Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Dua Warung Makan, Dua Era di Jawa

31 Desember 2018   09:48 Diperbarui: 31 Desember 2018   15:12 0 15 8 Mohon Tunggu...
Dua Warung Makan, Dua Era di Jawa
Foto: tribunnews.com

Ada dua pertanyaan yang bisa diajukan saat memasuki sebuah warung makan. Pertama, apa yang ada (makanan) di warung, dan atau, kedua, apa yang terjadi (layanan) di warung.

Yang lazim adalah pertanyaan pertama. Karena tujuan seseorang datang ke warung makan tentulah untuk makan. Maka pertanyaan utamanya adalah ada jenis makanan apa saja yang disajikan di situ?

Pertanyaan kedua itu lazimnya datang kemudian. Terutama jika pelayan dirasa sangat bagus atau sebaliknya buruk sekali. Mengapa layanannya bagus, atau sebaliknya buruk? 

Saya hendak fokus pada pertanyaan kedua ini. Dalam khazanah sosiologi, konsep inti pertanyaan itu adalah relasi dan interaksi sosial antara pewarung (pedagang) dan pelanggan (konsumen).

Dua konsep itu sejatinya adalah konsep utama dalam praktek warung makan. Intinya, pewarung membangun relasi yang seakrab mungkin dengan pelanggan demi mempertahankan pelanggan lama dan menarik pelanggan baru.

Itulah prinsip dasar warung makan Jawa (Tengah) yang saya pahami. Tapi dengan dua kasus berikut, saya ingin tunjukkan bahwa prinsip itu rupanya sudah mulai memudar. 

***

Kasus A, di era pra-digital, pengalaman di satu warung makan di Salatiga tahun 1989, masih di lingkar kampus UKSW. Pelanggan utama warung ini adalah mahasiswa dan pegawai lajang yang kost di sekitarnya.

Suatu senja saya mampir makan malam di warung itu. Karena masih merasa lapar, walau sudah meludeskan sepiring nasi ayam, saya minta tambah pada simbok pemilik sekaligus operator warung. 

Bukannya mendapatkan tambahan nasi ayam, alih-alih saya diingatkan simbok pewarung agar tidak tambah makanan. Sebab masih ada pelanggannya yang belum datang makan malam. Khawatir mereka tidak kebagian makanan nanti. 

Simbok pewarung itu tidak ingin mengecewakan pelanggan yang sudah berupaya datang ke warung, berharap bisa makan, tapi tidak mendapatkan makanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x