Sosbud Artikel Utama

Mudik, Jihad Khas Nusantara

13 Juni 2018   05:21 Diperbarui: 14 Juni 2018   15:42 1815 3 0
Mudik, Jihad Khas Nusantara
Ilustrasi oleh KOMPAS.id/JULIAN SIHOMBING

Jika ada tradisi besar yang khas di Indonesia, barangkali yang paling berdampak sistemik adalah mudik. Sesuai dengan namanya, mudik yang berasal dari kata udik, merupakan fenomena pulang kampung pada saat lebaran. Berdampak sistemik karena tidak hanya sebuah tradisi biasa, tetapi juga mempengaruhi sektor sosial, ekonomi, infrastruktur bahkan regulasi. Konon fenomena mudik ini sangat kental dan cenderung khas pada masyarakat Indonesia.

Lalu lintas mudik selalu menjadi trending topic pemberitaan media. Liputan-liputan tentang mudik selalu menjadi informasi "penting" baik bagi para pemudik, maupun bagi para keluarga yang menunggu di rumah. 

Kuli tinta beserta perangkat peliputan live selalu menghiasi beberapa titik persinggungan arus mudik. Para polisi berjibaku mengamankan arus mudik, bahkan harus merelakan diri untuk tidak mudik dan merayakan lebaran bersama keluarga. Terminal padat. Pelabuhan, stasiun dan bandara tak mau kalah. Bahkan tiket kereta api untuk mudik sudah terjual habis beberapa bulan sebelum puasa.

Di jalan raya, riuh-rendah para pemudik meramaikan lalu lintas. Mulai sepeda motor dengan barang bawaannya, yang bisa menyulap bentuk motornya, kendaraan roda empat dengan aksesoris yang mampu menumpuk semua barang di atas mobil, sampai bus-bus yang tidak mau kalah dengan muatan sarat penumpang. Untungnya pemerintah memberlakukan regulasi khas lebaran, semua kendaraan berat, khususnya truk tidak boleh beroperasi setidaknya H-5. Semua itu demi satu tujuan, mudik.

Seorang teman pernah berkata, "Mudik itu jihad".

Betapa tidak, untuk pulang ke kampung halaman, harus menyiapkan tiket jauh-jauh hari. Rela berdesak-desakan, bergumul dengan banyak orang, harus menguji kesabaran, dan itu dilakukan dalam keadaan puasa. Belum lagi deposit uang yang disiapkan haruslah cukup, untuk bagi-bagi dengan sanak saudara di kampung. Sehingga ada beberapa orang yang harus rela "kalah", tidak bisa mudik, merelakan diri menikmati kesenyapan ibu kota.

Kohesi sosial dan spiritual
Terlepas dari semua itu, mudik adalah fenomena unik. Mudik menandakan bahwa kerapatan (kohesi) sosial masyarakat kita sangatlah kuat. Ada jiwa primordialisme yang harus dipertahankan, ke mana pun dan apapun yang terjadi, saya harus selalu ingat pada tanah air tempat kelahiran.

Dalam bahasa agama, nalar silaturrahim ummat masih sangat terjaga. Terkadang, mudik yang harus dilakukan berdarah-darah itu hanya untuk barang satu dua hari bertemu keluarga. Namun momentum yang singkat itu sangat berarti.

Mampu meruntuhkan segala kerinduan, beban, disparitas jarak, dan yang paling penting semangat dan keyakinan ampunan dan ridho keluarga mengucur deras pada hari raya Idul Fitri.

Hal ini yang sekiranya tidak tergantikan, hanya bisa dibayar dengan mudik. Kalau sekadar kangen, mungkin bisa disiasati dengan media video call. Kalau hanya informasi kabar, ada handphone, ada SMS, ada media sosial. Namun spiritualitas silaturrahim tampaknya tidak mampu termediakan, selain mendekap dan bertatap muka dengan keluarga.

Idul Fitri bagi masyarakat muslim di Indonesia adalah momentum. Bingkai agama menjadi penguat fungsi kekerabatan dan keguyuban masyarakat. Ajaran agama untuk saling memaafkan dalam kerangka besar "kembali fitrah", merupakan dimensi spiritual yang mampu membangun sebuah tradisi.

Mudik merupakan kearifan Nusantara, yang mampu membangun lanskap keberagamaan dan teo-antropologi masyarakat yang khas Indonesia. Tradisi halal bihalal, kiranya menjadi "hilir" bagaimana kompleksitas mudik itu bermuara. 

Halal bihalal yang tampaknya bahasa Arab, namun tidak akan ditemukan dalam ensiklopedia Arab ini memberi peran penting dalam epistemologi mudik, di mana untuk bisa kembali fitri (Idul Fitri), maka kita harus saling memaafkan antar sesama. 

Dan segala dosa dan kesalahan antar manusia itu akan berguguran jikalau kita mampu saling memaafkan melalui mushafahah, bersalam-salaman. Bersalaman itu meniscayakan atanya kontak langsung, telapak tangan dengan telapak tangan, mata dengan mata, bahkan dalam tradisi Jawa ada lafal "ijab qabul" yang harus diutarakan. Dan semua ini memungkinkan adanya pertemuan secara langsung. Di sinilah barang kali akar tradisi mudik dimulai.

Relasi agama dan budaya di Nusantara ini telah berjalin kelindan dan mengakar dalam sistem sosial. Varian tradisi dan budaya yang terbangun, semata-mata sepuah proses menghadirkan agama dalam kehidupan sosial. 

Mudik, bagaimana pun merupakan persinggungan spiritualitas, kohesi sosial dan kearifan budaya yang melebur, menghasilkan produk kebudayaan yang khas ala Indonesia.

Dalam dimensi lain, mudik hakekatnya adalah pelajaran, bahwa di mana pun kita, siapa pun kita, pada saatnya kita akan kembali pada sangkan paraning dumadi, pulang pada sang pencipta.

Dan sebaik-baik bekal yang harus kita siapkan adalah taqwa (Q.S., 2: 197).