Mohon tunggu...
M. Jojo Rahardjo
M. Jojo Rahardjo Mohon Tunggu... Maksimalkan fungsi otak hanya dalam hitungan hari.

Pakar neuroscience mendefinisikan positivity: "Sebuah kondisi di otak di mana otak bekerja maksimal, sehingga otak lebih cerdas, kreatif, inovatif, analitis, mampu memecahkan masalah, tahan terhadap tekanan dan mudah lepas dari depresi, fisik lebih segar, immune system membaik, dan lebih cenderung berbuat kebajikan". ______________________________________________________________________________ Tulisan M. Jojo Rahardjo tentang positivity atau positive psychology bisa dibaca juga di Facebook Fan Page "Membangun Positivity".

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jakarta Terancam Gempa Besar, Mitigasi Apa yang Sudah Digelar?

4 Agustus 2019   23:26 Diperbarui: 4 Agustus 2019   23:41 0 3 1 Mohon Tunggu...
Jakarta Terancam Gempa Besar, Mitigasi Apa yang Sudah Digelar?
Gambar: BPPT.go.id

Gempa 6,9 SR baru saja melanda Banten (2/08/2019) dan juga mengguncang Jakarta. Orang-orang berlarian keluar rumah atau gedung. Kegemparan sekali lagi terjadi setelah gempa-gempa lain yang sebelumnya terjadi.

Gempa itu sekali lagi menyegarkan ingatan kita tentang peringatan adanya potensi gempa & tsunami besar dari Sunda Megathrust yang disampaikan oleh para ahli geologi dan pegiat kebencanaan di Indonesia. Peringatan ini sudah muncul dalam beberapa tahun belakangan ini. Peringatan ini juga bahkan sudah dinyatakan oleh Kepala BMKG dalam beberapa kesempatan di beberapa tahun terakhir ini.

Gempa ini juga mengingatkan kita, pada perhitungan dan peringatan dari ahli geologi dan pegiat kebencanaan tentang adanya potensi gempa besar di Sulawesi Tengah yang sudah muncul sebelum gempa besar melanda Sulteng di akhir September 2018 lalu. Jejak peringatan itu tersebar di berbagai media (silahkan Googling). Sayangnya peringatan itu kurang direspon semestinya dalam kerangka mitigasi bencana atau Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Padahal program mitigasi bisa mengurangi risiko dan angka kerugian saat akhirnya bencana gempa terjadi.

Sulteng mengalami kerugian sekitar 20 triliun dan upaya membangunnya kembali butuh 40 triliun. Sungguh sebuah kerugian yang besar. Apakah kerugian ini bisa diminimalkan? Tentu bisa, karena misalnya UNDP & UN-Ocha memiliki strateginya (silahkan baca tulisan saya yang lain di sini: www.kompasiana.com)

Setelah wilayah Sulteng, kini wilayah Jawa Barat & Sumatera bagian Selatan yang harus bersiap untuk menghadapi potensi gempa besar. Bukan hanya gempa besar yang akan dihadapi 2 wilayah ini, tetapi juga tsunami besar.

Kapan gempa besar akan muncul dari Sunda Megathrust? Juga kapan gempa-gempa besar akan muncul dari megathrust lain yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia? Ilmu pengetahuan belum bisa membuat prediksi tentang waktunya secara akurat, bahkan ilmu pengetahuan tak bisa memprediksi tahunnya. Namun semua megathrust ini memiliki siklus berdasarkan temuan jejak gempa besar yang diteliti oleh ahli geologi.

Menurut catatan yang ditinggalkan Belanda gempa besar pernah mengguncang Batavia di tahun 1699. Guncangannya dirasakan juga di Banten hingga ke Lampung. Di saat bersamaan, gunung Salak di Bogor meletus hingga mengakibatkan longsor di beberapa bagian gunung dan mengganggu aliran sungai yang menjadi pasokan air bersih ke Batavia. Belanda mencatatnya setelah itu tak pernah terjadi lagi gempa sebesar itu.

Gempa & tsunami besar pasti akan menimpa Jakarta dan wilayah-wilayah yang disebutkan tadi. Semoga itu tidak terjadi dalam waktu dekat ini, karena kita belum siap menghadapinya. Kita belum melakukan mitigasi yang tepat. Jadi apa yang sudah kita lakukan atau siapkan untuk menghadapi gempa besar ini?

Apakah pemerintah sudah melakukan langkah yang tepat dalam soal mitigasi bencana gempa besar di Jakarta dan sekitarnya?

Dalam tulisan saya yang lain sebelumnya, gempa besar akan menghancurkan atau mengganggu setidaknya 4 poin penting di bawah ini. Empat poin itu pasti akan menjadi tantangan besar dalam proses penanggulangan bencana nantinya. Seperti terjadi di Sulteng pada September 2018 lalu, hancurnya 3 poin pertama di bawah ini akan menghalangi aliran bantuan atau sistem pasokan bantuan, seperti makanan & minuman, obat-obatan, kebutuhan anak & perempuan, tenda untuk korban dan bantuan lainnya.

Tentu dibutuhkan mitigasi yang tepat untuk menghadapi hancurnya 4 poin di bawah ini:
1. Sistem komunikasi,
2. Infrastruktur darat (jalan raya dan kereta api),
3. Ketersediaan dan pasokan energi listrik dan BBM,
4. Ratusan ribu rumah-rumah biasa yang bukan gedung tinggi (korban terbanyak ada di sini)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x