KANG NASIR
KANG NASIR profesional

Orang kampung, tinggal di kampung, ingin seperti orang kota, Yakin bisa...!\r\n

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Bersyukur Memenangi Perkara

27 Juni 2017   11:31 Diperbarui: 27 Juni 2017   11:36 209 1 1
Bersyukur Memenangi Perkara
Merayakan Kemenangan, dokumen pribadi

Bersyukur, tepat dihari Lebaran (26/6) lalu, saya dapat memenangi perkara. Jujur saja, untuk memenangi perkara ini,sebagai lazimnya orang yang sedang berperkara, saya harus berjuang mati matian, semua tantangan syaitaniah baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, saya lawan dengan prinsip  lo jual gua beli.

Dorongan untuk melawan semua bentuk tantangan yang bisa melemahkan perjuangan itu, harus saya akui berkat karib saya yang bernama “Ihsan”, Ihsan inilah yang bisa menjaga saya, ihsan bersikap selalu mengawasi semua tindak tanduk saya selama berjuang, jika dalam perjuaangan itu, saya akan tergoda untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari aturan hukum, ihsan kemudian muncul dan memberi nasihat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan karena punya konsekwensi akan mengalahkan perkara yang sedang dihadapi.

Meraih sebuah kemenangan tentu saja sangat menggembirakan, sebagai bentuk ekspresi dari kemenangan itu, saya tidak malu malu untuk merayakannya bersama dengan keluarga. Anak dan cucu yang tinggal di Makassar dan Yogyakarta-pun, balik ke Cilegon hanya untuk bersama sama merayakan kemenangan itu, bahkan keluarga besar saya yang meliputi empat generasi berkumpul di rumah ayah saya yang sudah ber-usia 93 tahun, ikut larut merayakan kemenangan.

Empat Generasi merayakan Kemenangan, dokumen pribadi
Empat Generasi merayakan Kemenangan, dokumen pribadi

Kemenangan ini sungguh amat dahsyat, karena bukan  hanya keluarga yang ikut  merayakan  para tetangga, sahabat karib, handai tolan, ikut juga merayakan kemenangan, bahkan para sohib yang amat jauh yang hanya bisa dijangkau dengan dunia maya, turut mengucapkan selamat atas kemenangan ini, baik yang seiman maupun yang tidak seiman dengan saya.

Perjuangan untuk memenangi perkara ini memang tidak mudah  karena godaannya sangat luar biasa, makanya tak jarang diantara kaum saya, jika menghadapi perkara, suka pura pura berjuang, tetapi manakala ada kesempatan, secara sembunyi sembunyi ia melakukan perbuatan tak terpuji yang bisa merusak arti sebuah perjuangan yang sesungguhnya.

Sekali lagi saya bersyukur, saya dapat memenangi perkara dihari Raya Idhul Fitri, betapa tidak, selama sebulan penuh, saya berjuang mati-matian demi untuk memenangi perkara ini yakni perkara memerangi hawa nafsu, sebulan berpuasa dari makan dan minum, bahkan sebagai orang yang suka corat coret membuat tulisan, saya juga berpuasa untuk menulis hal hil hul yang bersinggungan dengan orang pribadi.

Idhul Fitri, adalah hari kemenangan, meski ada yang puasanya bolong bolong tersebab beberapa hal yang melingkupi kehidupan, tetap saja orang itu merasa menang (meskipun menang tidak sempurna), merayakan Idhul Fitri dengan riang gembira, bersilaturrahmi dan bercengkrama dengan sanak keluarga yang lama tidak bertemu karena jarak dan waktu.

Bercengkrama, dokumen Pribadi
Bercengkrama, dokumen Pribadi

Dihari yang fitri inilah semua orang bergembira, merayakannya dengan berbagai ekspresi berdasakan budaya yang berkembang dalam masyarakat, tetapi yang paling inti adalah, hari Idhul Fitri adalah hari dimana sesama ummat manusia bisa saling silaturrahmi dan saling mema’afkan sebagai konsekwensi logis dari ajaran Islam Hablun minannas.

Silaturrahmi bersama Walikota Cilegon DR.H.Tb.Iman Aryani (pake Jas)
Silaturrahmi bersama Walikota Cilegon DR.H.Tb.Iman Aryani (pake Jas)

Sebagai manusia, tentu tak luput dari salah meski hanya sebesar sebutir debu, tapi kalau tidak dibersihkan tetap saja akan mengganjalsperti sebutir debu yang masuk ke mata, untuk itu saya tak malu malu untuk minta maaf kepada seluruh Kompasianer jika dalam perjalanan Muhibbah di Kompasiana pernah menyinggung atau merasa tersakiti perasaannya oleh celotehan saya.

Selamat Idhul Fitri, Mohon Maaf Lahir Bathin.