Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sosiologi Pekuburan, Kambing versus Bunga

12 September 2017   15:50 Diperbarui: 12 September 2017   16:06 388 1 1
Sosiologi Pekuburan, Kambing versus Bunga
Kambing-Kambing Kampung Kandang Jakarta (Dokpri)

Pekuburan Kampung Kandang Jakarta sejatinya bukan dunia orang mati tetapi dunia orang hidup. Karena itu sosiologi berlaku di sana.

Sosiologi pekuburan bicara tentang orang-orang yang berinteraksi atau berkomunikasi  di permukaan tanah kuburan. Bukan tentang jasad-jasad yang sudah kembali menjadi tanah di bawah rerumputan hijau.

Selain pekerja makam dan peziarah, ada kelompok-kelompok sosial lain yang menjalankan aktivitas sosial-ekonomi di pekuburan. Yang langsung teramati adalah pedagang bunga, penjaja makanan, dan penjaja peralatan kebun. Selain itu ada kelompok anak-anak yang memanfaatkan pekuburan sebagai ruang bermain, dan kelompok kecil "joggers" yang memanfaatkan jalan-jalan pekuburan sebagai "jogging track".

Tapi yang hendak dibicarakan di sini adalah interaksi konflik antara dua kelompok sosial yang tidak pernah berkomunikasi, yaitu kelompok kecil peternak kambing dan kelompok peziarah. Karena tak pernah berkomunikasi secara sosial, maka konflik antara dua kelompok sosial ini teramati di permukaan sebagai konflik antara representasi kehadiran masing-masing, yaitu kambing versus bunga (kembang).

Sudah menjadi kelaziman bagi peziarah untuk membeli satu dua ikat kembang di tukang bunga untuk ditaruh dalam pot makam kerabatnya.  Itu sebagai penanda kehadiran, sekaligus pertanda keindahan kasih tak kunjung pudar. Anggaran untuk beli bunga itu bisa Rp 20,000 sampai Rp 50,000. Tergantung jenis dan jumlah kuntum atau ikatan bunga yang dibeli. Paling mahal mawar, tengahan sedap malam, dan paling murah seruni.

Tapi masalahnya kambing tidak punya konsep keindahan, apalagi kemampuan simbolisasi kasih dengan bahasa bunga. Kambing hanya tahu pakan dan non-pakan. Dan tidak banyak jenis tumbuhan yang aman di hadapan kambing. Sebab rentang jenis  tumbuhan yang bisa dijadikan pakan oleh kambing ternyata sungguh lebar.

Begitulah. Karena kambing-kambing di Kampung Kandang dilepas begitu saja di pekuburan oleh warga pemiliknya dari kampung sekitar, maka kambing-kambing itu bebas berkeliaran memakan apa saja yang menurut mereka bisa dimakan. Dan bunga dalam pot makam adalah makanan paling nikmat agaknya.

Kambing makan bunga makam, itulah konflik tak berujung antara pemilik kambing yang "tak hadir" dan peziarah yang "hadir". Maka peziarah tidak bisa menegur atau memarahi pemilik kambing.

Sungguh kesal mengalami kenyataan bunga yang baru 5 menit kita tinggal di kuburan sudah langsung musnah dilalap kambing. Saya pernah mengalaminya.  Tak ada yang bisa saya lakukan kecuali mengambil sebongkah batu dan melemparkannya ke kambing-kambing yang sedang "pesta makan bunga". Sia-sia saja. Beli bunga Rp 25,000 hanya untuk berakhir di usus kambing, sebelum kemudian dicecerkan sebagai "palitol-palitol organik".

Para perawat makam juga kesal, tapi akhirnya apatis saja. Sebab tak mungkin juga mereka terus-menerus bisa menjaga bunga dari serbuan kambing-kambing kampung itu. Lagi pula, mereka tak dibayar untuk mengawasi kelakuan kambing.

Kambing di Kampung Kandang itu sudah menjadi semacam "hama kuburan". Maka harus ada cara untuk mengatasinya. Tidak dengan pestisida, tapi dengan pengendalian secara biologis. Dari pengamatan, ternyata kambing-kambing itu sangat menyukai mawar dan seruni, tapi tidak suka sedap malam. Eurekaa...ketemu solusinya. Maka setiap kali ziarah, maka keluarga saya membeli bunga sedap malam untuk ditaruh dalam pot makam. Dan benar saja, selang satu minggu kemudian, sedap malam itu masih bertahan layu dalam pot.

Peziarah baru umumnya belum tahu bunga anti-kambing ini. Maka mereka datang beli mawar dan seruni. Apalagi jika makam masih baru, mawar dan seruninya menggerumbul. Maka  kambing-kambinglah yang paling bersukacita bila ada makam baru seperti itu. Saya pernah menyaksikan kambing pesta-pora makan mawar dan seruni di beberapa makam baru. Miris.

Kelompok yang paling diuntungkan, tanpa risiko biaya, dalam kasus kambing versus bunga ini tentulah para pemilik kambing yang "tak hadir". Pagi mereka melepas kambing cari makan ke kuburan. Sore kambing pulang ke kandang. Setelah gemuk, kambing dijual mahal. Kambing-kambing Kampung Kandang mungkin spesial. Karena pakannya mawar dan seruni.  Siapa tahu dagingnya wangi mawar.

Kelompok yang dirugikan tentu saja peziarah. Karena, tanpa direncanakan, mereka telah memberi pakan "mewah" berupa bunga untuk kambing-kambing itu. Dan mereka tak beroleh bagian margin saat kambing-kambing itu dijual pemiliknya.

Tapi untuk menghibur diri, bolehlah menggunakan konsep "pemberian" dalam kasus kambing versus bunga itu. Maksudnya, terima saja fakta bunga makam dimakan kambing itu sebagai bentuk "pemberian"  peziarah bagi pemilik kambing yang mungkin memang kesulitan mencari rumput pakan di Jakarta.  Jadi diikhlaskan saja, karena menjadikan ziarah punya manfaat ekonomi yang lebih luas.***