Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Ketika Sandiaga Terserap "Menjadi Emak-emak"

13 September 2018   09:06 Diperbarui: 15 September 2018   12:53 3078 11 11
Ketika Sandiaga Terserap "Menjadi Emak-emak"
(Foto: Regional Kompas)

Dua kisah viral dari Sandiaga Uno, bakal calon cawapres untuk Pilpres 2019, baru-baru ini.

Pertama, kisah tentang Bu Lia dari Pekanbaru, Riau yang "dimarahi suami gara-gara uang belanja Rp 100 ribu hanya beli bawang dan cabai".

Kedua, kisah tentang Bu Yuli dari Duren Sawit, Jakarta yang mengeluh "tempe sekarang  setipis kartu ATM".

Pesannya jelas, harga-harga sembako sekarang naik, karena nilai rupiah terhadap dollar AS terpuruk dan sebagian sembako diimpor, termasuk bawang, cabai, dan kedelai sebagai bahan baku tempe.

Sayangnya, ketimbang membahas isu tersebut, khalayak lebih suka-ria memperolok ujaran "Rp 100 ribu bawang dan cabai" dan "tempe setipis kartu ATM" tadi. 

Pesan bagus dari Sandiaga menjadi tak tersampaikan dengan baik. Yang terjadi justru dia diterpa perundungan di dunia medsos.

Sisi bagusnya, kalau manut falsafah "untung"-nya orang Jawa, Sandiaga menjadi lebih terkenal luas seantero nusantara. Tingkat "keterkenalan"-nya naik drastis dan itu bagus sebagai modal untuk Pilpres 2019 nanti.

Tapi sebagus-bagusnya keterkenalan karena ujaran yang dinilai "konyol", tetap lebih bagus keterkenalan karena ujaran yang dinilai "cerdas". 

Contoh ujaran cerdas adalah respon Erickh Tohir terhadap perundungan dirinya sebagai "stuntman cawapres", "Stuntman kan bagus. Nggak ada stuntman, nggak ada film action". Nah, jawaban khas "millenial citizen", bikin pendengarnya tambah sayang.

Apa sejatinya yang salah dengan ujaran atau dua kisah Sandiaga? Bukankah dia telah "jujur" mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai "suara emak-emak", atau kerennya, "aspirasi warga"?

Ya, mungkin memang jujur, tapi tampaknya ada satu masalah di situ, yaitu masalah "going native". Ini masalah khas yang bisa menimpa "orang luar" yang masuk ke dalam suatu komunitas untuk mendapatkan pemahaman tentang persoalan-persoalan komunitas itu.

Disebut going native apabila "orang luar" itu karena keterlibatan yang terlalu jauh dan mendalam (disebut over-rapport) malah mengidentifikasi dirinya sebagai "orang dalam" atau "salah seorang dari warga komunitas", dan lupa status dan perannya sebagai "orang luar" yang mengamati, atau sedang menggali informasi.

Akibatnya, ketika "orang luar" yang telah going native menjadi "orang dalam" itu berbicara kepada khalayak, maka dia berbicara secara subyektif sebagai "orang dalam" dengan emosi dan bahasa "orang dalam" juga.

Padahal, sebagai "orang luar", seharusnya dia bicara obyektif (sebagai hasil inter-subyektivitas), mengungkap fakta dengan bahasa yang "logis", bukan yang "hiperbolis".

Kebalikan going native adalah entnosentrisme, menilai sesuatu menurut acuan nilai, sudut pandang, dan pengalaman sendiri atau kelompok (primordial) sendiri.

Ini terjadi karena masalah under-rapport, sangat kurang terlibat pada persoalan yang diamati atau dikomentarinya.

Misalnya, ketika Jokowi memilih Maruf Amin sebagai cawapres, sejumlah orang (oposan) langsung bilang, "Ulama mana ngerti ekonomi".

Ini etnosentris, karena menurut sudut pandangnya ulama itu ya ngurusin soal surgawi.

Nah, agaknya masalah going native akibat over-rapport tadilah yang menimpa Sandiaga.

Jika disimak pemberitaan di ragam media, juga foto-fotonya, maka ada indikasi Sandiaga terjerumus ke dalam masalah going native di kalangan emak-emak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3