Mohon tunggu...
Monica Kasihana
Monica Kasihana Mohon Tunggu... Mahasiswa - IG : @cerfdoux | www.cerfdoux.blogspot.com

Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengenal Lebih Dekat Museum Batik Yogyakarta

12 November 2021   19:07 Diperbarui: 12 November 2021   19:21 80 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Apakah kamu seorang penggemar batik nusantara atau barangkali diantara kamu merupakan seseorang yang suka berkunjung ke museum-museum?

Di Kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Dr. Sutomo No. 13A, berdiri sebuah museum non pemerintah yang dibangun khusus untuk melestarikan budaya batik nusantara. Bangunan museum ini berdiri sejak 12 Mei 1979. Kamu bisa mengunjungi museum ini setiap hari Selasa hingga hari Minggu-nya pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, dengan  tiket masuk sukarela. 

Ya, pengunjung secara sukarela bisa memberikan donasinya untuk museum ini. Pihak pengelola museum juga menyediakan pemandu bagi para pengunjung yang hadir. 

Pemandu ini yang bertugas menjelaskan aneka batik yang dipamerkan. Nah, kapan lagi ya, berkunjung ke museum sekaligus belajar mengenal batik nusantara secara sukarela? Lalu seperti apa seluk beluk dari bangunan yang disebut Museum Batik Yogyakarta ini?

Bangunan museum ini dulunya adalah bangunan rumah pribadi pasangan Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih. Berawal dari rasa cinta yang mendalam terhadap batik inilah yang membuat pasangan suami istri ini, memiliki inisiatif mulia dengan mendirikan sebuah museum batik di Kota Yogyakarta. Siapa sangka, bukan hanya karena gemar mengoleksi batik nusantara, pasangan ini juga merupakan keturunan langsung dari keluarga pengrajin batik.

Meskipun berasal dari bangunan rumah, namun setting museum ini sudah dirapikan sedemikian rupa sebagai sebuah museum batik yang nyaman dikunjungi. Tanpa merenovasi ulang, bangunan museum tersebut tetap menarik dan mampu memberikan suasana museum yang tidak membosankan.

Museum Batik sengaja didirikan bukan hanya untuk mengoleksi batik nusantara namun juga ikut berperan dalam melestarikan produk sehingga pengunjung yang hadir boleh tertanam rasa cinta akan produk budaya nusantara ini.

Menurut Didik Wibowo, selaku Operasional Museum Batik Yogyakarta, pasangan ini berniat untuk bukan sekeadar mengoleksi batik tetapi juga ingin mengajak masyarakat untuk senang dan bangga memiliki batik sebagai salah satu bentuk kebudayaan di Indonesia. "Bapak Hadi Nugroho dan istrinya, Ibu Dewi Sukaningsih mendirikan museum ini bukan cuma karena gemar ngoleksi batik tapi juga ingin membagikan rasa cinta akan budaya Indonesia melalui batik", kata Didik.

Saat ini, Museum Batik Yogyakarta dipegang oleh anak perempuan dari Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih yang bernama Tati. Museum ini mengaku tidak berkutat di bangunannya saja, namun juga membuka diri untuk event budaya yang di Yogyakarta.

Ada sekitar 900 lembar kain batik yang dipajang di dalam museum, sedangkan kalau ditotal dengan peralatan-peralatannya, berjumlah seribuan lebih. Meski lebih banyak memamerkan batik nusantara seperti Jogja, Solo, pesisir pantai, Semarang, Pekalongan, Demak, Bayat, Kebumen dan lain-lain, ternyata di dalam museum ini juga terdapat jenis kain batik kompeni, pengaruh budaya Eropa dan batik China. 

Menurut Didik, batik-batik yang dipajang sebagian besar merupakan batik yang secara langsung merupakan hasil produksi tangan terampil pasangan Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih, selebihnya merupakan batik yang dibeli di pasar dan tempat-tempat lainnya sebagai tambahan koleksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan