Mohon tunggu...
Momon Sudarma
Momon Sudarma Mohon Tunggu... Penggiat Geografi Manusia

Tenaga Pendidik

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Gagal Paham terhadap Utang

11 Agustus 2020   05:58 Diperbarui: 11 Agustus 2020   05:56 28 5 0 Mohon Tunggu...

Banyak orang yang gagal paham terhadap utang-piutang. Bukan hanya kita, dilapisan bawah, rekan-rekan kita, pejabat kita, atau akademisi kita pun, banyak yang mengalami gagal paham terhadap utang. perhatikan saja, saat kita membincangkan masalah utang negara, khususnya di era kampanye politik masa Pilpres atau Pilkada.

Pro kontra dan adu argumentasi tentang utang, terlihat tidak pernah berakhir. Di sebut tidak pernah berakhir, bahkan, bisa jadi, tidak akan berakhir, karena ada perbedaan sudut pandang, dan atau titik pijak keberangkatan mengartikan utang.

Ah... jangan berbicara utang dalam konteks bangsa, negara atau makro. Mungkin itu, terlalu luas dan kurang bersentuhan dengan kebutuhan kita saat ini. Hal yang kita butuhkan saat ini, adalah mengartikan utang dalam konteks sehari-hari.

Ya. Justru di sinilah masalahnya. Karena kita terimbas dari pemahaman-pemahaman yang beredar di masyarakat, khususnya di medsos, baik saat membicarakan masalah utang, maka akan mudah beredar dan mampir di ponsel kita.

Pertama,  berutang diartikan wajib, bukan sekedar hak. Mengapa, karena mereka menganggap bahwa "tak ada negara yang tak berutang". Jepang, AS, atau negara-negara kaya pun, saling berutang kepada Bank Dunia khususnya.  terlebih lagi, jika seseorang itu berada sebagai posisi AS atau Pengusaha, maka berutang naik derajat sebagai kewajiban dalam menjaga kestabilan dan kedinamisan kerja, dan bukan sekedar hak seseorang.

Kedua, berutang memberikan energi untuk tetap bisa beraktivitas dengan baik. Ada pemahaman, jika kita memiliki utang, semangat kerja dan cari usaha akan terus meningkat. Setidaknya,kerja dan usaha untuk membayar cicilan. Karena ada pemahaman serupa inilah, maka berutang kembali memiliki posisi yang "positif" di hati masyarakat, khususnya dianggap sebagai energi penggerak usaha dan hidup.

Fakta seharusnya, energi gerak kita sejatinya, bukan karena hendak bayar utangnya, tetapi dalam konteks berusaha keras memenuhi kebutuhan hidupnya. Memiliki utang atau tidak, bila kita merasa terpanggil berkewajiban memenuhi kebutuhan hidup keluarga, mestinya tetap bisa bekerja dengan baik. Oleh karena itu, energi yang kuat dalam pasal dua ini, mestinya bukan karena utangnya, tetapi karena 'keterpanggilan hidup' untuk kerja keras memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Terakhir, di lihat dari sisi normatif, perlu mengubah pola pikir, dari semangat karena berutang, dengan semangat karena hendak menabung demi masa depan. Spirit kedua ini, dimaksudkan untuk menata manajemen keuangan keluarga, supaya bisa berdiri diatas investasi, dan bukan berdiri diatas kredit. untuk menjadi pribadi yang kuat dan kokoh, hendaknya kita berusaha  untuk menjadi pribadi yang kuat dalam membangun kemandirian finansial.

Lha, emang ente gak punya utang ?

Saya hanya tersenyum. Sudah pasti. Kamu bisa nebak. Persoalan pokok yang memang terlupakan, utang itu hendaknya bukan dijadikan sumber pendapatan, tetapi media antara dalam pencapaian tujuan. Artinya, bila kita memiliki agunan yang kuat dan kokoh, maka melakukan pinjaman kepada pihak lain, akan menjadi antara atau media untuk pencapaian tujuan kita. Catatan kecilnya, utang yang kita miliki tidak melebihi 1/3 dari pendapatan kita semua. 

Pengalaman  mengurus Koperasi, hampir 10 tahun terakhir ini, kesulitan nagih utang itu, karena cicilan utang mereka melebihi dari persediaan kebutuhan hidup bulanan.  Ada pula memang ada mental "diputihkan". Mereka merasa yakin dan optimis, bahwa kalau pinjam ke lembaga resmi, suatu saat juga akan diputihkan. entah kapan, atau kalau dalam situasi apa ! Dorongan yang terakhir inilah, yang kerap kali menjadi warna dari kesulitan kita menagih utang ....

mengapa hal itu perlu dilakukan ? untuk menjaga kesinambungan dan ketahanan ekonomi fundamental kita, dan terbiasakan untuk menabung !

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x