Mohon tunggu...
Muhammad Andi Firmansyah
Muhammad Andi Firmansyah Mohon Tunggu... Pelajar

Kekacauan dalam diri melahirkan bintang yang menari.

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas Pilihan

Sekolah Impianku yang Nyeleneh!

8 Maret 2021   08:06 Diperbarui: 8 Maret 2021   08:15 73 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sekolah Impianku yang Nyeleneh!
Sekolah rintisanku tidak akan menjanjikan ijazah atau gelar | Ilustrasi oleh Mijung Park via Pixabay

Seorang anak berbaju lusuh tersenyum padaku seperti menuduh. Pikiranku sedikit gemuruh, hatiku sangat terenyuh. Aku bisa mendengarkan kata-kata yang terucap dalam hatinya:

"Hei, kamu yang berseragam sekolah dengan pantasnya, lihat aku yang bahkan selalu bingung ingin memakai baju apa. Bukannya aku punya banyak baju, tapi justru sedikit sekali. Enak ya, pagi-pagi diantarkan dengan mobil menuju sekolah. Dan di sana kamu tertawa riang bersama teman tanpa beban.

Aku juga ingin belajar. Aku ingin bersekolah! Jika keadaan ekonomi sangat menyiksaku, setidaknya berilah aku kesempatan agar tak menderita karena kebodohan."

Duh, seandainya dia bisa mendengar juga apa kata hatiku, "Dek, aku benci ini! Aku dipaksa tunduk pada suatu sistem yang terkadang membatasi, kegiatan terjadwal yang terkadang membunuh inovasi, dan selingkupan aturan yang terkadang memancing frustrasi."

Mendengar kata "sekolah", pada umumnya seseorang akan membayangkan suatu tempat di mana orang-orang melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar atau mengaji sesuatu.

Padahal, dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti waktu luang atau waktu senggang.

Pada mulanya, orang Yunani tempo dulu sering mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang ahli dalam hal tertentu untuk mempertanyakan hal ihwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui.

Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah skhole, scola, scolae atau schola.

Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang untuk mempelajari sesuatu itu, akhirnya, diberlakukan bagi putra-putri orang-orang Yunani kuno, terutama anak laki-laki yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah.

Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya.

Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat tertentu. Dalam perkembangannya yang cukup panjang, sekolah pun berevolusi menjadi lembaga resmi yang mewujudkan diri dengan segala "kurikulumnya".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN