Mohon tunggu...
Mohammad Rasyid Ridha
Mohammad Rasyid Ridha Mohon Tunggu... Buruh - Bukan siapa-siapa namun ingin berbuat apa-apa

Pekerja di NKRI Pengamat Sosial, pecinta kebenaran...Masih berusaha menjadi orang baik....tak kenal menyerah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengenalkan Perdagangan Pada Anak

5 Oktober 2023   10:52 Diperbarui: 5 Oktober 2023   11:00 106
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: dokumentasi pribadi

Sudah sebulan terakhir ini anak saya meminta dibelikan mainan seperti gantungan kunci, sticker dan lainnya ke emaknya. Dengan sigap emaknya langsung mencari barang-barang yang diinginkan tersebut ke online market. Biasanya seminggu setelah pembelian, barang mainan tersebut sudah sampai di rumah.

Anak saya yang baru kelas dua SD lantas membawa mainan yang dibelikan oleh emaknya ke sekolah. Rupanya dia berniat menjual mainan-mainan tersebut kepada teman-teman sekolahnya. Biasanya saat saya sampai rumah sepulang kerja di sore hari, dia melaporkan dengan penuh semangat hasil jualannya yang rata-rata ludes dibeli. Dia belum paham jumlah keuntungan yang diperoleh, emaknyalah yang lantas menjelaskan. Anak saya hanya tahu kalau mainannya laris dibeli, ada untung, dan dia senang.

Sebagai orang tua tentu saya merasa senang, karena anak saya punya keinginan untuk latihan berkegiatan jual beli tanpa mengganggu pelajarannya. Karena ini hal positif tentu orang tua sudah selayaknya mendukung. Apalagi kalau dirunut kembali, Nabi Muhammad SAW juga seorang pedagang. Hal ini mengisyaratkan jika belajar berdagang sejak kecil adalah suatu upaya mengikuti jalan kenabian.

Meskipun dahulu kakek nenek saya adalah pedagang, namun kedua orang tua saya beserta anak-anaknya tidak ada satupun yang menjadi pedagang. Sedari kecil kami dipersiapkan untuk belajar dan menjadi pegawai, entah PNS apa kantoran. Jadi sampai sekarang, saya tidak pandai dalam jual beli barang, pun tingkat kepercayaan diri dalam perdagangan tergolong rendah.

Lain dulu lain sekarang, dimana beberapa sekolah dari sekolah dasar hingga SMA sudah mengajari murid-muridnya untuk belajar berdagang. Ada yang diminta menyusun proyek, lalu menawarkan proyeknya pada para calon investor, ada yang mengumpulkan barang bekas kemudian dijual pada acara bazar yang diselenggarakan sekolah. Pada intinya pihak sekolah berusaha memunculkan jiwa-jiwa enterpreunership pada murid-muridnya melalui perdagangan.

Kita lihat negara seperti Singapura yang tidak punya sumber daya alam berlimpah, bisa dikatakan malah kekurangan, bisa menjadi negara maju di ASEAN. Aktivitas jasa dan perdagangan menjadikan negara itu hidup di atas rata-rata tetangganya. Ada sebuah ungkapan, berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki, dan hal ini sudah dipraktekkan dengan baik oleh Singapura. Banyak perusahaan besar dunia menjadikan Singapura sebagai hub dan perwakilan bisnisnya di Asia Tenggara.

Tentu menjadi pertanyaan besar bagaimana caranya mengejar ketertinggalan kita dari Singapura. Mengajarkan perdagangan pada anak-anak sejak dini dan memasukannya dalam kurikulum pendidikan adalah salah satu caranya. Tidak hanya sekedar teori berdagang, namun juga prakteknya harus dilakukan oleh anak-anak tersebut.

Padahal kalau coba kita renungkan, hidup ini sesungguhnya adalah sebuah perdagangan yang nyata. Saat melamar kerja, bukankah kita mempromosikan kemampuan yang dimiliki pada pengusaha agar mau merekrut kita sebagai pegawainya. Saat bekerja, tenaga, pikiran, dan karya kita menjadi barang "dagangan" yang kemudian dibayar oleh pengusaha melalui upah atau gaji. Saya rasa semua profesi pekerjaan mempunyai filosofi yang sama dalam konteks "perdagangan".

Seorang petani, yang kita anggap hanya menanam dan memanen padi, pada akhirnya harus bisa memasarkan hasil panennya sendiri  seperti padi dan palawija. Petani akan mencari harga terbaik bagi hasil pertaniannya, dan menjual kepada orang yang tepat. Artinya seorang petani juga harus bisa berdagang, sehingga tidak bisa ditipu oleh para pengepul dan tengkulak nakal.

Pengenalan aktivitas perdagangan sejak dini pada anak-anak juga bisa memupuk sifat kejujuran yang ditanamkan sedari kecil. Harapannya ketika dewasa bangsa ini dipenuhi oleh orang-orang jujur, sesuatu yang langka pada masa kini. Mengapa aktivitas perdagangan bisa memupuk rasa kejujuran?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun