Mohon tunggu...
Yamin Mohamad
Yamin Mohamad Mohon Tunggu... Guru - Ayah 3 anak, cucu seorang guru ngaji dan pemintal tali.

Guru SD yang pernah tidak memiliki cita-cita. Hanya bisa menulis yang ringan-ringan belaka. Tangan kurus ini tidak kuat ngangkat yang berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pamer, Perilaku Kekanak-kanakan

14 Maret 2023   21:39 Diperbarui: 14 Maret 2023   21:50 140
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Canva (dengan perubahan)

Anak saya yang ke tiga, si Bungsu, baru memasuki tahun ke lima kelahirannya. Dia lahir dengan karakter yang agak berbeda dari dua kakaknya, cenderung keras, aktif, dan selalu tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru. Saban pagi ketika bangun pagi, dia seringkali menunjukkan tantrumnya dengan berteriak-teriak jika ibunya tidak berada di sampingnya.

Sebagaimana anak-anak seusianya, dia juga suka menunjukkan perilaku pamer. Dia akan mengabarkan kepada teman-temanya jika memiliki mainan baru. Dengan gaya kekanak-kanakannya, dia akan memamerkan mobil-mobilan, pistol mainan, pedang-pedangan, bola, dan berbagai mainan yang dimilikinya. Sembari menunjukkan mainannya dia akan menjelaskan cara menggunakan barang-barang tersebut kepada teman-temannya. 

Tidak saja pamer tentang barang-barang yang dimilikinya, si Bungsu juga suka pamer dengan keterampilan atau kemampuan tertentu yang dimilikinya. Kerap dia membuktikan kepada temannya bahwa dia memiliki keterampilan memanjat sebatang pohon kakao di halaman rumah, bergelantungan, lalu melompat setelah mencapai ketinggian tertentu. 

Anak-anak akan memamerkan apa saja yang dianggap sebagai kelebihan dan keunggulan dirinya--mainannya, pekerjaan orang tuanya, kendaraan, sampai keterampilan fisik paling sederhana bagi orang dewasa.

Apa yang dilakukan anak-anak tersebut pada dasarnya merupakan hal yang wajar. Pada anak-anak, lebih-lebih pada balita, pamer itu merupakan upaya mereka mencari perbedaan dengan orang lain. Pada fase ini, anak-anak sedang berupaya melakukan pengukuran atas pencapaiannya (keunggulan). Sumber rujukan pencapaian dalam anggapan anak-anak adalah seberapa besar dan bagaimana respon orang terhadap sesuatu yang dia pamerkan. 

Mark  Loewen menulis dalam REM Online

"Dalam proses ini anak-anak sering kali mengukur kesuksesan mereka dengan respon yang diterima dari orang dewasa."

Pamer memang sudah menjadi sifat dasar manusia. Pamer, show off, merupakan sebuah tindakan yang bertujuan untuk menunjukkan, memperlihatkan, atau mendemonstrasikan sesuatu kepada orang lain dengan maksud mendapatkan pengakuan. 

Tindakan pamer acapkali menjadi cara seseorang menunjukkan eksistensi dirinya dalam kehidupan sosial. Pamer, dalam anggapan umum, kerap dihubungkan dengan sikap sombong ketika itu menyangkut kehidupan hedon. Indikatornya dimunculkan dalam bentuk pamer mobil baru, pakaian mahal, jalan-jalan, anak-anak yang tampan atau cantik, atau kesuksesan anak.

Pamer juga seringkali ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Menunjukkan gaya hidup sederhana di media sosial dengan tujuan mendapatkan pujian dari sesama termasuk juga dalam gaya hidup pamer. Sikap pamer itu juga dapat ditunjukkan dengan memberikan bantuan kepada seseorang lalu disebarkan melalui media sosial.

Pamer bisa saja ditampilkan dalam kebajikan semu, sebuah kebajikan yang dipertontonkan kepada orang lain dengan maksud menyombongkan diri. Pamer kebajikan seringkali juga digunakan penguasa atau wakil rakyat untuk mendapatkan simpati. Pamer jenis ini biasanya musiman. Setelah pesta usai kebajikan itu berakhir sampai masa pamer itu datang kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun