Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Antara Lagu dan Buku

10 Juli 2021   07:44 Diperbarui: 10 Juli 2021   07:47 62 16 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antara Lagu dan Buku
Dok. Pri.

Jangan biarkan cemas ada dalam kehidupan kita.  Karena cemas bisa merenggut apa yang kita punya. 

Kalau cuma takut, itu manusiawi. Tapi, cemas adalah musuh hidup bahagia. Jika kita ingin hidup bahagia, mau tak mau kita harus dapat mengelola kecemasan. 

Rasa cemas kadang datang begitu saja. Biasanya dikarenakan hal hal yang bersifat negatif. Seperti saat ini, ketika hampir setiap grup WA dipenuhi oleh kabar duka. Bahkan toa mesjid pun lebih dari sekali mengumumkan berita kematian. 

Cemas itu juga ketakutan. Akan tetapi, ketakutan dalam cemas memiliki objek yang tidak jelas. Contohnya, karena mendengar begitu banyak orang terkena covid, akhirnya kita cemas karena takut tertular. 

Prilaku orang yang cemas biasanya juga tidak rasional. Bisa jadi, karena kecemasan seseorang akhirnya tidak mau bergaul dengan orang lain. Menarik diri dari dunia. 

Hampir semua orang pernah merasakan kecemasan.  Akan tetapi, setiap orang memiliki ketahan yang berbeda-beda dalam menghadapi kecemasan. 

Saya sendiri, jika terhampiri kecemasan, kadang membaca buku atau mendengarkan musik sebagai obatnya. Tentu buku buku serius, bukan buku biasa. Dengan buku serius, saya benar benar terbebas dari bayang bayang yang membuat diriku cemas. 

Kadang ada cemas yang tak cocok ketika diobati dengan membaca buku. Kecemasan model ini, saya obati dengan mendengarkan musik. 

Kadang cukup dengan musik semisal ciptaan Eros Jarot. Lagu lagu kenangan waktu muda dulu. Tentu kenangan kita berbeda karena kita berbeda usia. Sesuaikan. 

Kadang mesti musik metal. Yang mengajak kita masuk penuh semangat.  

Begitulah caraku menyingkirkan kecemasan. 

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x