena menimbulkan keingintahuan dan memberi jalan pemahaman terhadap sebuah pengetahuan [QS Āli ‘Imrān (3): 190-191; QS al-Ghāfir (40): 57; QS al-Ghāsyiyah (88): 17-20].
  • إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
  • “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Āli ‘Imrān (3): 190-191)
  • خَلۡقُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ اَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ النَّاسِ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَ النَّاسِ لَا يَعۡلَمُوۡنَ
  • “Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS al-Ghāfir (40): 57)

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ  وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ


  • “Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana dicip[1]takan? dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan? Dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS al-Ghāsyiyah (88): 17-20)
  • Realitas, peristiwa, dan sejarah. Apa yang terjadi hari ini dan kemarin adalah sumber informasi yang dapat memberi pengaruh pada pemikiran dan tindakan tertentu yang dilakukan manusia [QS Yusuf (12): 111].
  • لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ
  • “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebel[1]umnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yusuf (12): 111)
  • Manusia, baik sebagai individu maupun dalam konteks sebagai anggota suatu kelompok. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dibanding makhluk lainnya (QS at-Tin (95): 4 dan QS Ibrahim (14): 4), sehingga memiliki kemampuan untuk memproduksi, mengelola, dan menyebarluaskan informasi. Di antara kemampuan itu adalah cara komunikasi melalui penciptaan simbol seperti bahasa, sehingga memungkinkan cara berinteraksi melalui penyebaran informasi yang lebih kompleks.
  • لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِيۡمٍ
  • “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS at-Tin (95): 4)
  • وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۗفَيُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
  • “Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.” (QS Ibrahim (14): 4)


Literasi dalam perspektif umum

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN