Mohon tunggu...
Momon Sudarma
Momon Sudarma Mohon Tunggu... Guru - Penggiat Geografi Manusia

Tenaga Pendidik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jelang Hari Senin

26 November 2023   05:08 Diperbarui: 26 November 2023   05:42 75
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : pribadi, image creator bing.com

Menjelang senin. Hari ini. Menjelang senin. Siklus mingguan itu, terus terjadi, dan berulang. Kita semua, tak terkecuali, akan menghadapi situasi seperti ini. Dalam siklus mingguannya, akan dihadapkan pada situasi yang tepat dihadapkan dan berhadapan pada waktu menjelang senin.

Apa masalahnya ?

Masalahnya ada pada persepsi. Persepsi manusia terhadap hari pertama dalam siklus mingguan tersebut. Apa, mengapa, ada apa, dan hendak apa, adalah beberapa pertanyaan yang potensial muncul pada seseorang disetiap awal minggu tersebut. Kemunculan ragam pertanyaan itulah, yang kemudian menyebabkan keragaman warna persepsi dan sikap seseorang dalam menghadapi ruang-waktu, di minggu-minggu yang akan datang.

Seperti yang teralami saat ini. Kita semua. Anda yang tertarik dengan tema ini, sudah tentu akan mengajukan pertanyaan, memangnya ada apa dengan hari senin ? tentunya, ada tertarik dengan tema ini, karena ada sebuah kepenasaranan dalam diri sendrii. Jika tidak ada sesuatu yang menarik, atau tidak ada kepenasaranan dalam diri, rasanya tema ini akan langsung di skip.

Tentu saja. Saya tidak bermaksud untuk memancing masalah dengan sejumlah pertanyaan, tanpa memberikan gambaran umum, atau gambaran kecil tentang realitas gejala seseorang dalam menghadapi hari senin, di setiap pekannya. Dengan memberikan gambaran sederhana terhadap masalah ini, diharapkan kepenasaran yang dimiliki, sedikit terobati.

Secara konseptual, teman-teman pembaca sudah paham, bahwa kalender mingguan, merupakan produk intelektual manusia yang luar biasa. Tanpa ada sistem kalender ini, rasanya  kebingungan akan terjadi, dalam kehidupan kita. Kita tidak akan tahu, arti waktu, dan proses atau perkembangan. Karena itu, adalah wajar, bila dikatakan, bahwa kalender merupakan produk-intelektual luar bagi dalam peradaban manusia.

Dalam konteks peradaban suku bangsa, bisa jadi menggunakan jumlah hari dalam satu siklus dengan jumlah yang berbeda-beda. Menurut catatan di dunia maya (id.wikipedia), ada yang 2, 3, 4, atau 10 hari. Seperti yang ada dalam tradisi Jawa, setidaknya masih mengenal 2 model hitungan hari. Sepekan dengan hitungan lima hari, rinciannya yaitu legi, paing, pon, wage, dan  kliwon. sedangkan sepekan dengan hitungan 7 hari, yakni hari-hari yang kita kenal secara umum, yakni senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu.

Lha, lantas apa masalahnya dengan hitungan itu semua ?

Di sinilah problemanya. Setiap orang memiliki persepsi yang unik, terhadap hari-hari tersebut. Sebut saja, misalnya, malam jum'at kliwon, atau malam jumah (saja), akan memiliki persepsi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Seseorang yang memiliki nalar mistik, malam jum'at dianggap sebagai malam sakral penuh misteri, sedangkan bagi mereka yang memiliki nalar romantis, malam jum'at adalah malam yang dinantikan, karena akan bertemu dengan pasangan hidup yang tercinta.

Demikianlah yang dimaksud dengan persepsi seseorang terkait hari dalam kehidupan manusia. Jika dia mengartikan senin, sebagai pekan pertama untuk kerja, maka dia akan mempersepsikan kegesitan yang luar biasa. Ada hari sidak, hari numpuk kerja, hari upacara, hari disiplin, hari pemeriksaaan, dan lain sebagainya. Tidak menutup kemungkinan, karena ada pemahaman itu, kemudian memunculkan sebuah tekanan yang lebih besar kepada dirinya dibanding dengan hari-hari lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun