Mohon tunggu...
Andi MuhaiminDarwis
Andi MuhaiminDarwis Mohon Tunggu... Menulislah. Sebelum kenangan indah terbuang sia-sia. Hargai hidupmu lebih dari siapapun itu.

Teknik Sipil 2015, Univ. Muhammadiyah Makassar.

Selanjutnya

Tutup

Film

Kritik terhadap Film "Sexy Killers"

15 April 2019   16:22 Diperbarui: 15 April 2019   16:41 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kritik terhadap Film "Sexy Killers"
dokpri

Perlu diakui, perkembangan industri film dokumenter di Indonesia sedang berada pada masa keemasannya. Film Jagal (2012), Senyap (2015) dan sederetan film lain telah menghiasi dan membuka pikiran publik dengan kehadirannya yang begitu bermakna.

Sehari yang lalu, hadir sebuah film dokumenter terbaru oleh akun Watchdoc Image yang sangat booming, khususnya pada kalangan mahasiswa. Berbagai acara nonton bareng diadakan secara massal di berbagai kota dari Sabang sampai Merauke. 

Oh ya, film dokumenter ini menceritakan tentang ironi dibalik kekayaan alam Indonesia. Mengangkat kisah-kisah pedih dan getir rakyat Indonesia dari tambang batu bara satu ke tambang yang lainnya. Sisi yang amat menarik dari film ini adalah ulasannya yang sangat komprehensif. Mulai dari korban, saksi, penanggung jawab, aktivis sosial dan opini pemerintah dihadirkan pada film dokumenter berdurasi  kurang lebih 1 jam 30 menit itu. Dalam waktu 1 hari, film ini tercatat diakses oleh 1,2 juta perangkat dari seluruh penjuru dunia.

Perlu  saya akui, bahwa film ini sangat baik untuk edukasi pelajar, aktivis, dan pemerintah. Pelajar menjadikan film tersebut sebagai acuan dalam berdemonstrasi, aktivis menjadikannya acuan dalam bergerak, dan pemerintah menjadikan film tersebut sebagai informasi yang cukup untuk mencari pembelaan pada rakyat yang akan (dan pasti) menuntut.

Pada berbagai diskursus dan lepas dari acara nonton bareng, banyak pemuda yang amat agresif menyerang  dengan isu kapitalisme dan oligarki pemerintahan dengan bukti bahwa begitu besarnya nama seorang Luhut Pandjaitan. Terlebih lagi, banyaknya korban yang berguguran walaupun lebih banyak korban yang hidup melawan namun tertahan.

Sebagai mahasiswa teknik, saya melihat film ini dari segi yang lain. Beberapa dari disiplin ilmu saya sendiri, beberapa dari sekadar logika saja. Dokumenter tersebut amatlah baik sebagai kritik nasional. Namun ada hal yang terlupakan untuk mengategorikan film tersebut sebagai karya yang sempurna dan berimbang.

Indonesia sebagai negara dengan produksi batu bara sebesar  319 juta ton pada 2018 yang lalu, membuat republik ini sebagai penghasil batu bara terbesar ketiga di bumi, setelah China dan Amerika. Sehingga cukup waras apabila pemerintah menggunakan kekayaan alam tersebut sebagai salah satu kekuatan energi negara. 

Sebenarnya, yang tergambar pada film tersebut hanyalah sekitar 65% dari target pemerintah. Artinya, pemerintah ingin menggalakkan lagi produksi-produksi batu bara pada langkah-langkah berikutnya. China dan Amerika terbukti berhasil dengan produksi-produksi batu baranya, sehingga kita harus mempertimbangkan kembali untuk melakukan demonstrasi penutupan tambang batu bara Indonesia, terlebih lagi mengingat hidup kita sendiri yang terlalu konsumtif dan mubazzir listrik. Silahkan saja hitung berapa jumlah lampu, alat elektronik yang terkait di rumah anda. Hal itulah yang membuat pemerintah wajib membuka PLTU untuk melayani anda, tuan-tuan sekalian.

Hal yang mengejutkan dari dokumenter tersebut adalah hadirnya sosok-sosok calon pemimpin idola masyarakat yang digambarkan memiliki peranan dan seolah dengan kebengisannya, melakukan aksi kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan ternama. Melihat gambar seluruh pejabat tersebut, membuat saya merasa kasihan dengan negeri ini yang dengan uang, mereka bisa mendapatkan segalanya, termasuk merebut kesenangan hidup kaum petani. 

Namun pada beberapa gambar, saya melihat flim ini berupaya memojokkan citra pengusaha tambang dan orang-orang terkait, sebagai sosok yang bermain dalam kebusukan. Terlalu memaksakan saya kira untuk mengaitkan seorang Joko Widodo, Jusuf Kalla, Ma'ruf Amin, Prabowo Subianto, dan beberapa tokoh lainnya. Jika kita terus menerus melihat dengan perspektif demikian, maka seluruh pengusaha tambang akan selalu menjadi musuh masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x