Sejarah

Jika ke Kudus, Mampirlah ke Musium Purba Patiayam

24 Mei 2018   04:32 Diperbarui: 24 Mei 2018   04:46 497 0 0
Jika ke Kudus, Mampirlah ke Musium Purba Patiayam
dokpri

Memasuki gerbang menuju lokasi musium situs Patiayam, kita akan disambut dengan dua gading melengkung. Musium Situs Patiayam atau museum purbakala ini terletak di Desa Terban Kecamatan Jekulo, kecamatan paling timur dari kabupaten kudus dan berbatasan dengan kabupaten Pati. Setelah masuk gapura Gading, kita akan menyusuri jalan beton dan aspal sekitar satu kilometer. Selanjutnya, kita akan mlihat bangunan putih, dengan empat pilar tinggi yang menyangga "teras" gedung lantai dua ini.

Museum ini dibangun sekitar tahun 2005, pada area yang luas milik pemerintahan desa. Berawal dari temuan seorang petani yang sedang menggali di ladang miliknya.  Temuan artefak gading gajah purba ini sekemudian menghebohkan masyarakat. Hingga akhirnya mengundang para peneliti untuk mengadakan riset mendalam terhadap situs tempat ditemukannya artefak, di gunung Patiayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa artefak rangka yang ditemukan merupakan kerangka stegodon, gajah purba yang berusia ribuan tahun. Sepasang artefak gading Stegodon tersebut, saat ini menjadi koleksi museum, dan dipamerkan tepat di depan pintu masuk museum.

Sampai sekarang, tim peneliti masih melakukan konservasi terhadap temuan-temuan yang sudah dikumpulkan. Kesimpulan awal meyakini bahwa ada peradaban manusia purba di pati ayam, yang setidaknya didukung oleh tiga data temuan. Pertama, adanya sisa hominid, yakni adanya sisa-sisa kehidupan manusia purba. Kedua, adanya sisa lingkungan purba, yaitu temuan fosil-fosil vertebrata dan avertebrata. Ketiga, adanya data budaya, dengan ditemukannya alat-alat bantu yang digunakan manusia purba. Sehingga situs Pati ayam ini bisa disejajarkan dengan situs purbakala sebelumnya, seperti situs sangiran, Trinil, Ngandong dan lainnya.

dokpri
dokpri
Musium situs Patiayam ini akan sangat ramai ketika masa liburan. Namun pada hahari-hari biasa, musium terlihat sepi. Sebenarnya, museum ini bisa menjadi media pembelajaran bagi para siswa, khususnya yang berkenaan dengan materi tentang manusia purba dan srejarah peradaban. Hanya saja masih memerlukan pengembangan, khususnya sarana-prasarana yang mendukung keberadaan musium. "Jika artefak rangka stegodon ini direkonstruksi, maka ruanganya tidak memadai. Karena bentuknya akan lebih besar dari replika yang telah ada" ungkap penjaga musium, sambil menunjuk replika gajah purba besar yang ada di ruang utama museum.

 Jika pengunjung hendak menyaksikan langsung lokasi penemuan fosil purba, maka bisa langsung menuju lokasi yang berjarak sekitar 3 kilometer dari museum. Sepanjang jalan akan ada papan petunjuk yang mengarahkan pada gardu pandang, tempat temuan situs Patiayam ini. Hanya saja ketika memasuki area persawahan, jalan menuju ke lokasi gardu pandang hanya terdiri dari beton sempit yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. 

Itupun dengan medan yang licin dan banyak kerusakan jalan. Di gardu pandang, kita bisa melihat jejak galian dimana ditemuannya fosil dan artefak purba, yang bagian atasnya sudah dilapisi dengan kaca, untuk menjaga situs ini. Karena situs Patiayam ini sudah menjadi cagar  budaya yang harus dilestarikan.