Mohon tunggu...
Muhammad Nashruloh
Muhammad Nashruloh Mohon Tunggu... aku tidak memiliki cukup banyak pengalaman yang menyenangkan. jalan cerita hidupku dan dunia ini tidak sesuai keinginanku. aku sedang menunggu teknologi yang bisa membuatku immortal.

Pernah belajar filsafat di Fakultas Filsafat UGM

Selanjutnya

Tutup

Film

Review Film Apocalypse Now (1979): Brutal, Psikis, dan Misi

9 Maret 2021   16:46 Diperbarui: 9 Maret 2021   17:24 58 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Review Film Apocalypse Now (1979): Brutal, Psikis, dan Misi
(https://static.metacritic.com)


Apocalypse Now (1979) adalah film perjalanan seorang tentara U.S. berpangkat captain bernama Benjamin L. Willard yang diperankan oleh Martin Sheen. Film ini disutradarai oleh Francis Ford Coppola yang isunya mengahabiskan begitu banyak waktu dan biaya untuk produksinya. Film dibuka dengan scene keadaan Kapten Willard yang justru mengalami kebosanan karena tidak memiliki misi. Willard merasa lebih hidup ketika berada dimedan perang dibandingkan kenyamanan ranjang tidur. Ketika berada jauh dari medan perang, Willard justru merindukan kehidupannya dihutan. Kehidupan satu pekan yang dirasa Willard penuh dengan kehampaan dan kekosongan akhirnya usai dengan datangnya dua orang tentara yang membawa kabar bahwa dirinya mendapatkan sebuah misi. Kapten Willard mendapat misi rahasia yang tidak diakui secara resmi untuk membunuh tentara U.S. berpangkat colonel bernama Walter E. Kurtz yang diperankan oleh Marlon Brando. Kolonel Kurtz yang sedang bertugas di Perang Vietnam dianggap telah melenceng dari komando pusat. Singkat cerita Willard melakukan perjalanan mencari lokasi Kolonel Kurtz ditemani oleh beberapa tentara.  Pemandangan mayat disana-sini adalah landscape yang wajar ada ditiap titik perhentian Kapten Willard. Pertemuan dan percakapan dengan Kolonel Kurtz membuat Kapten Willard bimbang antara misi atau opini pribadinya. Willard sendiri adalah tokoh berkarakter pendiam cenderung misterius yang dimainkan dengan cukup apik oleh Martin Sheen. Hampir tiap tokoh pendukung film selain figuran, memilki pengalaman sebelum dan selama perang yang berbeda-beda. Inilah yang membuat tiap tokoh menjadi unik. Inilah salah satu kekuatan dari film Apocalypse 

Coppola memberi gambaran kepada kita sebagai penonton bagaimana tentara U.S. “membombardir” wilayah Vietnam secara brutal. Lalu yang coba dijawab oleh Coppola adalah pertanyaan apa yang membuat tentara U.S. begitu brutal? Jawaban yang disediakan oleh Coppola melalui Apolacypse Now (1979) adalah kondisi perang yang berkepanjangan membuat tentara frustasi (kebanyakan ingin pulang kembali ke Amerika). Produknya adalah aksi militeristik brutal yang diluapkan kepada warga lokal. Salah satunya scene dimana Willard dan tentaranya yang menaiki kapal perang berpapasan dengan perahu pedagang lokal. Ketidaksabaran tentara Willard dalam menggeledah isi perahu menjadi alasan melayangnya nyawa semua orang yang berada di perahu pedagang itu. Dan kebanyakan suasana ditiap scene adalah sama mencekamnya dengan kejadian tersebut. Raut muka dan dialog penuh kepuasan pasca aksi pembantaian diwajah tentara U.S diperlihatkan dengan apik. Film ini mengantarkan penonton kepada visualiasi keadaan masa perang Vietnam. Appocalypse Now (1979) masih menjadi film perang terbaik sejauh ini meski empat dekade telah berlalu.

Coppola seolah ingin mengatakan bahwa film perang bukan hanya tentang ledakan, darah dan kematian ditiap scene. Ada efek yang lebih dekat dengan kita sebagai individu dan juga makhluk sosial. Efek yang lebih sulit dihapuskan dari ingatan. Efek yang didapatkan tidak hanya oleh warga lokal dimana perang terjadi tetapi juga oleh tentara dikedua belah pihak. Coppola “sepertinya” ingin memberikan nasihat kepada dunia bahwa efek psikis bagi tentara yang menjalani perang sangat mengerikan. Apalagi jika yang mengalami goncangan seorang tentara berpangkat tinggi.  Brutalitas tentara “bawahan” kepada warga sipil terutama anak-anak yang jelas-jelas tidak bersenjata adalah salah satu akibatnya. Meski seorang tentara seyogyanya memiliki pengetahuan bahwa hak hidup adalah hak paling dasar. Culture “feodalisme” yang dibangun membuat perintah atasan harus dilakukan tanpa tedeng aling-aling atau dipertanyakan lagi oleh si penerima perintah. Embel-embel nasionalisme dan patriotisme seringkali dijadikan pembenaran terhadap kekerasan sipil, penyerangan terhadap suatu negara, individu berpengaruh dan kelompok progresif revousioner setempat. Idealnya seorang tentara seharusnya menempatkan humanisme diatas dua isme yang telah disebutkan. Tentara adalah profesi yang baik dan fungsinya dibidang keamanan tentulah sangat penting. Tetapi, tentara perlu menyadari bahwa dibalik profesi ada manusia yang seharusnya memliki kehendak bebas untuk memutuskan sesuatu meski nantinya bertentangan dengan perintah dan akibat terburuknya dieksekusi sebelum masuk ke pengadilan militer.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x