Mohon tunggu...
Moh. Ilyas
Moh. Ilyas Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Beriman, tapi Takut Tidak Makan

5 Mei 2017   23:05 Diperbarui: 6 Mei 2017   17:20 0 1 0 Mohon Tunggu...

AKHIR pekan lalu, saya bertandang ke kawasan Kedaung Kali Angke dan Wijaya Kusuma, Jakarta Barat. Di dua kawasan itu, saya bersilaturrahim dengan warga dan banyak berbincang mengenai Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, 19 April mendatang.

Ada yang menarik dari salah satu perbincangan itu. Secara tersirat seorang pria paruh baya mengungkapkan bahwa banyak orang memilih Ahok-Djarot di putaran pertama karena Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang digulirkan. Bagi mereka, KJP tak ubahnya seperti pintu mengais rezeki.

Mereka sangat khawatir jika nantinya KJP tidak ada, mereka kesulitan untuk makan. Pemandangan ini tak banyak beda dengan perdebatan seputar dukung-mendukung di media sosial, seperti facebook, twitter, dan wabil khusus WhatsApp yang tak jua lepas dari wilayah “perut”. Pun di dunia nyata, dukungan demi dukungan akan siap mengalir terhadap calon A misalnya, jika ada duit (baca: rezeki).

Tentu fenomena ini tak melulu dalam ranah politik, terutama dalam pemilihan seorang pemimpin seperti saat ini. Dalam keseharian kita, sangat mudah dijumpai sosok-sosok yang begitu berorientasi pada uang, sehingga tak lagi memikirkan proses bagaimana meraihnya: halal atau haram.

Mendengar keluh kesah itu, lalu saya dan kawan saya memberanikan diri bertanya: Siapa yang beri kita makan? Siapa yang kasih kita rezeki dan nikmat yang tiara tara? Siapa pula yang masih beri kita kesempatan untuk bernafas, kesehatan, dan kebugaran, sebuah nikmat ilahi, tapi banyak orang melupakannya di kala sehat? “Allah,” jawab mereka.

Saya merenung sejenak sembari bergumam, rupanya mereka tahu tentang siapa gerangan yang memberi kita rezeki. Belum lama merenung, saya segera sadar bahwa fenomena ini sesungguhnya sudah begitu lazim. Dari kuatnya anggapan itu, kita bahkan sudah menganggapnya tak ada yang aneh, dan wajar-wajar saja.

Namun ketika kita renungkan lebih mendalam, fenomena ini sebenarnya jauh dari kata lazim. Ini tidak wajar bagi kita, saudara kita yang mengaku beriman kepada Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang dalam hatinya mengaku punya nilai-nilai keimanan (the values of belief), tetapi masih ada kekhawatiran tidak makan?

Bagaimana mungkin kita takut miskin, takut tidak makan sedangkan kita adalah hamba Allah yang tidak hanya Maha Kaya (Al-Ghaniy), tetapi juga Maha Memberi Kekayaan (Al-Mughni)? Bagaimana mungkin kita takut tidak kebagian rezeki sedangkan kita hamba Allah yang bergelar Ar-Razzaq, Sang Pemberi Rezeki yang tak pernah putus? Bagaimana bisa kita merasa ditinggalkan Allah, sedangkan Dia adalah Ar-Rauf (Maha Pengasih) dan Al-Wahhab ( Maha Pemberi karunia kepada seluruh makhluk-Nya).

Pintu Rezeki

Jika Cak Nur dalam konteks iman menyebut “Pintu-Pintu Menuju Tuhan” yang disadur dari ayat yang artinya, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, melainkan masuklah dari berbagai pintu yang berbeda.” (Q.S.12:67), maka dalam konteks rezeki, juga banyak pintu yang bisa dilewati manusia. Tentu, pintu-pintu tersebut adalah pintu kebaikan yang jika dilakukan, tidak hanya meraih rezeki, tetapi juga mendapatkan penghargaan dari-Nya.

Dalam Al-Quran, pintu-pintu tersebut dibuka selebar-lebarnya, tinggal kita memilih masuk dari pintu bagian mana yang kita inginkan. Setidaknya delapan pintu disediakan Allah bagi kita, para pengais rezeki Allah, yaitu. Pertama, Pintu Jaminan. Ini mengacu pada ayat yang artinya: "Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya" (Q.S. 11:6). Kedua, Pintu Usaha. Ini sesuai firman Allah yang artinya: "Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya" (Q.S. 53:39)._

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2