Mohon tunggu...
Mohammad Sofyan
Mohammad Sofyan Mohon Tunggu... Indonesia Shipping Zones

Programer penelitian sosial ekonomi. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur

Wirausaha Indonesia, Bagaimana Peran Perguruan Tinggi?

18 Juni 2021   08:00 Diperbarui: 18 Juni 2021   08:49 254 2 0 Mohon Tunggu...

Wirausaha adalah suatu proses kreativitas dan inovasi yang mempunyai resiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan. Wirausahan merupakan kemampuan melihat dan menilai peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya dan mengambil tindakan dan risiko dalam rangka mesukseskan bisnisnya. Wirausaha dapat dipelajari oleh setiap individu yang mempunyai keinginan, tidak hanya didominasi individu yang berbakat saja, karena merupakan pilihan yang tepat bagi individu yang tertantang untuk menciptakan kerja, bukan mencari kerja.

Kewirausahaan dan wirausaha merupakan faktor produksi aktif yang dapat menggerakkan dan memanfaatkan sumber daya lainnya seperti sumber daya alam, modal dan teknologi, sehingga dapat menciptakan kekayaan dan kemakmuran, yaitu melalui penciptaan lapangan kerja baru, penghasilan baru, sebagai penggerak kegiatan ekonomi, dan penghasil produk/jasa yang diperlukan masyarakat, karena itu pengembangan kewirausahaan merupakan suatu keharusan di dalam setiap pembangunan.

Paradigma perguruan tinggi telah mengalami perubahan yang sangat berarti, yaitu dari paradigma perguruan tinggi sebagai lembaga pembelajaran (High Learning Institute) kepada paradigma sebagai universitas penelitian (Research University) dan kemudian sebagai "Entrepreneurial University". Perubahan paradigma tersebut erat kaitannya dengan perkembangan perekonomian. Perkembangan ekonomi telah memunculkan kebutuhan baru yaitu kebutuhan-kebutuhan mengenai kompetensi/kepakaran yang dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi yang mempunyai keahlian dalam informatika, bioteknologi, kewirausahaan, dan lain-lain. 

Mengenai kewirausahaan telah lama diketahui bahwa wirausaha-wirausaha adalah pencipta lapangan kerja baru, sumber penghasilan baru, sumber inovasi dan sumber pertumbuhan ekonomi. Peran wirausaha juga telah meyakinkan bahwa kemajuan ekonomi suatu daerah/negara ditentukan oleh kualitas dan kuantitas wirausahawan.

Munculnya program kewirausahaan karena adanya pengakuan dan penerimaan persepsi bahwa kewirausahaan adalah suatu proses yang dapat dipelajari dan diajarkan. Sifat-sifat kewirausahaan seperti kreativitas, inovatif, kemampuan mengidentifikasi dan mewujudkan peluang yang dahulu dianggap sifat-sifat bawaan, sekarang sifat-sifat tersebut sudah dapat diajarkan, sehingga wirausaha dapat dihasilkan bukan dilahirkan. Dalam hal ini para pendidik malahan sering terlalu optimis, bahwa melalui pendidikan kewirausahaan dapat dihasilkan wirausaha-wirausaha yang lebih handal dibandingkan dengan wirausaha biasa atau terdahulu. Mungkin pernyataan ini didasarkan pada asumsi bahwa yang mendapat pendidikan kewirausahaan itu memang memiliki bakat-bakat untuk menjadi wirausaha, sehingga pendidikan kewirausahaan berfungsi sebagai pembuka jalan bagi seseorang yang mempunyai bakat kewirausahaan, sementara itu seseorang yang juga mempunyi bakat-bakat kewirausahaan tidak menjadi wirausaha karena tidak megetahui bagaimana menjadai wirausaha dan tidak ada kelembagaan yang membimbingnya.

Perlu diakui masih banyak rintangan dalam pengembangan kewirausahaan, yaitu Masyarakat yang "Ascriptive". Masyarakat ascriptive sebagai kebalikan dari masyarakat yang terbuka dan kompetitif. Dalam masyarakat dengan sistem sosial yang bersifat ascriptive peran ekonomi diberikan kepada seseorang berdasarkan status, tidak berdasarkan kompetensi. Dalam masyarakat ascriptive tidak ada ruang bagi wirausaha untuk berkembang. Sebagian besar masyarakat masih memandang rendah wirausaha sebagai karier/status, dalam masyarakat juga ada masalah yang sering disebut "poverty culture", yaitu adanya semacam kepercayaan, apapun usaha yang dilakukan, tidak akan banyak mengubah keadaan.

Peran perguruan tinggi sangat strategis dalam pemberdayaan wirausaha yang dibantu oleh pemerintah dan pihak lain yang terkait agar dapat mewujudkan wirausaha baru sebagai motor penggerak ekonomi negara. Perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi mediator wirausaha pada pemerintah dan lembaga keuangan dalam rangka peningkatan produktivitas melalui upaya pembentukan keterkaitan (inter firm linkage). 

Saat ini banyak perguruan tinggi yang sudah menjalin kemitraan dengan pihak perbankan sebagai salah satu sarana yang memudahkan aktivitas pendidikan di perguruan tinggi, terutama untuk kelancaran proses administrasi keuangan. Kemitraan yang dijalin antara perguruan tinggi dengan perbankan menjadikan timbulnya kepercayaan antar mitra, sehingga kepercayaan tersebut dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk ikut terlibat dalam pemberdayaan wirausaha. Dalam hal ini para wirausahawan kecil yang mempunyai masalah dengan akses permodalan dapat menggunakan jasa perguruan tinggi sebagai pihak penjamin kemudahan akses tersebut. Tentunya perguruan tinggilah yang nantinya akan menetapkan kriteria maupun persyaratan-persyaratan untuk kelayakan dari wirausahawan tersebut mendapatkan permodalan. 

Berdasarkan kondisi yang demikian maka sudah sepatutnya perguruan tinggi ikut berperan dalam pemberdayaan wirausaha, karena peran perguruan tinggi sebagai mediator akses permodalan akan memberikan dampak efektif bagi wirausahawan kecil. Hal ini sekaligus menepis anggapan masyarakat yang selama ini menganggap bahwa perguruan tinggi hanya sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu, perguruan tinggi ternyata juga mampu memberikan kontribusi terhadap kebutuhan para wirausaha.

VIDEO PILIHAN