Mohon tunggu...
Andi MuhaiminDarwis
Andi MuhaiminDarwis Mohon Tunggu... Relawan - Menulislah. Sebelum kenangan indah terbuang sia-sia. Hargai hidupmu lebih dari siapapun itu.

Teknik Sipil 2015, Univ. Muhammadiyah Makassar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mari Budayakan "Nyetem" Motor Mogok

27 Juli 2019   13:37 Diperbarui: 27 Juli 2019   13:40 136 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Siang tadi, ketika hendak bertemu dengan kawan, Aku melihat seorang lelaki dewasa berbadan gemuk tengah mendorong motor. Di tengah ramainya kota, dari jauh kuperhatikan tak ada satupun pengendara yang menyalakan lampu sein kemudian menghampirinya. Keringatnya yang bercucuran hebat membuatku begitu iba.

Aktifitas mendorong motor yang mogok dengan kaki belum saya temukan kata bakunya di KBBI. Ada yang menyebutnya 'nyetem', 'stut', dan di Makassar sendiri disebut 'tonda'. Entah dari mana kalimat tersebut berasal. Yang jelasnya, kutanyakan lelaki bermandikan keringat tersebut lalu menawarkannya bantuan untuk menuju Pom Bensin dengan segera.

Dapat dikatakan, aktifitas mendorong motor mogok adalah hobiku yang tak tertulis. Aku melakukannya semenjak duduk di bangku SMA. Kala itu, Aku begitu takut ketika terjadi hal yang tidak diinginkan di tengah jalan tanpa kawan. Maka sepertinya ide menarik dan mulia jika perasaan kesendirian tersebut tidak dialami oleh orang lain, dengan cara membantu mendorong motornya yang kehabisan bahan bakar.

Bergelut di bidang dorong mendorong motor mogok, ada pengalaman miris yang tak terlupakan ketika Aku masih berada di semester 4 kala itu. Kejadiannya di Galesong Utara, Takalar. Malam itu, Aku bersama rekan sekelas (kurang lebih 10 orang) berboncengan 5 motor dalam perjalanan pulang setelah asistensi tugas di rumah Dosen. Jalanan lumayan gelap karena lampu jalan belum diperadakan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu rumah warga, toko, dan lampu kendaraan yang lewat.

Dari kejauhan, lampu motorku menyorot dua orang, yang setelah kuhampiri ternyata seorang Bapak tua dengan anak perempuanyang masih lengkap dengan baju seragam SMPnya sedang mendorong motor yang kehabisan bahan bakar. Kami yang begitu emosi karena tugas yang ditolak oleh Dosen, lantas melewatinya meski dengan ragu. Namun setelah 100 meter,saat teman-teman yang lain asyik beradu kecepatan, Aku dan boncengan serta salah seorang teman berhenti dan berbalik arah untuk membantu Bapak dan seorang anak tadi. Kami sempat berdiskusi singkat, tentang Bapak yang mendorong motor pada pukul 10.30 WITA, dengan anak yang masih menggunakan seragam biru putih lengkap. Pasti motornya sudah mogok sejak dari jauh.

Kami mengejarnya, dan mendapatinya sedang beristirahat di depan toko. Kutanyakan masalahnya, dan dimana beliau tinggal. Rupanya betul bahwa motornya kehabisan bahan bakar. Rumahnya sekitar 1 km dari lokasi. Tanpa basa basi, Aku menawarkan bantuan dan mulai mendorong motor tuanya dengan kaki kiri pada knalpotnya. Sedangkan, kedua rekanku pada motor lain yang tengah letih, memutuskan menunggu di tempat Bapak tua tersebut beristirahat.

Bengkel sekaligus penjual bensin kudapatkan sekitaran 200m dari lokasi sebelumnya. Bapak tersebut mengucapkan terima kasih dengan setengah senyum, lalu Aku yang berboncengan dua dengan teman kamudian pamit. Ketika beberapa meter Aku pergi, mereka berdua tetap menyorot kami dengan senyum. Sepertinya mereka begitu senang dan merasa terbantu. Kami berdua begitu bangga dengan amalan yang baru saja kami lakukan.

Aku menancap gas, kemudian melihat temanku di lokasi peristirahatannya, lalu hanya kuisyaratkan dengan bunyi klakson motor untuk langsung jalan mengikutiku. Aku dan rekan boncengan yang awalnya begitu emosi, kemudian begitu kegirangan di tengah jalan. Kami merasakan sensasi dari kebaikan, seperti terlahir sebagai manusia sejati. Sedangkan, motor rekan kami di belakang seperti berusaha beradu kecepatan.

Kami berempat dengan dua motor kemudian berhenti di sebuah masjid, karena hendak buang air kecil. Cerita tentang Bapak tersebut yang tersenyum kami lanjutkan di masjid. Ternyata, rekan kami yang letih tadi, melihat keanehan. Bapak dan anak perempuan tersebut awalnya beristirahat di depan toko yang juga menjual bensin botolan. Lalu mengapa tidak membelinya? Belasan tanya kemudian hadir di pikiran kami berempat. Namun, argumen yang paling kuat adalah bahwa Bapak tersebut mungkin tidak memiliki uang untuk membeli bensin!

Segera kami susul Bapak tersebut tanpa rem. Boncenganku yang hendak buang air kecil seketika panik. Setelah 5 menit menyusuri jalan lurus, kami mendapati titik perpisahan kita dengan Bapak tersebut. Rupanya Bapak tersebut telah pergi. Kutanyakan kepada pemilik bengkel, ternyata betul bahwa Bapak tersebut sedang tidak memiliki uang. Bapak tua dengan seorang anak perempuan itu hanya menitipkan Kartu Identitas kepada pemilik bengkel karena tak mampu membayar dua botol bensin yang dibelinya, dan meminta maaf pada pemilik bengkel karena kemungkinan beliau baru dapat membayarnya dua hari kemudian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan