Mohon tunggu...
Mohammad Rasyid Ridha
Mohammad Rasyid Ridha Mohon Tunggu... Bukan siapa-siapa namun ingin berbuat apa-apa

Pekerja di NKRI Pengamat Sosial, pecinta kebenaran...Masih berusaha menjadi orang baik....tak kenal menyerah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Peran Manusia sebagai Perantara Rezeki

7 Agustus 2020   11:10 Diperbarui: 7 Agustus 2020   11:06 49 6 0 Mohon Tunggu...

Suatu hari seorang notaris sedang gundah gulana memikirkan karyawannya. Besok adalah hari gajian buat karyawannya yang jumlahnya tiga orang sehingga paling tidak harus ada uang sejumlah tujuh setengah juta rupiah. Namun sampai pagi hari itu (H-1 gajian) belum ada tanda-tanda saldo sejumlah tersebut di dalam rekeningnya.

Tiba-tiba ketika waktu sudah beranjak siang telepon selulernya berbunyi. Dari seberang sana seseorang (calon klien) memperkenalkan diri dan meminta bantuan si notaris untuk mengurus akta pendirian perusahaannya. 

Segera si notaris menyebut angka, taruhlah sejumlah tiga puluh juta rupiah untuk keperluan pengurusan tersebut. Tanpa menawar, si calon klien menyetujui harga yang ditawarkan oleh notaris.

Setelah urusan harga beres, si calon klien langsung mentransfer uang tersebut ke rekening si notaris dan resmi menjadi klien. Betapa hahagia dan bersyukurnya si notaris karena hari itu saldo rekeningnya bertambah dan cukup untuk menggaji ketiga karyawannya di esok hari. Si notaris pada akhirnya berkesimpulan bahwa para karyawan sudah punya rejekinya masing-masing yang dijamin oleh sang Pencipta.

Hari ini setiap bertemu orang lain, si notaris selalu menyampaikan bahwa kalau memulai usaha tidak perlu mengkhawatirkan gaji pegawainya. Rejeki pegawai sudah dijamin Allah dan tidak mungkin tertukar. Sebagai pemilik usaha, yang penting kita senantiasa berusaha agar pintu-pintu rejeki selalu terbuka dan mengalir hingga ke para pegawai.

Banyak cara rejeki sampai pada manusia, begitu pula yang menjadi perantaranya. Seringkali kita mendengar orang yang berkata "kalau tidak bekerja pada saya, mana mungkin mereka bisa makan, sekolah, kuliah, dan sejahtera", begitupun ungkapan-ungkapan sejenisnya. Seolah-olah ada dan tidak adanya gaji, bayaran untuk para anak buah, pegawai, tergantung pada dirinya.

Kita sering melupakan bahwa sesungguhnya rejeki yang kita terima hanya mampir sejenak untuk selanjutnya disalurkan ke para pegawai, pembantu, tukang parkir, sanak kerabat dan lain sebagainya. 

Jadi kita hanya sebagai perantara, bukan tujuan akhir dari rejeki itu sendiri. Namun demikian kita mendapat manfaat dari peran sebagai perantara rejeki berupa penghidupan dan kesejahteraan.

Jadi kalau selama ini paradigma yang dianut adalah kita selaku pemilik usaha adalah sebagai sumber rejeki maka hal tersebut harus dikaji ulang. Apakah kalau tidak ada pekerja, supplier, tukang parkir, dan pihak-pihak lain yang menggantungkan hidupnya dari usaha kita maka rejeki akan mengalir pada kita? 

Jangan-jangan memang sesungguhnya kemajuan usaha, kemakmuran, kemuliaan hidup yang kita miliki saat ini adalah merupakan titipan saja untuk disalurkan pada orang-orang yang hidupnya berhubungan erat dengan kita. 

Kalau mereka tidak ada dan tidak mendapatkan haknya sebagaimana mestinya, bisa jadi Allah kurangi bahkan hentikan rejeki yang selama ini kita terima.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN