Humaniora Pilihan

Hidup Berjauhan atau Berdekatan, Suatu Pilihan?

14 Februari 2018   16:43 Diperbarui: 14 Februari 2018   16:47 213 1 0
Hidup Berjauhan atau Berdekatan, Suatu Pilihan?
Ilustrasi (gettyimages.com)

Mantan Bos saya dulu pernah bercerita bahwa dia menjalani kehidupan jarak jauh dengan keluarganya. Pasalnya adalah karena si Bos berkantor di Medan, Sumatera Utara, sementara keluarga yaitu anak-anaknya yang masih kecil dan istrinya tinggal di Bogor, Jawa Barat. Paling cepat dua pekan sekali si Bos bisa pulang ke Bogor untuk mengunjungi keluarganya, memanfaatkan hari libur Sabtu dan Minggu. Kalau tidak bisa per dua pekan maka biasanya sebulan sekali dia mengunjungi keluarganya.

Akibat jarang bertemu dengan anak-anaknya, maka pernah dalam satu periode anaknya memanggil si Bos dengan panggilan "om", bukan papah, ayah atau bapak. Tentu ada kegetiran batin yang dirasakan ketika anaknya mengenali si Bos tidak sebagai ayah, namun sebagai orang asing sehingga memanggilnya "om". Padahal keberadaan mantan bos saya di Medan, berjauhan dengan keluarga, adalah dalam rangka bekerja, menjalankan kewajiban seorang kepala keluarga untuk memberi nafkah untuk anak istrinya. 

Ada waktu yang terlewat dalam perkembangan anak-anaknya, dimana si Bos tidak setiap hari melihat dan mendampingi, suatu pilihan dalam hidup yang harus dijalani. Beruntung di kemudian hari si Bos dipindah ke Jakarta sehingga bisa berkumpul kembali dengan keluarganya tiap hari dan anak-anaknya telah kembali memanggil dengan sebutan "papah".

Ada juga teman saya yang memilih dari puluhan tahun lalu hingga hari ini menjalani kehidupan berjauhan dengan keluarga, dia di Jakarta sementara keluarganya di Surabaya. Tiap dua pekan sekali dia pulang ke Surabaya menjenguk keluarganya. Kondisi ini tidak berpengaruh terhadap keharmonisan keluarganya, hidupnya tetap nikmat, anak dan istrinya juga bisa menerima karena sudah dari sejak awal dikondisikan. 

Pernah saya tanyakan kenapa tidak boyong saja keluarganya ke Jakarta. Teman saya menjawab bahwa pertimbangan lingkungan, budaya, biaya operasional, transportasi, dan kualitas hidup yang menyebabkan keluarganya tetap tinggal di Surabaya. Ibunya dia alias nenek dari anak-anaknya juga bisa leluasa bermain dengan cucu-cucunya karena sama-sama tinggal di Surabaya. Ketika harus memboyong keluarga ke Jakarta, dengan kemacetan yang ada sehingga teman saya harus berangkat ketika anak-anak masih tidur dan pulang ke rumah ketika anak-anak menjelang tidur, maka menurutnya kualitas hidupnya hanya akan terjadi di akhir pekan saja, sama akan halnya dengan tetap mempertahankan keluarganya tinggal di Surabaya.

Begitulah suatu konsekuensi dari kehidupan dan pilihan atas penghidupan yang dijalaninya. Hidup berjauhan dengan keluarga atau tidak adalah soal pilihan. Pun demikian yang saya ambil ketika mengatakan pada istri saya bahwa dia harus mengikuti kemanapun saya harus ditempatkan dalam pekerjaan yang saya jalani. Untuk itu dia dulu harus keluar dari pekerjaan lamanya pada saat awal menikah demi mengikuti saya ke ibukota, meninggalkan kota Surabaya. Kebetulan saya memiliki paham bahwa esensi berkeluarga adalah berkumpul antara suami, istri dan anak-anak. 

Meskipun tidak tiap saat berada disamping anak-anak karena berangkat saat anak masih tidur dan pulang kadang sudah malam, namun melihat tumbuh kembang anak merupakan kenikmatan tersendiri. Saat pulang dan melihat anak-anak sudah tidur, rasa-rasanya lelah karena pekerjaan dan perjalanan menjadi hilang seketika melihat kepolosan wajah mereka.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa dalam berkeluarga kita harus berkumpul bersama-sama atau hidup berjauhan, kembali lagi hal itu soal pilihan dan konsensus yang disepakati oleh masing-masing keluarga. Banyak orang yang hidup bersama-sama dengan keluarganya, namun kehidupannya tidak harmonis, rumah selalu panas karena konflik dan yang ada adalah hawa kebencian di dalamnya. Sebaliknya banyak keluarga yang hidup berjauhan antara suami atau istri dengan keluarganya namun kehidupan rumah tangganya dipenuhi keharmonisan, kualitas interaksi yang baik, kasih sayang dan rasa saling percaya. Hal itu kembali lagi kepada para suami istri bagaimana bersepakat untuk menjalankan rumah tangganya.

Satu yang pasti bahwa dalam berkeluarga seorang suami haruslah menjadi imam dan penanggung jawab bagi istri dan anak-anaknya. Kunci surga seorang istri ada di suaminya, sementara tanggungjawab terhadap moral dan akhlak istri dan anak-anak ada di tangan suami. Terhadap soal pilihan bagaimana menjalankan rumah tangganya, seorang suami juga punya tanggung jawab besar akan hal tersebut selaku pemimpin rumah tangga. Ingatlah firman Allah Subhanu wa Ta'ala:


"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka" (QS an-Nisaa': 34).

MRR, Jkt-14/02/2018