Mohon tunggu...
Jannu A. Bordineo
Jannu A. Bordineo Mohon Tunggu... Novelis

Jannu A. Bordineo. Lulusan teknik yang menggandrungi sastra. Mulai menulis cerita sejak ikut lomba mengarang cerpen sewaktu SD. Buku kesukaannya adalah Jiwa Pelaut karya Moerwanto. Temui dia di kedalaman hutan atau di keluasan lautan, karena dia pendamba ketenangan. http://www.lautankata.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Bapak dan Ibu Guru, Sudahkah Periksa Keaslian Tulisan Anak Didik Anda?

29 Agustus 2015   20:51 Diperbarui: 30 Agustus 2015   10:03 0 5 8 Mohon Tunggu...

Ilustrasi - plagiasi (Shutterstock)

Internet memang memudahkan segalanya, termasuk memudahkan berbuat kejahatan. Untuk anak sekolah, internet menyediakan pengetahuan sekaligus solusi atas tugas-tugas mereka. Sayangnya kemudahan ini tidak disertai bimbingan dari para pendidik.

Banyak anak sekolah yang mengutip dari internet tanpa mencantumkan sumber. Dan yang lebih parah, memplagiat / menjiplak / meng-copy/paste karya tulis orang lain yang banyak berserakan di internet.

Saya punya pengalaman yang tidak mengenakkan mengenai hal ini. Dua puisi saya yang saya publikasikan di blog pribadi saya diplagiat oleh anak sekolah yang kemungkinan digunakan untuk menyelesaikan tugasnya. Dua kasus ini saya ketahui karena kebetulan puisi jiplakan itu diunggah ke internet (satu oleh temannya dan satu oleh sang guru) sehingga bisa terlacak. Kemungkinan ada lebih banyak lagi tulisan saya yang diplagiat tetapi tidak terlacak karena keterbatasan dunia maya.

Berkaca dari kejadian tidak mengenakkan itu, muncul satu pertanyaan:

Apakah para pendidik (guru) tidak pernah memeriksa keaslian tulisan anak didiknya?

Dan dengan penuh keyakinan, saya jawab: tidak pernah.

Saya memang bukan guru, tetapi saya pernah menjadi murid / anak sekolah sehingga tahu. Dan kejadian yang menimpa saya menguatkan keyakinan saya.

Selama saya sekolah, jika ada tugas yang memerlukan referensi luar, tidak pernah guru-guru saya menanyakan sumber saya. Demikian pula untuk tugas membuat karya tulis (semacam cerpen, puisi, pantun dsb) tidak pernah juga diperiksa keasliannya. Saya akui, waktu itu dalam mengerjakan tugas untuk presentasi saya pun mengambil di internet (wikipedia) tanpa mencantumkan alamat situs. Hanya di tahun-tahun terakhir saya mencantumkan alamat situs, itu pun bukan karena kesadaran saya sudah terbangun, tetapi karena merasa lebih keren jika mencantumkan alamat sumber. Sementara untuk karya tulis fiksi / sastra, saya tidak pernah mengalami kesulitan dan selalu menulis sendiri berdasarkan hasil pikiran karena bidang itu memang saya gemari dan kuasai sejak SD.

Semua pembiaran ini menimbulkan potensi terjadinya pelanggaran hak cipta (plagiarisme). Apalagi sistem pendidikan kita tidak pernah menekankan kemampuan membaca dan menulis sehingga anak didik mengalami kesukaran yang memicu untuk copy / paste tulisan yang didapatnya di internet.

Ditambah lagi, tingginya sikap masa bodoh orang Indonesia semakin memperparah keadaan. Mungkin sebagian memang tidak tahu yang dilakukannya adalah sebuah kejahatan hak cipta--dan ini menjadi tanggung jawab para pendidik sebagai salah satu pembentuk karakter para penerus bangsa. Namun sebagian besar tidak mau tahu. Sebagai contoh: Blog saya sudah saya pasangi script anti-copy / paste (tidak bisa klik kanan, tidak bisa memblok tulisan) dan saya juga beri peringatan (baik itu di dalam postingan maupun di atas postingan) untuk tidak meng-copy tulisan di blog saya, tetapi itu semua tidak cukup untuk membuat plagiat-plagiat tak berakal mengurungkan niatnya.

Di internet, tulisan adalah konten yang paling rentan terhadap kejahatan intelektual. Musik, film masih bisa diketahui siapa penyanyinya, siapa pembuatnya. Namun tulisan, tanpa adanya kesadaran untuk memberi kredit kepada penciptanya maka jejak penciptanya akan terhapus hingga akhirnya terlupakan begitu saja. Lebih-lebih jika tulisan dibawa keluar dari dunia maya.

Maka pertanyaan yang sama saya lontarkan kembali kepada para guru (yang digugu dan ditiru), para pendidik:

Sudahkah bapak / ibu guru memeriksa keaslian tulisan anak didiknya?

Ataukah akan kita biarkan saja mental plagiat bangsa ini terus lestari?

 

 

Keterangan gambar:

Dari dua kasus plagiarisme terhadap tulisan saya yang pelakunya dari institusi pendidikan, satu di antaranya berakhir damai setelah saya ajukan protes ke sekolah yang bersangkutan. Sementara satu lagi, setelah saya ajukan protes melalui surel (yang alamatnya tidak jelas), mencoba menghubungi telepon sekolah yang tidak pernah tersambung, mengirim pesan ke akun facebook guru pengunggah tulisan plagiat, dan setelah semua iktikad baik saya tersebut, sampai saat ini saya tidak mendapat tanggapan sama sekali. Karena itu saya tidak akan menutupi identitas sekolah tersebut (saya berkomitmen untuk menutupi identitas sekolah yang satunya yang dengan baik menanggapi protes saya sehingga masalah selesai secara kekeluargaan).

Tautan tulisan/puisi plagiat yang ada di gambar bisa dilihat di sini. Di situ tertera nama sekolah. Puisi itu memplagiat puisi saya yang berjudul Indonesia Jaya versi baru (versi yang saya buat karena sebelumnya puisi ini juga pernah diplagiat oleh blogger lain). Karena versi baru yang diplagiat, seharusnya si plagiator melihat semua peringatan dan catatan kaki yang saya bubuhkan sebelum melakukan plagiat secara manual, kecuali jika dia mengabaikan semua dan memang meniatkan diri untuk melakukan kejahatan intelektual.

Sebenarnya banyak lagi yang memplagiat tulisan saya di ranah maya. Di blog, di media sosial, di forum dll. Bahkan ada yang memplagiat tulisan saya untuk diikutkan writing challenge. Untung saya tahu, lalu saya hubungi penyelenggara dan si plagitor yang langsung kabur tanpa sepatah kata pun.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x