Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dinasti Selalu Menghasilkan Koruptor?

17 Oktober 2021   15:29 Diperbarui: 17 Oktober 2021   15:31 93 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Ketika seorang bupati yang anak seorang gubernur (mantan) ditangkap KPK, banyak yang menganggap hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat wajar. Kok bisa sih korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa malah dianggap sebagai sesuatu yang biasa? 

Ternyata dikarenakan dinasti di negeri ini yang sudah bikin ngeri. Dinasti sudah merambah ke mana-mana. Bapaknya bupati, digantikan istrinya sebagai bupati karena sudah tak bisa nyalon lagi, anaknya dipersiapkan untuk menggantikan suatu saat si istri juga sudah dua periode. 

Bapaknya presiden, anaknya walikota, menantunya walikota. Bapaknya ketua umum partai, kemudian digantikan anak sulungnya, anak bontot nya juga kebagian. Emaknya ketua umum partai, anaknya ketua DPR, siap menjadi calon presiden. 

Lho, mereka yang sudah bekerja baik sampai jungkir balik akhirnya mentok. Bagaimana bisa menjadi calon walikota kalau saingannya anak presiden. Bagaimana bisa menjadi ketua umum Partai kalau partai sudah dikuasai keluarga besar? 

Kalau KPK menangkap berkali-kali anak gubernur atau anak bupati yang juga sedang menjabat gubernur atau bupati karena memang hampir semua lini dikuasai oleh keluarga besarnya. 

Bahkan ketua DPRD nya juga istri, keponakan, atau sepupu bupati atau gubernur. Maka, siapa lagi yang bisa mengkritisi pejabat yang keluarga besarnya sudah ada di mana-mana? 

Semoga kejadian di Muba menjadi kejadian terakhir. Dan tentunya, Dinasti di negeri harus segera diakhiri. Tanpa mengakhiri Dinasti maka harapan berakhirnya kerja KPK menangkapi koruptor akan semakin sering. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan