Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pameran Ulos Batak, Sajian Pesona Tanpa Getar Jiwa

27 September 2018   10:22 Diperbarui: 27 September 2018   15:26 0 13 9 Mohon Tunggu...
Pameran Ulos Batak, Sajian Pesona Tanpa Getar Jiwa
Detil motif ulos tum-tumaan. Dikenakan sebagai pengikat pinggang (Dokpri)

Melihat dengan mata lahir, kain tenun etnik manapun adalah sesuatu yang memesona. Dan melihat dengan mata batin, kain tenun etnik itu adalah sesuatu yang menggetarkan jiwa.

Setidaknya begitu rumus yang saya gunakan untuk mendapatkan pengalaman penuh saat melihat selembar kain tenun etnik, kapanpun dan dimanapun.

Tapi saat melihat helai-helai ulos pada Pameran "Ulos, Hangoluan, Tondi" (Ulos, Kehidupan, Jiwa), yang memamerkan ulos Batak Toba koleksi pribadi Devi Panjaitan dan Kerri Na Basaria, saya gagal mendapatkan pengalaman penuh itu.

Saya hanya tiba pada taraf terpesona, dan tidak berhasil masuk pada taraf tergetar. Padahal, saya datang ke pameran yang diprakarsai Yayasan Del bentukan Luhut B. Panjaitan, dan dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya ini, dengan ekspektasi memperoleh pengalaman penuh.

Sebenarnya mungkin kurator pameran punya intensi juga memberi getaran jiwa, dengan melibatkan interior disainer muda Mita Lukardi untuk penataan ruang pamer dan penataan letak ulos. 

Tata ruang yang diberi sekat tirai kain serba hitam dan tata cahaya yang didominasi merah mungkin dimaksudkan untuk memberi suasana magis. Tapi bagi saya, tata ruang dan pencahayaan seperti itu justru menenggelamkan keindahan ulos Batak yang umumnya berwarna gelap. 

Malahan, menyusuri lorong-lorong temaram bertirai kain hitam di ruang pamer itu, dengan tingkahan musik bernuansa transenden, mengingatkan saya pada pengalaman memasuki lorong-lorong rumah hantu di taman hiburan.

Sebenarnya, pameran ini sudah tepat mengambil tema "Stages of Life", "Tahap-tahap Kehidupan". Idenya adalah menunjukkan peran ulos dalam setiap tahap kehidupan orang Batak Toba, mulai dari tahap Kelahiran (Birth), Kehidupan (Life), Perkawinan (Marriage), dan Kematian (Death).

Pentahapan itu menunjuk pada peralihan-peralihan dalam siklus kehidupan, dan untuk setiap peralihan itu terdapat ritus yang melibatkan peran penting ulos sebagai pesan simbolik.

Pesan simbolik itulah sejatinya jiwa ulos, dan persisnya itulah yang gagal saya temukan dalam pameran ini. Itu sebabnya saya kesankan pameran ini sebagai sebuah pameran ulos tanpa jiwa. Padahal judulnya "Ulos, Kehidupan, dan Jiwa".

Pameran ini sebenarnya berhasil menunjukkan jenis-jenis ulos yang digunakan sebagai pesan simbolik dalam setiap ritus peralihan kehidupan orang Batak, sejak masih tersembunyi berupa janin hingga turun ke dalam tanah dalam peti mati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x