Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Menjaga Hati Nurani

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Bekerja dan Hobi yang Sejalan

26 Maret 2021   06:37 Diperbarui: 26 Maret 2021   06:49 107 27 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bekerja dan Hobi yang Sejalan
Pixabay.com

Paling enak itu kalau kerja sesuai hobi. Kalau kamu hobi masak terus kerja atau bikin resto sendiri. Kalau kamu suka ngegambar terus jadi tukang disain. Atau kamu yang suka nulis terus jadi wartawan. 

Hanya itu, tentu tidak. Tidak harus selurus garis lurus. Bisa juga sih kalau suka masak terus jadi guru tata boga. Bisa juga kalau suka gambar jadi guru SBK. Bisa juga kalau suka nulis jadi guru Bahasa Indonesia. 

Yang aneh justru ketika orang jadi guru bahasa Indonesia tapi tak bisa nulis. Aneh banget malah. Karena kalau jadi guru bahasa Indonesia kan harus ngajarin nulis ke anak anak. Apa yang diajarin ke anak anak kalau gurunya tak bisa nulis kecuali nulis kwitansi. 

Guru bahasa Indonesia ngoceh tentang teori menulis bertahun-tahun. Anak anak diajarin dengan cara plek kayak teori yang dipelajari waktu kuliah. Akhirnya, anak anak melongo doang. Gak jelas. Pake banget. 

Kebetulan saya hobi menulis sejak lama. Walaupun waktu itu masih bingung cara ngirim naskah. Terus keinginan itu tertumpah saat kuliah. Dapet teori. Tapi juga gak semua teori bagus juga. Lah wong dosen menulisnya saja gak pernah nulis. Akhirnya seperti guru bahasa Indonesia tadi. Ngomong ngalor ngidul tak jelas. 

Tapi beruntung karena ada dua dosen yang nulis mulu. Tulisan nya tersebar di banyak surat kabat. Ini dia yang gue pepet terus ilmunya. Sehingga banyak hal tentang penulisan saya dapat darinya. 

Beberapa teman memang sudah ada yang jago juga. Akhirnya, seakan ketemu mata air di saat kehausan. Tak boleh disia siakan. 

Teman yang hobi menulis memang tak ada satu pun yang menjadi guru. Mereka semua belok menjadi wartawan. Beberapa di televisi. Cuma saya sendiri yang setia menulis dan setia menjadi guru. Karena selain ngambil jurusan bahasa Indonesia juga kan kuliah di IKIP. 

Ada satu hal yang membuat saya tak tertarik menjadi wartawan tapi lebih memilih guru. Saya tak suka pergi pergi. Saya orang rumahan. Dan lebih menyukai rutinitas. Kreatif dalam rutinitas lebih menantang bagi saya. 

Karena guru menjadi jalan hidup maka sampai kini saya masih asik dengan anak anak yang hendak dewasa itu. Kalau di sekolah bersama anak anak itu seakan muda terus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN