KANG NASIR
KANG NASIR profesional

Orang kampung, tinggal di kampung, ingin seperti orang kota, Yakin bisa...!

Selanjutnya

Tutup

Politik

Cagub-Cawagub PDIP di Jabar, Sumut dan Jatim Antara Kejutan dan Terkejut

10 Januari 2018   00:28 Diperbarui: 11 Januari 2018   15:03 830 1 1
Cagub-Cawagub PDIP di Jabar, Sumut dan Jatim Antara Kejutan dan Terkejut
Saifullah Yusus dan Azwar Anas, Cagub/Cawagub PDIP untuk Jatim sebelum Azwar Anas mundur.dok. Anatara

Ada yang beda dari proses pencalonan dalam Pilkada serentak tahun 2018 ini. Coba lihat bagaimana cara partai politik mengumumkan jagonya untuk bertarung dalam  perebutan kekuasaan di daerah. Masing masing partai politik mengumumkan  sekaligus menyerahkan Surat Keputusan dalam satu acara yang dianggap sebagai ajang unjuk kekuatan.

Persoalan siapa siapa yang akan maju dalam pertarungan politik local di seluruh Indonesia, publik sudah banyak yang mengetahui melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik, bisa juga melalui media social yang setiap saat berseliweran dijagad dunia maya.

Dari sekian bakal calon yang diusung itu, ada tiga yang cukup menyedot perhatian publik yakni munculnya calon Gubernur/Wakil Gubernur (Cagub/Cawagub) yang diusung PDI-P untuk Pilkada Jabar dan Sumut  termasuk juga mundurnya Cawagub Jatim besutan PDI-P.

Untuk Cagub/Cawagub Jabar, PDI-P mengajukan pasangan calon dengan latar belakang TNI-Polri yakni Mayjen TNI (Purn) Tb. Hasanudin berpasangan dengan  Irjen Anton Charliyan. Adapun untuk Pilkada Sumut, PDI-P menyodorkan mantan Gubernur DKI (warisan Ahok) yakni Djarot Saiful Hidayat berpasangan dengan  Sihar Pangaribuan Sitorus.

Munculnya pasangan Tb.Hasanudin/Anton Charlian untuk Pilkada Jabar 2018 ini, bisa dianggap sebagai kejutan dari PDI-P setelah sekian lama halayak menunggu kemana arah politik PDI-P, apakah akan berlabuh dan bergabung/berkoalisi dengan partai yang sudah mengusung Calon seperti Ridwan Kamil atau Dedy Mizwar. Namun ternyata PDI-P mempunyai jalan sendiri, berjalan kesepian ditengah keramaian koalisi partai.

Atas keputusan itu, Tb. Hasanudin sendiri merasa optimis untuk menang, bahkan Hendrawan Supratikno, Ketua DPP PDI-P meyakini TB. Hasanuddin-Anton Charliyan mampu menarik para pemilih yang mayoritas dari muslim kuat kepada pasangan ini. Karena itu PDIP memandang nama TB. Hasanuddin dan Anton Charliyan tidak perlu dikhawatirkan berseberangan dengan kelompok-kelompok Islam.

Keyakinan untuk menang juga disampaikan Anton Charliyan yang mengklaim punya basis suara di Subang, Majalengka, Cirebon, dan Kuningan.

"Pokoknya man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh, Insya Allah akan memetik hasil," demikian kata Anton ketika memberikan keterangan kepada awak media.

Yang namanya keyakinan, sikap optimis tentu sesuatu yang wajib dipegang oleh siapapun dalam hal kontestasi, apalagi kontestasi politik. Namun perlu juga diingat bahwa Cawagub Anton Charliyan punya catatan tersendiri bagi sebagian ummat Islam di Jawa Barat terkait dengan peristiwa bentrokan massa FPI dengan salah satu ormas di Mapolda Jabar. Peristiwa bentrokan ini dianggap adanya pembiaran oleh aparat keamanan dimana saat itu Anton Charliyan  menjabat  Kapolda Jawa Barat.

Oleh karenanya, ada kemungkinan Anton Charliyan tidak akan mendapat respon yang baik dari sebagian  kalangan ummat Islam di Jawa Barat, bisa jadi dari sini kemungkinan nilai minus Cagub/Cawagub PDI-P akan dimulai.

Adapun dikirimya Djarot ke Pilkada Sumut, ini juga merupakan kejutan dari PDI-P. Bahasa Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri yang berharap Djarot diterima di Sumut karena disana banyak "Jawanya", merupakan sinyal keyakinan bahwa para urban yang berasal dari Jawa akan memilih Djarot yang juga berasal dari Jawa.

Bisa jadi, PDI-P pun berharap, disandingkannya Djarot dengan Sihar Pangaribuan Sitorus, bisa mendulang suara dari kalangan orang Batak (apapun marganya) dengan alasan Sihar Pangaribuan Sitorus merupakan representasi orang local (maaf tidak saya sebut pribumi), atau bisa jadi PDI-P akan memanfaatkan jaringan orang nomor satu di Indonesia yang belum lama ini bermantukan orang Batak.

Namun demikian, kehadiran Djarot di Sumut ini, entah disadari atau tidak, sebetulnya punya kelemahan juga. Djarot bagaimanapun oleh sebagian kalangan tidak bisa lepas dari bayang bayang Ahok ketika masih menjadi penguasa DKI yang kebetulan bermasalah dengan ummat Islam terkait dengan kasus Penistaan Agama.

Perlu diingat bahwa  Sumut secara cultural tidak bisa diatur dengan mudah, apalagi pada saat Ahok bermasalah di DKI, gerakan protes ummat Islam di Medan juga cukup kuat, bahkan ada juga yang rela bermalam malam di jalan untuk ikut bergabung dengan ummat Islam dalam gerakan protes di Jakarta. Bayang bayang inilah yang saya kira menjadi catatan miring untuk Djarot di Sumut, bisa jadi hal ini  menjadi pemicu awal enggannya sebagian pemilih muslim  untuk menjatuhkan pilihan kepada Djarot.

Yang terahir adalah kasus Jawa Timur, di wilayah Nahdiyin ini, justru PDI-P lah yang terkejut atau dikejutkan karena Cawagub yang diyakini bisa mendulang suara yakni Azwar Anas yang masih menjabat Bupati Banyuwangi dan berpasangan dengan Cagub Saifullah Yusuf secara tiba tiba mengundurkan diri, mengembalikan mandatnya ke PDI-P.

Lepas dari sas sis sus yang menimpa diri Azwar Anas, PDI-P merasa gundah bin gulana hingga membuat Sekjen PDI-P Hasto K tak kuat menahan emosinya, menangis saat memberikan keterangan kepada Wartawan. Petaka ditengah musim pancaroba Jatim ini, mau tidak mau membuat peta politik Jatim berubah dan membuat kelimpungan PDI-P untuk mencari tokoh sekelas Azwar Anas.

Ada kemungkinan Cagub/Cawagub yang satunya yakni Hofifah/Emil Dardak jadi tersenyum meskipun senyumannya tersembunyi layaknya senyuman politik. Senyuman politik Hofifah itulah yang dihawatirkan bisa memporak-porandakan mimpi Sifullah Yusuf.