Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Guru

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Menemukan Rocky Gerung

21 April 2019   16:10 Diperbarui: 21 April 2019   16:25 115 4 3

Pemilu kali ini, bukan pemilunya Jokowi atau Prabowo.   Mereka berdua sudah pernah berduel berdarah-darah di tahun 2014, bahkan Prabowo sudah lebih dulu, dengan mendampingi Megawati di tahun 2009,sehingga seluruh penghuni negeri ini sudah kenal luar dalam terhadap mereka berdua. 

Pemilu 2019 ini menemukan sosok baru yang cukup fenomenal.   Seorang yang tadinya tak dikenali.   Seseorang yang tadinya hanya bergaul di kalangan terbatas. 

Tiba-tiba, orang itu menyeruak dan mengalahkan semua pendekar yang sudah lebih dulu melanglang jagat perpolitikan.   Dia itu adalah Rocky Gerung. 

Saya sendiri mengenal nama dia cukup lama.   Walaupun hanya samar samar saat saya masih mahasiswa tingkat mula pada awal tahun 1990-an.

Lalu,  menemukan kembali sosok dia di Youtube ketika dia memberi materi di Megawati Istitut.   Pemikiran dia saya simak di youtube Megawati Istitut,  cukup lancar dan menarik.   Dan yang paling jelas,  dia independen.   Terlihat dari materi dan penjelasan nya. 

Dan di pemilu 2019 ini,  Rocky Gerung betul-betul fenomenal.   Karena dia ikut berdiri di keramairiuhan pemilu.   Hantaman yang dilakukan nya tidak tanggung tanggung.   Salah satu kandidat yang sekaligus presiden petahana. 

Pilihan kata dia benar benar vulgar.   Menohok langsung di jidat para pemuja Jokowi.   Sehingga perlawanan terhadap Rocky juga terasa cukup keras. 

Mengaku independen, tapi ketika sasaran kritik hanya ke sebelah, maka tafsir pun langsung mengarah kepada nya sebagai partisan

Kata kata dia bombastis.   Pasti tak bisa dipahami oleh orang orang kampung.   Anak-anak sekolah setingkat SMA saja masih gelagapan menentukan arah kata kata Gerung. 

Jika di kubu Jokowi diserang,  maka secara otomatis kubu Prabowo bertepuk tangan.   Seolah olah ada utusan dewa yang sengaja diturunkan untuk membantu perjuangan nya ke istana yang telah dua kali gagal. 

Rocky Gerung sendiri non-muslim.   Tapi,  pemujanya justru muslim-muslim yang selama ini mengidentifikasi dirinya sebagai representasi muslim beneran.   Rocky justru diberi panggung di sebuah perguruan tinggi Islam, bahkan ada video dia sedang bicara di sebuah masjid. 

Sesuatu yang langka.  Kenapa?  Karena, muslim muslim yang mengaku paling taat itu justru pada saat bersamaan mengutuk ketua PBNU yang sudah jelas organisasi kemasyarakatan berisi para ulama.   Bahkan Kyai Ma'ruf amin pun sering disindir sindir mereka. 

Rocky Gerung memang fenomena anomali.   Dengan semboyan akal sehatnya, dia telah mampu menyihir para pengikutnya dengan kata-kata. 

Ketika saya ke kampung yang non jauh dari politik pun, ternyata masih ada pemuja Rocky Gerung.   Berarti manusia yang satu ini betul-betul telah menjadi maskot pemilu 2019.

Agak aneh ketika tiba-tiba dia menghilang pasca pemungutan suara.   Tak ada lagi terlihat wajahnya di layar kaca. 

Mungkin kah memang fenomena sesaat?  Seperti kita jumpai pada para artis yang datang pergi setiap saat dari kehidupan kita? 

Mungkin juga.   Jadi, kangen Rocky Gerung juga ya?