Mohon tunggu...
Icompass
Icompass Mohon Tunggu...

-

Selanjutnya

Tutup

Politik

Langkah PDIP yang Terbaik adalah Dukung Ahok

3 Agustus 2016   17:46 Diperbarui: 3 Agustus 2016   17:50 572 2 2 Mohon Tunggu...

PDIP sampai saat ini belum mengumumkan siapa calon mereka untuk Pilkada Jakarta. Ada beberapa calon yang sudah dikerucutkan untuk diseleksi lebih lanjut. Beberapa nama yang digadang-gadang untuk maju di antaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saeful Hidayat.

Walau popularitas mereka masih kalah jauh di bawah incumben, tapi merekalah nama nama yang tersaring yang dianggap punya pengalaman dan kemampuan untuk jadi gubernur DKI.

PDIP sampai saat ini kelihatan ragu untuk mendukung Ahok karena Ahok bukan orang PDIP. Saat ini ada tiga partai yang mendukung Ahok yaitu Nasdem, Hanura, dan Golkar, selain itu ada Teman Ahok yang mewakili kira-kira 1 juta suara pemilih Jakarta.

PDIP harus memikirkan langkah strategis untuk menyikapi Pilkada DKI karena incumben adalah lawan yang cukup kuat untuk ada kemungkinan terpilih lagi, baik berdasar survey, prestasi memimpin Jakarta, maupun persepsinya yang dianggap anti korupsi. PDIP mempunyai tiga pilihan.

  1. Berkoalisi dengan Gerindra
    Bila PDIP berkoalisi dengan Gerindra maka akan ada pertempuran 1 lawan 1. Suara yang dikumpulkan baik melalui pendukung fanatik PDIP maupun Gerindra dan KMPnya akan menjadi lawan tangguh pendukung Ahok. Walau koalisi ini akan mengumpulkan banyak suara, tapi PDIP harus melanggar nilai partainya sendiri, mengingat KMP adalah seteru PDIP dalam Pemilu 2014. Simpatisan KMP tidak segan-segan melakukan black campaign terhadap jokowi, tidak pula akan segan melakukannya terhadap Ahok. Ini akan menguntungkan koalisi, tapi akan banyak pendukung PDIP yang akan menjauhkan diri dari PDIP di masa datang. Selain itu pemilu yang akan datang dipastikan Gerindra akan kembali menantang jokowi. Koalisi ini pasti akan menimbulkan masalah di masa depan. Pilihan ini kemungkinan besar tidak akan terjadi, atau bahkan tidak pernah dipikirkan PDIP.
  2. Maju sendiri
    Bila PDIP maju sendiri maka akan ada 3-way battle PDIP, Gerindra, dan Ahok. Opsi ini sebenarnya baik bagi masyarakat Jakarta karena mereka punya banyak pilihan untuk memilih yang paling baik buat mereka. Permasalahan bagi PDIP adalah calon terkuat mereka berdasar survey yaitu Risma, masih kalah pamor dibandingkan Ahok. Mungkin bila diberi kepercayaan, mau tidak mau, Risma akan mampu dan harus mampu dengan segala upaya untuk memimpin Jakarta. Tapi bila Risma menang di Jakarta artinya Surabaya akan kehilangan Risma. Efek yang menakutkan 2 tahun setelah Pilkada, yaitu pada pemilu 2019, tidak hanya PDIP akan kehilangan suara di DKI, tapi juga di Surabaya. Jokowi mungkin bisa menang terpilih kedua kali, tapi jumlah suara DPR/D akan turun berpindah ke partai lain untuk menghukum PDIP.
  3. Dukung Ahok tanpa syarat
    Mendompleng ketenaran Ahok adalah langkah yang logis dan prakmatis. Partai kecil seperti Hanura dan Nasdem menyatakan mendukung Ahok selain karena mereka melihat elektabilitas Ahok, mereka juga tidak bisa atau tidak punya calon yang bisa menandingi popularitas Ahok. Golkar juga ternyata sama, mereka bisa melihat ke mana arah angin, mendukung Ahok dengan harapan masyarakat mengingat dukungan ini dan mengganjar mereka dengan suara di pemilu. Keuntungan lain PDIP dengan mendukung Ahok adalah hemat biaya kampanye, uang bisa disimpan untuk kampanye pemilu nanti. Alasan lain adalah Ahok adalah orang yang berani konflik dengan orang yang tidak melayani rakyat, berani tidak populer demi kepentingan banyak orang. Bila dia diganti pada periode berikutnya, segala perubahan yang telah dilakukan, dan rencana memperbaiki Jakarta bisa gagal. Jakarta tidak hanya perlu orang yang berjuang untuk rakyat Jakarta, tapi juga orang yang keras menghadapi orang luar (kontraktor, pengembang) dan juga orang dalam (PNS, DPRD).

Di dalam tubuh PDIP sendiri terjadi perpecahan antara anggota yang pro dan anti Ahok. Pernyataan Ahok tentang partai boleh jadi menyakiti hati orang PDIP. Hal ini bisa dimaklumi.

Tapi di sisi lain PDIP dan juga partai yang lain harus ingat bahwa pada pemilihan langsung baik itu kepala daerah atau presiden, rakyat akan melihat figur calon yang terpenting baru kemudian partai yang mendukungnya belakangan. Dan pada akhirnya, ketika sosok itu terpilih, mereka diharapkan menjalankan kebijaksanaan bukan untuk partai, tapi untuk seluruh rakyat indonesia, termasuk orang yang tadinya tidak mendukungnya.

Bila PDIP mengerti ini, bahwa kepentingan rakyat ada di atas kepentingan atau gengsi partai, maka mereka harus mendukung Ahok, tanpa syarat. Bukan karena Ahok yang terbaik di Indonesia tapi karena Ahok yang paling baik saat ini dari seluruh kemungkinan calon yang bisa didapatkan. Bila nanti mereka menemukan orang yang lebih baik, maka orang ini yang harus didukung.

Ahok sering dianggap orang yang tidak setia kepada partai, kutu loncat, ambisi, tidak menghargai partai dan sebagainya. Orang yang menuduh Ahok seperti ini bisa jadi adalah munafik yang juga mengatakan bahwa Jokowi adalah petugas partai, boneka partai.

Ahok hanya menganggap partai sebagai kendaraan yang menuju untuk kebaikan rakyat dan negara, maka dia keluar dari Gerindra karena posisi mereka yang mendukung pilkada tak langsung. Bila partai tidak melakukan apa yang baik untuk masyarakat, maka mereka akan kehilangan dukungan. Bila partai mendukung orang yang terbaik untuk rakyat, maka dengan sendirinya rakyat bisa melihat kepada siapa mereka bisa menyalurkan aspirasi mereka.

Jadi PDIP, jangan ragu dukung Ahok.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x